{"id":107368,"date":"2015-04-16T20:34:33","date_gmt":"2015-04-16T13:34:33","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=107368"},"modified":"2015-04-16T20:34:33","modified_gmt":"2015-04-16T13:34:33","slug":"teknologi-pengolahan-air-minum-pasca-bencana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/04\/16\/teknologi-pengolahan-air-minum-pasca-bencana\/","title":{"rendered":"Teknologi Pengolahan Air Minum Pasca Bencana"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-1.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-107369\" alt=\"Saring Air 1\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-1.jpg\" width=\"1200\" height=\"510\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-1.jpg 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-1-300x127.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-1-1024x435.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Ideas)\u00a0INDONESIA merupakan daerah rawan bencana, baik gempa bumi, kebakaran hutan, banjir, kekeringan,\u00a0dan sebagainya. Pascabencana, salah satu hal yang paling krusial adalah kebutuhan air bersih bagi para\u00a0korban bencana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain masalah bencana, pasokan air bersih atau air yang dikonsumsi dari PDAM atau lainnya selalu kurang.\u00a0Kadang kala air yang masuk ke rumah-rumah pelanggan air PDAM kurang atau tidak keluar sama\u00a0sekali. Kualitasnya juga sering dikeluhkan pelanggan. Sumber air PDAM selama ini menggunakan air\u00a0sungai atau air permukaan. Dalam kurun waktu 50 tahun air sungai di Indonesia semakin keruh, karena\u00a0beban sungai sangat tinggi sehingga memengaruhi kualitas air. Terlebih semakin padat penduduk di\u00a0sekitar sungai. Saat ini Indonesia berpenduduk kurang lebih 250 juta jiwa. Kebutuhan pasokan air bersih\/\u00a0air minum terus meningkat. Sistem pelayanan air bersih melalui PDAM selama ini belum maksimal,\u00a0karena masih terkendala masalah kemampuan pengolahan air yang ada, akibat semakin memburuknya\u00a0sumber air baku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai ilustrasi, apabila ada 1.000 pelanggan sambungan air bersih atau air minum, yang terlayani\u00a0dan mengalir hanya 5.00 pelanggan, dikarenakan pasokan air terbatas, akibat kemampuan pengolahan\u00a0airnya baik dari kuantitas maupun kualitas, sehingga para pelanggan harus rela bergiliran untuk\u00a0mendapatkan jatah air. Di sisi lain Pemerintah Indonesia telah menandatangani kesepakatan Millenium\u00a0Development Goal\u2019s (MDGs) 2015 pada 2004 lalu oleh presiden. Dalam kesepakatan MDG\u2019s tersebut,<br \/>\npemerintah menargetkan untuk pelayanan air bersih\/air minum pada 2015 untuk perkotaan mencapai\u00a080% dan perdesaan 50%, dari target cakupan pelayanan air minum\/ air bersih sebesar 68.87%, dari\u00a0seluruh jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 (BPS 248 Juta Jiwa). Dengan prediksi 54% (134\u00a0Juta jiwa) tinggal di perkotaan, dan 46% (114 Juta Jiwa) di perdesaan, dengan tingkat kebocoran air\u00a020%, dan konsumsi air bersih rata rata untuk perkotaan 120 liter\/hari\/Jiwa (BNA), kebutuhan air bersih\u00a0perkotaan 178.000 liter\/detik, konsumsi air bersih untuk perdesaan 60 liter\/hari\/Jiwa, kebutuhan air\u00a0perdesaan 47.000 liter\/detik, dan 20% kebutuhan air bersih non domestic, maka kebutuhan total Target\u00a0MDG\u2019s 2015 adalah 271.000 liter\/detik. Sementara progres system air bersih\/ air minum yang sudah\u00a0terbangun sampai 2013 adalah 168.337 liter\/detik.\u201dSeharusnya\u00a0pada 2015 sudah mencapai 250 ribu liter\/detik. Artinya\u00a0MDG\u2019s 2015 belum bisa tercapai,\u201d kata Prof. Ir. Suprihanto\u00a0Notodarmojo, PhD. dan Dr. Ir. Rusnandi Garsadi, MSc. inovator\u00a0alat pengolah air bersih\/ air minum Micro hydraulic ini\u00a0dari LAPI Indowater ITB.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-107371\" alt=\"Saring Air 2\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-2.jpg\" width=\"1283\" height=\"599\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-2.jpg 1283w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-2-300x140.