{"id":1069,"date":"2009-12-01T17:00:50","date_gmt":"2009-12-01T10:00:50","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.vibiznews.com\/?p=1069"},"modified":"2014-03-08T11:05:28","modified_gmt":"2014-03-08T04:05:28","slug":"mengatasi-risiko-likuiditas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2009\/12\/01\/mengatasi-risiko-likuiditas\/","title":{"rendered":"Mengatasi Risiko Likuiditas"},"content":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge, Risk Management) \u2013 Risiko likuiditas adalah salah satu risiko yang paling umum terjadi. Secara garis besar, risiko likuiditas bisa terjadi karena dua sebab, yakni 1) aset tidak dapat dijual karena kurang likuid di pasar dan 2) risiko likuiditas dari utang, yakni tidak dapat melunasi utang, atau tidak dapat memperoleh utang dengan biaya rendah. Risiko likuiditas ini berpotensi mengakibatkan kondisi keuangan menjadi goyah.<\/p>\n<p>Penting bagi Anda untuk mengidentifikasi kelemahan dalam likuiditas, karena:<br \/>\n\u2022 membantu Anda dalam mengelola asset dalam kondisi keuangan yang sulit sekalipun<br \/>\n\u2022 memastikan bahwa Anda punya portfolio asset dan investasi yang terdiversifikasi dan dapat menutup banyak scenario risiko<\/p>\n<p>Di sisi lain, terdapat juga kelemahan didalamnya, yakni:<br \/>\n\u2022 usaha dalam mengidentifikasi kelemahan dalam likuiditas mungkin akan menjadi makan waktu dan terasa kurang penting dalam kondisi keuangan baik<br \/>\n\u2022 membutuhkan anggaran untuk menciptakan dan menjalankan proses dalam manajemen likuiditas<\/p>\n<p>Berikut ini adalah sejumlah langkah-langkah yang dapat diambil untuk melakukan manajemen risiko likuiditas:<\/p>\n<p><b>Liquidity gap analysis<\/b><br \/>\nMelakukan analisa dan proyeksi terhadap arus kas, sehingga kemudian akan menghasilkan `liquidity gap` yang terjadi antara ketidaksesuaian antara inflow dan outflow di masa depan. Dengan melakukan analisa ini, maka perusahaan akan dapat mengetahui kebutuhan likuiditas yang berpotensi terjadi di masa depan.<\/p>\n<p><b>Contingency funding plan,<\/b> yang meliputi antara lain:<br \/>\n\u2022 framework manajemen dan pelaporan yang memadai, dimana tindakan diambil ketika sudah ada indikasi negatif, dan menghindari\/memitigasi krisis secara tepat.<br \/>\n\u2022 melakukan dokumentasi terhadap rencana manajemen, misalnya alternatif sumber likuiditas<br \/>\n\u2022 mengevaluasi seluruh skenario yang bisa terjadi<br \/>\n\u2022 merancang rencana komunikasi, baik internal maupun eksternal<br \/>\n\u2022 sumber likuiditas reguler dilengkapi pula dengan sumber contingent<br \/>\n\u2022 direksi menyetujui, dan manajemen terlibat<\/p>\n<p><b>Pendekatan liquidity stress-testing<\/b><br \/>\nPendekatan ini pertama-tama melakukan identifikasi terhadap apa saja yang menjadi risk driver. Selanjutnya, prediksikan skenario-skenario buruk yang mungkin terjadi, dan mengukur dampaknya terhadap likuiditas, baik outflow maupun inflow. Dengan demikian, maka kita akan mengetahui bagaimana posisi likuiditas dalam tiap skenario.<\/p>\n<p><b>Melakukan liquidity risk bearing analysis<\/b><br \/>\nLiquidity risk bearing analysis adalah analisa yang membantu organisasi untuk menentukan kapasitas keuangannya dalam menerima berbagai level risiko likuiditas. Analisa ini mengevaluasi manfaat dan biaya dari berbagai langkah mulai dari mempertahankan risiko likuiditas hingga melakukan transfer risiko.<\/p>\n<p><b>Menerapkan Sistem Limit <\/b><br \/>\nSistem limit digunakan untuk mengelola likuiditas, supaya cadangan likuiditas dalam jumlah tertentu tidak bisa digunakan. Sistem ini digunakan untuk mengelola supaya kebutuhan likuiditas tidak melampaui cadangan likuiditas yang ada pada suatu waktu.<\/p>\n<p><b>Diversifikasi Pendanaan<\/b><br \/>\nPendanaan tidak hanya dari satu sumber saja, melainkan diversifikasi ke sumber-sumber pendanaan lainnya. Jadi, ketika satu sumber mengalami kekeringan likuiditas, masih ada sumber lainnya.<\/p>\n<p><b>Liquidity Policy<\/b><br \/>\nImplementasikan kebijakan likuiditas yang mengidentifikasi metode, proses dan tanggung jawab.<\/p>\n<p><b>Do\u2019s &amp; Dont\u2019s<\/b><br \/>\n<b>Do<\/b><br \/>\n\u2022 analisa kondisi likuiditas Anda<br \/>\n\u2022 diversifikasi pendanaan<br \/>\n\u2022 lakukan pelaporan likuiditas secara rutin<br \/>\n\u2022 pertimbangkan rencana untuk contingency fund<br \/>\n\u2022 pastikan sistem pelaporan Anda akurat, informative, komprehensif dan realistis<\/p>\n<p><b>Don\u2019t<\/b><br \/>\n\u2022 jangan pegang banyak asset yang tidak likuid<br \/>\n\u2022 jangan terlalu banyak memegang kas juga (kurang optimal)<br \/>\n\u2022 jangan mengabaikan likuiditas meskipun kondisi keuangan sedang bagus.<\/p>\n<p>pic.:bionicturtle.com<\/p>\n<p>(Rinella Putri\/TA\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge, Risk Management) \u2013 Risiko likuiditas adalah salah satu risiko yang paling umum terjadi. Secara garis besar, risiko likuiditas bisa terjadi karena dua sebab, yakni 1) aset tidak dapat dijual karena kurang likuid di pasar dan 2) risiko likuiditas dari utang, yakni tidak dapat melunasi utang, atau tidak dapat memperoleh utang dengan biaya rendah. Risiko likuiditas ini berpotensi mengakibatkan kondisi keuangan menjadi goyah. Penting bagi Anda untuk mengidentifikasi kelemahan dalam likuiditas, karena: \u2022 membantu Anda dalam mengelola asset [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":1070,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[7937],"tags":[157],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1069"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1069"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1069\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27931,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1069\/revisions\/27931"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1070"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1069"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1069"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1069"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}