{"id":106146,"date":"2015-04-10T11:40:01","date_gmt":"2015-04-10T04:40:01","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=106146"},"modified":"2015-04-10T11:40:01","modified_gmt":"2015-04-10T04:40:01","slug":"aplikasi-floating-car-data-karya-anak-bangsa-informasikan-kemacetan-jalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/04\/10\/aplikasi-floating-car-data-karya-anak-bangsa-informasikan-kemacetan-jalan\/","title":{"rendered":"Aplikasi Floating Car Data &#8211; Karya Anak Bangsa, Informasikan Kemacetan Jalan"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Pendeteksi-Macet-2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-106147\" alt=\"Pendeteksi Macet 2\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Pendeteksi-Macet-2.jpg\" width=\"1200\" height=\"510\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Pendeteksi-Macet-2.jpg 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Pendeteksi-Macet-2-300x127.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Pendeteksi-Macet-2-1024x435.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Ideas)\u00a0MACET menjadi santapan sehari-hari warga di kota-kota besar di Indonesia. Terlebih di Jakarta, penumpukan\u00a0kendaraan di jalan tol maupun non tol menjadi pemandangan sehari-hari.\u00a0Banyak cara yang telah dilakukan baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta\u00a0untuk mengurai kemacetan. Selain menerapkan sistem 3 in 1, memperbanyak transportasi publik hingga\u00a0usulan pemakaian kendaraan berbasis plat nomor ganjil genap.\u00a0Namun beragam pola atau sistem untuk mengurangi kemacetan belum maksimal hasilnya. Inovasi lainnya\u00a0yang dikembangkan untuk mengurai kemacetan dengan pemodelan floating car data. Adalah Dr.\u00a0Eng Fergyanto E Gunawan, dosen Magister untuk Sistem Informasi Universitas Bina Nusantara Jakarta\u00a0bersama timnya mengembangkan teknik floating car data.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dijelaskan Fergyanto, dalam sistem transportasi terdapat dua hal yakni <em>supply<\/em> dan <em>demand<\/em>. <em>Supply<\/em> adalah\u00a0kendaraan, sedangkan <em>demand<\/em> adalah penumpang. Kedua hal itu bisa harmonis apabila kedua sisi\u00a0bisa bertemu. Caranya adalah memantau kendaraaan dengan penumpang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Riset yang dilakukan Fergyanto ini selain untuk kendaraan pribadi juga transportasi publik yakni bus\u00a0Trans Jakarta. Dijelaskan Fergyanto, seringkali sebuah ruas jalan raya mendadak macet sekali walaupun\u00a0tidak ada penyebab kemacetan. Sementara di ruas jalan lainnya sangat lancar. Demikian juga pada\u00a0Trans Jakarta, terjadi penumpukan penumpang di koridor-koridor, namun jumlah bus yang datang untuk\u00a0menjemput para penumpang tidak kunjung datang. \u201cUntuk mencegahnya bisa dilakukan dengan monitoring<br \/>\njumlah kendaraan dan penumpang. Caranya dengan sebuah sistem informasi yang bisa dibagikan\u00a0ke publik melalui aplikasi pada telepon seluler,\u201d kata Fergyanto. Informasi tersebut memuat status lalu\u00a0lintas yang dilintasi para pemakai kendaraan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Riset yang dimulai 2012 dengan dana dari Dirjen Dikti Kemendikbud, mengupas bagaimana solusi memecah\u00a0kemacetan, dengan sistem aplikasi informasi status jalan melalui ponsel. Ia pun melibatkan\u00a0dua mahasiswanya yang saat ini sedang menyelesaikan studi S2 dan S1. \u201cIde awalnya saya bersama\u00a0tim merancang bagaimana caranya memonitor kondisi jalan, kecepatan kendaraan, jumlah kendaraan\u00a0yang melintas, dan sebagainya. Selama ini informasi kemacetan belum maksimal diketahui banyak pihak,\u201d\u00a0ujarnya. Laporan kemacetan yang disiarkan lewat radio maupun di situs-situs internet pun belum\u00a0sepenuhnya mencakup seluruh wilayah. \u201cSelama ini laporan kemacetan yang masuk hanya sebatas dimana\u00a0pelapor itu berada. Berapa kecepatannya, tingkat kerapatan kendaraan tidak dijelaskan.\u201d Tidak semua orang bisa mengikuti perkembangan kemacetan di sebuah wilayah, dikarenakan informasinya\u00a0terbatas. Sedangkan di Jakarta, alat pendeteksi kemacetan yang kemudian diinformasikan\u00a0melalui sejumlah informasi yang dikeluarkan Polda Metro Jaya ataupun PT Jasa Marga dengan menggunakan\u00a0loop detector. Alat tersebut dipasang di bawah aspal jalan, namun dengan jangkauan terbatas.