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Saring-Air-2-1024x478.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1283px) 100vw, 1283px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara ilmu pengetahuan, proses pengolahan air secara\u00a0penggumpalan, bila menggunakan Jar Test, maka waktu\u00a0yang dibutuhkan untuk memproduksi air jernih diperlukan\u00a0antara 8 \u2013 10 menit. Sedangkan waktu proses pada instalasi\u00a0pengolahan melalui proses coagulasi &amp; flocculasi, berdasarkan\u00a0text book, rancangan yng terpasang waktu flocculasi\u00a0antara 20 \u2013 50 menit. Perbedaan ini mendorong peneliti\u00a0melakukan penelitian secara model matematis , model laboratorium\u00a0dan validasinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Atas dasar-dasar itulah Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo,\u00a0PhD, bersama Dr. Ir. Rusnandi Garsadi, MSc. dan Prof. Dr. Ir. Indratmo Soekarno, MSc., menciptakan teknologi\u00a0pengolahan air bersih \/air minum Micro Hydraulic, yang bisa dipakai dalam berbagai kondisi. Terutama\u00a0kecenderungan kondisi air baku di Indonesia pada umumnya semakin kotor, keruh dan terbatas.\u00a0Lahirnya metode proses pengolahan dan alat pengolahan air minum\/air bersih ini berawal, banyaknya\u00a0pengolahan air di Indonesia yang saat uji coba pengolahan sangat sulit mendapatkan hasil optimum.\u00a0Kapasitas dan kualitas hasil pengolahan tidak sesuai dengan perencanaam sehingga sering kali terjadi\u00a0kekurangan produksi ari di PDAM. Kondisi di lapangan seperti itu menggugah Rusnandi mlakukan riset\u00a0pengolahan air bersih\/ air minum, untuk kondisi air pada daerah tropis dan sub tropis di ITB dan di Technische\u00a0Universiteit Delft, Belanda. Terlebih Rusnandi juga menjadi peneliti dan supervisor di Pascasarjana\u00a0Departement of Water Management, Technical University Delft.\u00a0Dari situlah muncul inovasi mekanisme proses pengolahan air minum atau air bersih, dengan nama Micro\u00a0Hydraulic, yang cukup cepat prosesnya, sangat hemat penggunaan bahan penjernih atau coagulant dan hemat\u00a0penggunaan energi listriknya. Mekanisme proses pengolahan air minum atau air bersih micro hydraulic\u00a0ini , tidak tergantung pada bentuk unit pengolahan, bahan material yang di gunakan, maupun besaran kapasitas\u00a0pengolahannya serta dapat mengolah beragam jenis air dengan tambahan komponen pengolahan.\u00a0Mulai dari air sangat keruh, air berwarna atau gambut, air danau , air saluran kanal, dan air payau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada dua jenis utama dalam pemanfaatan teknologi pengolahan air minum atau air bersih bersih ini, yaitu sistem pengolahan air minum atau air bersih yang dapat dipindah- pindahkan dengan mudah atau <em>mobile water treatment<\/em>. Prototipe dan produk massalnya sudah banyak dipakai dan dimanfaatkan oleh\u00a0Kementrian PU, TNI AD , swasta, dan lainnya, untuk pengadaan air minum.\u00a0Jenis lainnya ialah pengolahan air minum atau air bersih permanen, layaknya pengolahan air bersih atau\u00a0air minum PDAM atau industri. Dengan kapasitas kecil sampai 1.000 liter \/detik atau lebih. Pengolahan\u00a0air yang dapat dipindah-pindahkan berupa pengolahan air bersih yang dibangun di atas truk berkapasitas\u00a08 ton atau lebih. Salah satu produk pengolahan air tersebut dipasang di atas truk, dengan kemampuan\u00a0produksi air minum\/air bersih 500.000 liter\/hari. Prototipe pengolahan air yang bisa dipindah-pindahkan\u00a0ini hanya memerlukan energi listrik 1000 watt. Cara kerjanya, energi listrik digunakan untuk memompa\u00a0air baku keruh ke atas bak truk. Selanjutnya air diproses secara aliran gravitasi. Alat pengolahan air yang\u00a0berpindah-pindah ini bisa memproduksi air minum 500.000 liter\/hari.