{"id":115315,"date":"2015-06-03T15:43:23","date_gmt":"2015-06-03T08:43:23","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=115315"},"modified":"2015-06-03T15:44:10","modified_gmt":"2015-06-03T08:44:10","slug":"prinsip-prinsip-organisasi-berfokus-strategis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/06\/03\/prinsip-prinsip-organisasi-berfokus-strategis\/","title":{"rendered":"Prinsip-Prinsip Organisasi Berfokus Strategis"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Manage Your Business) &#8211;\u00a0 Menurut Kaplan ada beberapa prinsip yang harus dimiliki agar sebuah organisasi menjadi organisasi yang berfokus Strategis :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong> 1. Menerjemahkan strategi ke terminologi operasional.<\/strong><br \/>\nBalanced Scorecard membentuk nilai jangka panjang bagi organisasi. Merupakan resep dari penggabungan sumber daya internal dan kapabilitas dalam membentuk strategi organisasi melalui serangkaian nilai unik bagi pelanggan dan segmen sasaran.<br \/>\nPemahaman terhadap gambaran strategi menjadi dasar dalam pelaksanaan yang terstruktur.<br \/>\nPeta strategi menjadi dasar Balanced Scorecard dalam menyusun strategi yang baru.<br \/>\nUkuran-ukuran yang ada mampu menggambarkan hubungan sebab akibat dari aset tak terukur menjadi terukur. Balanced Scorecard menerjemahkan strategi ke dalam strukutr pelaksanaan yang dipahami seluruh unit dan karyawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>2. Organisasi sejalan dengan strategi.<\/strong><br \/>\nPerancangan organisasi bertujuan untuk mencapai sinergi. Timbulnya penghalang dalam implementasi strategi dimana banyak organisasi mengalami kesulitan komunikasi dan koordinasi antara fungsi-fungsi yang ada.<br \/>\nOrganisasi Berfokus Strategis memungkinkan menghindari penghalang yang timbul melalui perubahan struktur laporan formal menjadi tema strategi dan prioritas-prioritas yang digunakan di semua unit organisasi. Tema bersama dan sasaran yang terdapat dalam Balanced Scorecard membawa setiap unit bisnis dan unit bersama menjadi sejalan dengan strategi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong> 3. Menjadikan strategi sebagai urusan harian setiap orang.<\/strong><br \/>\nImplementasi strategi membutuhkan kontribusi aktif setiap anggota organisasi. Komunikasi yang timbul bukan bersifat arahan. Pemahaman seluruh karyawan terhadap strategi yang diterapkan dalam organisasi menjadi dasar implementasi strategi.<br \/>\nBalanced Scorecard digunakan oleh eksekutif untuk mengkomunikasikan strategi yang baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>4. Strategi sebagai proses yang berkelanjutan.<\/strong><br \/>\nMenyatukan pengelolaan taktik dan strategi ke dalam proses berkesinambungan dan berlapis. Pentingnya dilaksanakan peninjauan ulang dalam rapat manajemen. Pembelajaran dan penyesuaian strategi dikembangkan sebagai proses yang berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>5. Mobilisasi perubahan melalui kepemimpinan eksekutif.<\/strong><br \/>\nKondisi terpenting sebagai penentu keberhasilan organisaisi adalah rasa memiliki dan keterlibatan secara akitf dari tim eksekutif.<br \/>\nOrganisasi memerlukan perubahan yang sesungguhnya dari seluruh bagian organisasi dan kerja sama kelompok untuk mengkoordinasikan perubahan-perubahan yang terjadi. Kesuksesan program Balanced Scorecard dimulai dengan dipahaminya bukan sebagai proyek metrik namun sebagai proyek perubahan.<br \/>\nFokus ditujukan dalam kegiatan mobilisasi dan penciptaan momentum dalam memulai suatu proses.<br \/>\nEksekutif memandu proses transisi dalam menentukan, mendemonstrasikan dan memperkuat nilai-nilai budaya baru dalam organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Balanced Scorecard menyediakan kerangka kerja dalam memandang strategi yang dipakai untuk penciptaan nilai dari empat perspektif yang berbeda:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Keuangan. Strategi pertumbuhan, tingkat keuntungan, dan resiko dipandang dari sudut pandang shareholder.<br \/>\n2. Pelanggan. Strategi penciptaan nilai dan diferensiasi dari sudut pandang pelanggan.<br \/>\n3. Proses bisnis internal. Prioritas strategi dari bermacam proses bisnis dalam menciptakan kepuasan konsumen dan shareholder.<br \/>\n4. Pembelajaran dan pertumbuhan. Prioritas-prioritas dalam penciptaan iklim yang kondusif perubahan organisasi, inovasi, dan pertumbuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui Balanced Scorecard, eksekutif di tingkat korporat akan dapat mengukur bisnis unit yang dimilikinya dalam penciptaan nilai baik pada saat ini maupun pelanggan di masa yang akan datang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\" size-full wp-image-49231 alignleft\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\" alt=\"Fadjar Ari Dewanto\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a><em>Fadjar Dewanto\/VMN\/BL\/Managing Partner Business Advisory<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Manage Your Business) &#8211;\u00a0 Menurut Kaplan ada beberapa prinsip yang harus dimiliki agar sebuah organisasi menjadi organisasi yang berfokus Strategis : 1. Menerjemahkan strategi ke terminologi operasional. Balanced Scorecard membentuk nilai jangka panjang bagi organisasi. Merupakan resep dari penggabungan sumber daya internal dan kapabilitas dalam membentuk strategi organisasi melalui serangkaian nilai unik bagi pelanggan dan segmen sasaran. Pemahaman terhadap gambaran strategi menjadi dasar dalam pelaksanaan yang terstruktur. Peta strategi menjadi dasar Balanced Scorecard dalam menyusun strategi yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":110317,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,17,1051],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115315"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=115315"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115315\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":115319,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/115315\/revisions\/115319"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110317"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=115315"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=115315"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=115315"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}