{"id":105535,"date":"2015-04-08T10:04:14","date_gmt":"2015-04-08T03:04:14","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=105535"},"modified":"2015-04-08T10:29:58","modified_gmt":"2015-04-08T03:29:58","slug":"sekarang-indonesia-pun-punya-database-mikroba-hutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/04\/08\/sekarang-indonesia-pun-punya-database-mikroba-hutan\/","title":{"rendered":"Sekarang Indonesia pun Punya Database Mikroba Hutan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-7.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-105537\" alt=\"Database Hutan Indonesia 7\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-7.jpg\" width=\"1158\" height=\"520\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-7.jpg 1158w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-7-300x134.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-7-1024x459.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1158px) 100vw, 1158px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Indonesia &#8211; Ideas)\u00a0HUTAN hujan tropis di Indonesia memiliki sumber kekayaan hayati yang luar biasa banyaknya, mulai\u00a0dari jamur, bakteri, mikroba, dan lainnya, hingga tanaman-tanaman langka maupun tanaman yang berpotensi\u00a0untuk obat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun yang menjadi persoalan saat ini adalah bencana alam dapat mengancam kekayaan hayati yang ada\u00a0di dalam hutan tersebut. Ancaman kebakaran hutan, degradasi hutan, maupun pencurian sumber hayati\u00a0harus segera dibentengi.\u00a0Hal itu yang menjadi pemikiran Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan.\u00a0Bagaimana menyelamatkan kekayaan yang terkandung di dalam hutan hujan tropis Indonesia ini?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dr. Maman Turjaman dan tim peneliti di Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan\u00a0mulai merancang riset pengumpulan data kekayaan isi hutan sejak 1995. Saat itu Puslitbang Konservasi\u00a0dan Rehabilitasi belum ada. \u201cSaat itu namanya laboratorium mikrobiologi hutan. Kemudian berkembang\u00a0menjadi Pusat Mikroba Hutan Tropika pada 2008. Lembaga ini memang menjadi penampung peneliti\u00a0yang memiliki minat yang sama yakni mendata mikroba hutan karena khawatir dapat hilang atau punah\u00a0akibat bencana alam, perambahan ataupun dicuri para peneliti asing,\u201d terang Maman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebetulnya riset di bidang pendataan mikroba telah ada di sejumlah lembaga riset maupun perguruan\u00a0tinggi seperti UGM, IPB, dan LIPI, namun lembaga-lembaga itu tidak fokus pada mikroba hutan.\u00a0Pada 11 April 2013 Indonesia ikut meratifikasi Protokol Nagoya. Inti dari protokol tersebut ialah negara-negara maju harus memberikan keuntungan bagi negara-negara pemilik plasma nuftah . &#8220;Jadi intinya\u00a0pada pembagian keuntungan,\u201d jelasnya.\u00a0Melalui Kementerian Lingkungan Hidup, agar Protokol Nagoya bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan,\u00a0setiap negara pemilik plasma nuftah harus memiliki data base koleksi mikroba hutan. \u201cAtas dasar\u00a0itu kami membuat data base mikroba hutan tersebut,\u201dungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-8.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-105539\" alt=\"Database Hutan Indonesia 8\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-8.jpg\" width=\"1212\" height=\"520\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-8.jpg 1212w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-8-300x128.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Database-Hutan-Indonesia-8-1024x439.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1212px) 100vw, 1212px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><div class=\"cb-alert cb-white\"><em>&#8220;bahwa di negara-negara maju, seperti Tiongkok misalnya, mikroba hutan telah dimanfaatkan oleh industri farmasi. Karena itu, Tiongkok kini agresif untuk mendata mikroba yang dimiliki negara tersebut karena akan menghasilkan keuntungan besar bagi negaranya.&#8221;<\/em><\/div><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Disebutkan Maman, bahwa di negara-negara maju, seperti Tiongkok misalnya, mikroba hutan telah dimanfaatkan\u00a0oleh industri farmasi. Karena itu, Tiongkok kini agresif untuk mendata mikroba yang dimiliki\u00a0negara tersebut karena akan menghasilkan keuntungan besar bagi negaranya.\u00a0\u201cApalagi Tiongkok juga dikenal dengan riset herbalnya. Industri di sana menjelajah ke negara-negara lain\u00a0termasuk Indonesia, untuk mencari mikroba hutan. Bahkan Tiongkok ingin menjadi pusat mikroba dunia.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan membuat peta jalan data base mikroba\u00a0hutan dengan lahirnya Indonesian Tropical Forest Culture Collection (INTROF CC). Diakui Maman, bahwa\u00a0selama ini ada pembajakan mikroba hutan dan ketergantungan besar terhadap produk-produk impor\u00a0berbasis dasar mikroba. Hal ini menjadi pemicu terjadinya penurunan pendapatan masyarakat baik lokal\u00a0maupun nasional.