\u00a0Seluruh konstruksi utama baik unit proses maupun penunjangnya dibuat dari material antikarat sehingga\u00a0meminimalkan pemeliharaan. Proses mekanisme pengolahan air minum micro hydraulic, mulai\u00a0dari sungai hingga menjadi air bersih atau air minum di rumah tangga, melalui empat tahap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahap\u00a0pertama bagaimana menghilangkan patogen atau zat-zat lainnya yang menjadikan air baku tersebut\u00a0keruh atau berwarna. Dengan pembubuhan bahan koagulant berupa tawas atau pac pada aliran air yang\u00a0di ataur secara micro hydraulic, agar terjadi penggumpalan kotoran lumpur atau koloid yang sekaligus\u00a0dapat menyapu beberapa polutan lainnya, setelah melalui beberapa proses. Yaitu pengendapan lumpur\u00a0lebih sempurna dan cepat, air yang bening di bagian atas bak pengendap mengalir secara gravitasi\u00a0melalui saringan pasir. Proses selanjutnya adalah penyerapan melalui media penyerap polutan yang\u00a0terlarut yang berbahaya untuk kesehatan. Pada sistem penyerapan ini, masih ada sisa sumber penyakit\u00a0yang masih larut di dalam air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahap akhir air yang jernih ini masih diberi disinfektan untuk membunuh bibit penyakit, dengan\u00a0menggunakan kaporit atau penyinaran ultra violet atau ozone, sehingga air yang dihasilkan benar-benar\u00a0layak diminum. Seluruh prosesnya tidak menggunakan listrik.\u00a0Dari hitungan ekonomi, sistem pengolahan air minum ini untuk satu pengolahan air minum mobile, bisa\u00a0memproduksi 500.000 liter per hari, dengan energi listrik 1000 watt. \u201cBiaya produksinya cuma Rp 0,2 per\u00a0liter dalam kondisi darurat air,\u201d kata Suprihanto.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Riset yang dimulai pada 2001 ini telah digunakan di banyak tempat, termasuk peristiwa bencana gempa\u00a0dan tsunami di Aceh (2004), banjir Jakarta (2007 dan 2013), serta banjir di Kabupaten Bandung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan mekanisme pengolahan air\u00a0seperti yang dilakukan Rusnandi, dalam\u00a0hitungan matematika mampu\u00a0mempercepat dan meningkatkan pelayanan\u00a0air minum di Indonesia sebesar\u00a030%-50% dari kapasitas produksi\u00a0air minum existing, yang saat ini kurang<br \/>\nlebih 120.000 liter\/detik. Jumlah\u00a0itu bisa ditingkatkan melalui upgrading\u00a0atau modifikasi mekanisme hydraulic,\u00a0sehingga kapasitasnya bisa mencapai\u00a0150.000-180.000 liter\/detik. , \u201cAtau\u00a0setara menambah pelayanan air bagi\u00a018-36 juta jiwa, tanpa perlu membangun\u00a0pengolahan air baru. Dengan biaya\u00a0investasi sangat rendah dibanding\u00a0membangun baru. Sehingga target\u00a0MDGs di sektor pelayanan air minum\u00a0dapat terbantu dengan cepat,\u201d ujar\u00a0Rusnandi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inovator:<br \/>\nProf. Ir. Suprihanto Notodarmojo,<br \/>\nPhD, Dr. Ir. Rusnandi Garsadi,MSc,<br \/>\nProf. Dr. Indratmo Soekarno MSc-<br \/>\nLAPI Indowater ITB<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber: Sumber Inspirasi Indonesia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Ideas)\u00a0INDONESIA merupakan daerah rawan bencana, baik gempa bumi, kebakaran hutan, banjir, kekeringan,\u00a0dan sebagainya. Pascabencana, salah satu hal yang paling krusial adalah kebutuhan air bersih bagi para\u00a0korban bencana. Selain masalah bencana, pasokan air bersih atau air yang dikonsumsi dari PDAM atau lainnya selalu kurang.\u00a0Kadang kala air yang masuk ke rumah-rumah pelanggan air PDAM kurang atau tidak keluar sama\u00a0sekali. Kualitasnya juga sering dikeluhkan pelanggan. Sumber air PDAM selama ini menggunakan air\u00a0sungai atau air permukaan. Dalam kurun waktu 50 tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":107373,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,5725],"tags":[6259],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107368"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107368"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107368\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":107376,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107368\/revisions\/107376"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/107373"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}