{"id":106026,"date":"2015-04-09T15:49:19","date_gmt":"2015-04-09T08:49:19","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=106026"},"modified":"2015-04-09T15:52:39","modified_gmt":"2015-04-09T08:52:39","slug":"krisan-lili-dan-anyelir-penambang-devisa-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/04\/09\/krisan-lili-dan-anyelir-penambang-devisa-negara\/","title":{"rendered":"Krisan, Lili, dan Anyelir Penambang Devisa Negara"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-1.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-106031\" alt=\"Krisan 1\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-1.jpg\" width=\"1300\" height=\"520\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-1.jpg 1300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-1-300x120.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-1-1024x409.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1300px) 100vw, 1300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Ideas)\u00a0Dr. Ir. Lia Sanjaya MS, peneliti\u00a0dari Balai Penelitian\u00a0Tanaman Hias, Pusat Penelitian\u00a0dan Pengembangan Hortikultura, Balitbang Pertanian, Kementerian Pertanian\u00a0mengungkapkan bahwa di Indonesia pun sejak lama sangat bergantung pada\u00a0impor varietas tanaman hias. Seperti bunga krisan, lili dan anyelir ternyata harus\u00a0diimpor dari Eropa. Sekitar 1990-an, para pelaku usaha tanaman hias sangat\u00a0bergantung pada impor varietas dan benih krisan dari berbagai negara termasuk dari\u00a0Belanda. Impor varietas dan benih saat itu mencapai US$20 juta atau sekitar Rp200 miliar.\u00a0\u201cSetiap tahun volume dan nilai impor benih krisan cenderung meningkat, hingga puncaknya pada 1997-1998, setelah itu impor benih tidak bisa dilakukan karena nilai dolar mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari situlah, para pelaku usaha mulai mencari varietas unggul baru yang dihasilkan dari dalam negeri.\u00a0Para peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) sebetulnya telah melakukan riset terhadap krisan\u00a0sejak 1994. Namun baru pada tahun 2000, Menteri Pertanian melepas untuk pertama kalinya krisan\u00a0varietas unggul baru dari dalam negeri. Responsnya pun sangat bagus karena permintaan pasar cukup\u00a0tinggi. Awalnya krisan Balithi ini hanya disebar di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan\u00a0Jawa Timur. Namun sekarang justru sudah ada di 22 provinsi. Keunggulan varietas baru krisan antara\u00a0lain tahan terhadap penyakit karat sehingga budidaya dapat dilakukan lebih ramah lingkungan karena\u00a0hanya sedikit pemakaian fungisida sintetik. \u201cCukup adaptif di daerah tropis, sehingga harganya terjangkau.\u00a0Periode hidupnya sangat panjang sekitar 10 hari hingga dua minggu. Mahkota bunganya tidak mudah\u00a0rontok, dan bisa dibawa jarak jauh,\u201d kata Lia.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-106037 aligncenter\" alt=\"Krisan 2\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-2.jpg\" width=\"917\" height=\"614\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-2.jpg 917w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Krisan-2-360x240.jpg 360w\" sizes=\"(max-width: 917px) 100vw, 917px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perluasan daerah sentra produksi krisan di Indonesia berdampak positif pada peningkatan PDB, nilai\u00a0ekspor\u00a0dan kesejahteraan petani. Saat ini PDB krisan telah menembus angka Rp9 triliun dan nilai ekspor\u00a0mencapaiUS$19 juta. Kini lebih dari 20 varietas krisan Balithi telah dipakai produsen krisan dalam negeri.\u00a0Dengan kata lain, sekitar 33,3% dari total 60 varietas krisan yang dipakai produsen berasal dari Balithi.\u00a0Setelah sukses dengan krisan, kemudian dilakukan pengembangan vaarietas untuk anyelir (2000) dan\u00a0lili (2002). Kelebihan dari varietas baru anyelir yang diberi nama Puspita Arum ini memiliki warna bunga\u00a0merah cerah yang tidak mudah memudar dan toleran terhadap penyakit layu fusarium. Karakter bunga\u00a0merah cerah pada Puspita Arum ini tidak ditemukan pada varietaas anyelir yang pernah diimpor ke Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu periode vase life lebih panjang, tidak mudah rontok dan produktif menghasilkan bibit\u00a0dengan siklus produksi yang panjang.