\u00a0\u201cPembuatan data base ini selain untuk menangkal pencurian, juga untuk menyediakan iptek hasil litbang\u00a0untuk konservasi dan pemanfaatan mikroba hutan tropis. Penyediaan data informasi mikroba ini\u00a0potensial untuk Bioprospeksi yang dipakai untuk bioremediasi, bioreklamasi, biohealth, bioplastic, bioenergy,\u00a0dan lain-lain,\u201d kata Maman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">INTROF CC saat ini memiliki total koleksi pada 2013 sebanyak 3400 isolat. Koleksi-koleksi tersebut untuk\u00a0memelihara koleksi kultur mikroba, dan menjaga viabilitas karakteristiknya. Setiap peneliti bisa\u00a0mengakses INTROF CC untuk mengetahui apa saja yang ada di hutan-hutan Indonesia. Koleksi-koleksi\u00a0akan terus bertambah seiring dengan terus dilakukannya pencarian mikroba hutan. Targetnya setiap\u00a0tahun ada 300 -500 koleksi jamur, mikroba dan yeast.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa koleksi yang sudah masuk dalam data base INTROF CC di antaranya jamur tristaniopis merguensis\u00a0Griff. Jamur tersebut tumbuh di hutan-hutan Provinsi Bangka Belitung. Jamur tersebut biasa\u00a0dipakai untuk campuran masakan mewah atau dihidangkan untuk tamu agung di China.\u00a0\u201cHarganya Rp1 juta hingga Rp2 juta per kilogram. Supaya tidak punah, jamur tersebut langsung diisolasi\u00a0untuk dibudidaya. Menariknya jamur itu hanya hidup di kayu pelawan berwarna agak merah. Kayunya\u00a0biasa dipakai untuk arang. Namun di atas jamur seringkali dijadikan sarang lebah yang menghasilkan\u00a0madu pahit,\u201d terangnya. Demikian juga di Manokwari, Papua Barat saat ini sedang diteliti mikroba pada\u00a0buah merah. Kemudian kayu gaharu yang menjadi bahan minyak wangi. Pohon gaharu sengaja dibuat\u00a0\u2018sakit\u2019 dengan disuntik jamur patogen ke dalam batangnya selama tiga tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Patogen ini tidak berbahaya, hanya membuat pohon sakit. Dari hasil suntikan, dari batang pohon muncul\u00a0resin\/racun berwujud seperti jamur yang berbau wangi. Potensi pasar gaharu di pasar internasional cukup\u00a0bagus. Masyarakat memanfaatkan batang gaharu itu dijadikan minyak. Harga satu botol kecil berisi\u00a0100 ml mencapai Rp100 ribu. Minyak gaharu ini menjadi pencampur atau pengikat bahan pembuatan\u00a0minyak wangi. Minyak gaharu juga bisa digunakan untuk terapi kesehatan.\u00a0Contoh lain koleksi fungi ektomikoriza untuk pengembangan tanaman pinus yang ditanam di Ponorogo,\u00a0Majenang, dan Pati dengan luas 15 hektare. Mikroba lainnya yang sudah dikembangkan pada produk\u00a0makanan yakni minuman Yakult yang menggunakan mikroba Lactobacillus casei. Produk tersebut telah\u00a0dijual di banyak negara. Kemudian di bidang energi ada biomassa dengan pengembangan bioethanol,\u00a0dengan tetap memakai jasa jasad renik. Selain pendataan mikroba hutan, INTROF CC yang dahulu bernama\u00a0FORDA CC (Forestry Research Development Agency Culture Collection) menjadi dokumen penting\u00a0koleksi yang dimiliki Indonesia. Dokumen yang bisa diakses secara daring (online) ini bisa menambah\u00a0informasi bagi peneliti, industri, maupun pemerintah. Apabila terjadi pembajakan mikroba pun bisa dilacak\u00a0sehingga mencegah kerugian negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inovator: Dr. Maman Turjaman, Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber :\u00a0Sumber Inspirasi\u00a0Indonesia,\u00a019 Karya Unggulan\u00a0Teknologi Anak Bangsa<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Indonesia &#8211; Ideas)\u00a0HUTAN hujan tropis di Indonesia memiliki sumber kekayaan hayati yang luar biasa banyaknya, mulai\u00a0dari jamur, bakteri, mikroba, dan lainnya, hingga tanaman-tanaman langka maupun tanaman yang berpotensi\u00a0untuk obat. Namun yang menjadi persoalan saat ini adalah bencana alam dapat mengancam kekayaan hayati yang ada\u00a0di dalam hutan tersebut. Ancaman kebakaran hutan, degradasi hutan, maupun pencurian sumber hayati\u00a0harus segera dibentengi.\u00a0Hal itu yang menjadi pemikiran Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan.\u00a0Bagaimana menyelamatkan kekayaan yang terkandung di dalam hutan hujan tropis Indonesia ini? [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":105541,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,5725],"tags":[6259,6261],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105535"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105535"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105535\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":105547,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105535\/revisions\/105547"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105541"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105535"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105535"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105535"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}