\u00a0Untuk pemasangan satu titik loop detector cukup mahal. Loop detector ini akan memberikan informasi\u00a0kepadatan jalan di ruas-ruas tertentu. Pada umumnya para pengendara yang melintas di ruas jalan tol\u00a0akan mendapatkan informasi ruas jalan tol tertentu lancar atau padat dengan menyebutkan kecepataan\u00a0kendaraan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fergyanto bersama timnya pun akhirnya mencoba memberikan solusi dengan memberikan informasi\u00a0kemacetan yang bisa diketahui secara global, cepat, dan akurat. Caranya dengan menggunakan aplikasi\u00a0teknologi informasi. \u201cSaat ini banyak pengguna ponsel berbasis internet nirkabel dengan beragam\u00a0aplikasi dan dilengkapi GPS. Jumlah pemakai ponsel pintar ini cukup banyak. Maka kami akan menggunakan\u00a0apa yang sudah dipunyai masyarakat tersebut, untuk menginformasikan kemacetan di ruas jalan<br \/>\nJakarta. Termasuk pula kondisi di halte-halte bus Trans Jakarta ,\u201d terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/deteksi-kemacetan.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-106149\" alt=\"deteksi kemacetan\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/deteksi-kemacetan.jpg\" width=\"536\" height=\"447\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/deteksi-kemacetan.jpg 536w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/deteksi-kemacetan-300x250.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 536px) 100vw, 536px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Riset yang dimulai 2012 itu hanya menggunakan peranti berupa web server, kendaraan mata-mata, dan\u00a0sebuah aplikasi yang bisa diunduh di setiap ponsel yang menggunakan sistem operasional Android. Cara\u00a0kerjanya aplikasi yang dibuat tersebut berisi tentang peta lokasi jalan dan kecepatan kendaraan yang\u00a0melintas di jalan tersebut. Setiap orang bisa mengunduh aplikasi tersebut, kemudian mulai menjalankan\u00a0aplikasi. Untuk bisa memancing masyarakat bereaksi dalam aplikasi tersebut dibutuhkan kendaraan<br \/>\nmata-mata. Kendaraan yang dilengkapi GPS ini akan melintasi di jalan-jalan yang berpotensi macet. Uji\u00a0coba yang dilakukan tim Fergyanto ini di tol dalam kota Jakarta. Satu mobil dilengkapi 10 mobile sensor\u00a0melintas sebanyak lima sampai enam kali selama dua sampai tiga jam di ruas tol dalam kota. Kendaraan\u00a0yang melintas di tol akan memberikan informasi dengan mengisi aplikasi tentang ruas jalan yang\u00a0dilalui dan kecepatan kendaraan. Kemudian saat\u00a0informasi itu dikirim, maka di dalam web server\u00a0langsung mengolahnya dan diunduh ke aplikasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam aplikasi akan memunculkan informasi kecepatan\u00a0kendaraan di ruas tol dalam kota pada\u00a0tanggal dan jam tertentu. Informasi ini akan cepat\u00a0masuk ke dalam aplikasi di setiap ponsel yang dimiliki\u00a0masyarakat. Para pengendara mobil yang\u00a0akan masuk ke tol dalam kota akan mempertimbangkan\u00a0apakah ingin terjebak kemacetan atau\u00a0sebaliknya.\u00a0Kemudian dalam tampilan peta GPS, akan muncul\u00a0warna-warna khusus di ruas tol yang dilewati\u00a0kendaraan mata-mata ini. Apabila warna hijau\u00a0muncul di jalur tol itu maka kondisi jalanan lengang.\u00a0Sebaliknya warna merah menunjukkan kemacetan\u00a0sangat parah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aplikasi ini lebih sederhana daripada membeli beragam\u00a0perangkat dan harus membangun tempat\u00a0monitoring kemacetan.\u00a0\u201cAplikasi itu berlaku di setiap ruas jalan, asalkan\u00a0ada mobil mata-mata tersebut.\u201d\u00a0Uji coba yang paling valid lagi, lanjut Fergyanto\u00a0dengan menggunakan taksi. Sebab taksi merupakan\u00a0satu-satunya kendaraan roda empat dalam\u00a0jumlah banyak. \u201cKami sedang menjajaki kerja sama dengan dua perusahaan taksi di Jakarta yang memiliki\u00a0armada terbanyak. Nantinya akan diujicobakan sejumlah taksi untuk melintas di banyak ruas jalan,\u00a0dan melaporkan informasi itu ke web server. Jadi taksi-taksi itu akan menjadi kendaraan mata-mata.\u00a0Sebetulnya dalam sistem operasional taksi sudah berjalan informasi semacam itu. Tapi informasi <em>traffic<\/em>\u00a0hanya disebarkan di kalangan sopir taksi.