{"id":1136,"date":"2013-02-25T06:58:28","date_gmt":"2013-02-24T23:58:28","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.vibiznews.com\/?p=1136"},"modified":"2014-03-08T11:03:23","modified_gmt":"2014-03-08T04:03:23","slug":"pendekatan-penyelesaian-konflik-2-lanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/02\/25\/pendekatan-penyelesaian-konflik-2-lanjutan\/","title":{"rendered":"Pendekatan Penyelesaian Konflik &#8211; 2 (lanjutan)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Pendekatan\/gaya yang digunakan dalam meyelesaikan konflik atau bernegosiasi haruslah sesuai dengan keadaan yang sedang dihadapi. Hal ini tergantung pada banyak variabel, antara lain pentingnya isu yang dibahas, kualitas hubungan dengan pihak lawan,waktu, dan lainnya. Berikut ini adalah pendekatan dalam menyelesaikan konflik, dan kapan waktu yang tepat maupun tidak tepat untuk menggunakannya.<\/p>\n<p><b>Competing<\/b><\/p>\n<p>sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2022 Terjadi situasi emergency<br \/>\n\u2022 Anda tidak yakin mengenai benar\/salahnya Anda lebih penting daripada menjaga hubungan saat ini<br \/>\n\u2022 Isu yang dibahas tidak penting dan orang lain juga tidak peduli<\/p>\n<p>tidak sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p>\u2022 Collaboration belum pernah diusahakan<br \/>\n\u2022 Kerjasama dari pihak lain dianggap penting<\/p>\n<p><b>Collaborating<\/b><\/p>\n<p>sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p>\u2022 Isu dan hubungan keduanya sama penting<br \/>\n\u2022 Kerjasama dianggap penting<br \/>\n\u2022 Hasil yang baik juga penting<\/p>\n<p>tidak sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p>\u2022 Waktu pendek<br \/>\n\u2022 Isu tidak penting<br \/>\n\u2022 Anda sudah overload di tengah proses<br \/>\n\u2022 Pihak lawan memiliki tujuan yang salah<\/p>\n<p><b>Compromising<\/b><\/p>\n<p>sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p>\u2022 Kerjasama penting, namun waktu dan sumber daya sedikit<br \/>\n\u2022 Lebih baik menemukan second best solution daripada deadlock<br \/>\n\u2022 Usaha untuk kolaborasi dapat disalahtanggapi sebagai usaha memaksa pihak lawan<\/p>\n<p>tidak sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p>\u2022 Menemukan solusi terbaik sangatlah penting<br \/>\n\u2022 Anda tidak menyukai konsekuensi dari hasilnya<\/p>\n<p><b>Avoiding<\/b><\/p>\n<p>sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p>\u2022 Isu yang dibahas tidak penting<br \/>\n\u2022 Kualitas hubungan antar pihak tidak penting<br \/>\n\u2022 Waktu pendek dan keputusan tidak dibutuhkan<br \/>\n\u2022 Power anda kecil namun ingin mengeblok pihak lawan<\/p>\n<p>tidak sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2022 Anda peduli mengenai kualitas hubungan dengan pihak lawan dan isu yang dibahas<br \/>\n\u2022 Dapat menghasilkan perasaan negatif<\/p>\n<p><b>Accomodating<\/b><\/p>\n<p>sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2022 Anda tidak peduli terhadap isu yang dibahas<br \/>\n\u2022 Power anda kurang dan tidak ingin mengeblok pihak lawan<\/p>\n<p>tidak sesuai digunakan ketika:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2022 Pihak lain ingin berkolaborasi dan akan merasa terpaksa jika hanya accommodate saja.<\/p>\n<p>(Rinella Putri\/AA\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Pendekatan\/gaya yang digunakan dalam meyelesaikan konflik atau bernegosiasi haruslah sesuai dengan keadaan yang sedang dihadapi. Hal ini tergantung pada banyak variabel, antara lain pentingnya isu yang dibahas, kualitas hubungan dengan pihak lawan,waktu, dan lainnya. Berikut ini adalah pendekatan dalam menyelesaikan konflik, dan kapan waktu yang tepat maupun tidak tepat untuk menggunakannya. Competing sesuai digunakan ketika: \u2022 Terjadi situasi emergency \u2022 Anda tidak yakin mengenai benar\/salahnya Anda lebih penting daripada menjaga hubungan saat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":2994,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1136"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1136"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1136\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27208,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1136\/revisions\/27208"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2994"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1136"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1136"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1136"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}