\u00a0Sedangkan varietas baru lili memiliki beberapa unggulan antara lain adaptif dengan iklim tropis. Umbinya\u00a0tidak mengalami dormansi sehingga budidaya dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa membutuhkan\u00a0sarana <em>cool storage<\/em>, untuk mematahkan dormasi pada umbi. \u201cBunga potong lili mudah dikemas untuk\u00a0dikirim dan dipasarkan ke daerah lain. Diharapkan varietas baru ini memiliki keunggulan kompetitif di\u00a0pasar global,\u201d terang Lia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemuliaan varietas lili ini awal mulanya dibiayai Kementerian Riset dan Teknologi melalui program Riset\u00a0Unggulan Terpadu VII. Varietas unggul lili yang dilepas ini merupakan hibrida hasil persilangan interspesifik\u00a0atau interseksi. Persilangan di antara kerabat jauh cenderung memberikan efek heterosis tinggi.\u00a0Varietas lili yang dihasilkan sangat beragam mulai dari bentuk bunga seperti mangkuk, terompet dan\u00a0piring. Warna bung putih, kuning dan oranye, serta orientasi bunga mendatar, agak tegak dan tegak.\u00a0Keragaman varietas lili ini merupakan terobosan baru dalam industri lili di Indonesia.\u00a0Menurut Lia, pengembangan varietas unggul krisan, lili dan anyelir di dalam negeri mampu memberi nilai\u00a0tambah antara lain varietas baru tahan terhadap penyakit utama, sehingga mengurangi biaya input produksi\u00a0untuk pembelian pestisida. \u201cBunga tidak mudah gugur, segar lebih lama, masa hidup juga panjang\u00a0sehingga aman didistribusikan ke berbagai daerah termasuk diekspor.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan adanya pengadaan benih tanaman hias dalam negeri, impor benih bisa dipangkas dan harga\u00a0benih lokal bisa bersaing karena tidak dihasilkan produsen dari negara lain. \u201cApalagi pengembangan varietas\u00a0baru ini dengan mutu genetik lebih tinggi akan memberikan keuntungan lebih pada petani bunga.\u00a0Apalagi tanaman-tanaman tersebut mampu beradaptasi pada iklim tropis. Selama ini tanaman tersebut\u00a0hanya bertahan di iklim sub tropis,\u201d ujar Lia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi petani bunga maupun pelaku industri bunga, penelitian tanaman hias\u00a0memiliki keuntungan lain yakni adanya penopang kuat dengan munculnya\u00a0varietas baru hasil produksi dalam negeri yang memiliki daya saing tinggi.\u00a0Sejumlah negara\u00a0yang telah mengimpor krisan, lili dan anyelir dari Indonesia\u00a0antara lain Malaysia, Taiwan, China, Singapura, Brunei, Dubai, Jeddah,\u00a0Jepang dan lainnya. Bahkan terbentuknya jejaring kerja dan pembagian\u00a0segmen produksi yang jelas antara petani produsen benih, petani produsen\u00a0bunga, distributor, pedagang bunga, ahli bunga hingga peengguna akhir\u00a0seperti hotel, restoran maupun rumah tangga. \u201cPenciptaan lapangan kerja\u00a0semakin banyak karena industri tanaman hias dari tahun ke tahun terus\u00a0berkembang. Pengangguran juga bisa ditekan,\u201d ujar Lia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inovator: Dr. Ir. Lia Sanjaya dkk, Balai Penelitian Tanaman Hias\u00a0(Balithi), Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Balitbang\u00a0Pertanian, Kementerian Pertanian.<\/p>\n<p>Sumber: Sumber Inspirasi\u00a0Indonesia\u00a019 Karya Unggulan\u00a0Teknologi Anak Bangsa<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Ideas)\u00a0Dr. Ir. Lia Sanjaya MS, peneliti\u00a0dari Balai Penelitian\u00a0Tanaman Hias, Pusat Penelitian\u00a0dan Pengembangan Hortikultura, Balitbang Pertanian, Kementerian Pertanian\u00a0mengungkapkan bahwa di Indonesia pun sejak lama sangat bergantung pada\u00a0impor varietas tanaman hias. Seperti bunga krisan, lili dan anyelir ternyata harus\u00a0diimpor dari Eropa. Sekitar 1990-an, para pelaku usaha tanaman hias sangat\u00a0bergantung pada impor varietas dan benih krisan dari berbagai negara termasuk dari\u00a0Belanda. Impor varietas dan benih saat itu mencapai US$20 juta atau sekitar Rp200 miliar.\u00a0\u201cSetiap tahun volume dan nilai impor benih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":106039,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,5725],"tags":[6259],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106026"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106026"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106026\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":106043,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106026\/revisions\/106043"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106039"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106026"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106026"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106026"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}