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ditambah lagi kedua perusahaan taksi yang akan dijajagi telah menggunakan sistem GPS sehingga\u00a0memudahkan memonitor kondisi jalan. Aplikasi tersebut juga untuk memantau jumlah kendaraan yang\u00a0melintas. Dijelaskan Fergyanto, di pintu pembayaran tol sebetulnya bisa menghitung jumlah kendaraan\u00a0yang melintas. Dia mencontohkan di Jepang, seluruh kendaraan yang masuk ke jalan tol membayar\u00a0dengan sistem e-toll. Sedangkan sistem pembayaran tol di ruas jalan tol di Indonesia sebagian besar\u00a0masih tunai. \u201cKalau menggunakan e-toll lebih cepat dan data kendaraan yang melintas langsung masuk\u00a0ke dalam server,\u201d terangnya. Aplikasi ini juga digunakan untuk memantau kondisi shelter Trans Jakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cara kerja aplikasinya sama. Fergyanto menyebutkan pengelola bus Trans Jakarta telah membeli alat\u00a0monitoring armada berupa dua sistem karena dari dua vendor berbeda. Untuk satu sistem hanya bisa\u00a0memonitor dua koridor, yang mencakup jumlah tempat duduk dan manajemen bus agar tidak terlambat\u00a0masuk ke halte. Total yang sudah terpantau ada dua koridor dari 12 koridor yang ada.\u201d\u00a0Sementara aplikasi yang dirancang tim dari Universitas Bina Nusantara ini bisa mencakup 12 koridor\u00a0Trans Jakarta. Termasuk menghitung jumlah penumpang di ruangan shelter yang lalu lalang. \u201cSelama\u00a0ini penghitungan jumlah penumpang hanya berdasarkan penghitungan tiket masuk. Sedangkan orang\u00a0yang lalu lalang di halte atau shelter untuk ganti bus koridor lain tidak dihitung. Maka seringkali kita\u00a0amati terjadi penumpukan penumpang di halte-halte tertentu. Ada juga bus yang kosong dan yang terisi\u00a0penuh. \u201cManajemen armada dengan<em> floating car data<\/em> ini justru bisa memaksimalkan jumlah penumpang\u00a0Trans Jakarta. Selama ini rata-rata penumpang Trans Jakarta hanya 370 ribu orang per hari. Jumlah ini\u00a0sangat sedikit dibandingkan jumlah penduduk Jakarta yang membutuhkan transportasi publik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia mencontohkan di Bogota, Kolombia, pengguna bus-bus trans mampu membawa penumpang\u00a01,6 juta orang per hari.\u00a0Sedangkan subway di Tokyo, transportasi massal cepat mampu menngangkut 40 juta penumpang\u00a0setiap harinya. Manajemen transportasinya sangat didukung aplikasi teknologi informasi,\u00a0sehingga memudahkan penumpang mendapatkan informasi cepat dan akurat .\u00a0\u201cRiset ini terus dikembangkan dan terus disempurnakan. Dan bisa menjadi sumbangan\u00a0bagaimana memecahkan masalah kemacetan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia,\u201d\u00a0harapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inovator: Dr. Eng. Fergyanto E Gunawan dkk, Universitas Bina Nusantara<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber: Sumber Inspirasi Indonesia &#8211;\u00a019 Karya Unggulan\u00a0Teknologi Anak Bangsa<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Ideas)\u00a0MACET menjadi santapan sehari-hari warga di kota-kota besar di Indonesia. Terlebih di Jakarta, penumpukan\u00a0kendaraan di jalan tol maupun non tol menjadi pemandangan sehari-hari.\u00a0Banyak cara yang telah dilakukan baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta\u00a0untuk mengurai kemacetan. Selain menerapkan sistem 3 in 1, memperbanyak transportasi publik hingga\u00a0usulan pemakaian kendaraan berbasis plat nomor ganjil genap.\u00a0Namun beragam pola atau sistem untuk mengurangi kemacetan belum maksimal hasilnya. Inovasi lainnya\u00a0yang dikembangkan untuk mengurai kemacetan dengan pemodelan floating car data. Adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":106151,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,5725],"tags":[6259],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106146"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106146"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106146\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":106504,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106146\/revisions\/106504"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106151"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106146"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106146"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106146"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}