{"id":105469,"date":"2015-04-07T20:14:13","date_gmt":"2015-04-07T13:14:13","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=105469"},"modified":"2015-04-07T20:14:13","modified_gmt":"2015-04-07T13:14:13","slug":"indonesia-sebagai-mitra-dagang-afrika-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/04\/07\/indonesia-sebagai-mitra-dagang-afrika-selatan\/","title":{"rendered":"Indonesia Sebagai Mitra Dagang Afrika Selatan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Business Insight) Bersumber dari\u00a0data yang dimiliki Kedutaan Besar Republik Indonesia di Pretoria, Afrika Selatan, saat ini, Indonesia merupakan\u00a0mitra dagang terbesar Afrika Selatan ke-5 di Asia Tenggara dengan Thailand di posisi pertama, diikuti Singapura, Malaysia, dan Vietnam padahal\u00a0sebagai fakta, Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Oleh karena itu penting bagi para\u00a0pengusaha Indonesia untuk dapat lebih agresif mengeksplorasi pasar di Afrika Selatan sehingga dapat bersaing dengan para pengusaha dari negara anggota ASEAN lainnya dalam menarik wisatawan dan perdagangan dari negara dengan perekonomian terbesar kedua di Afrika tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Indonesia Mitra Dagang ke-5<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan, Suprapto Martosetomo,\u00a0<span style=\"line-height: 1.5em;\">Malaysia dan Thailand memang sudah sangat maju dalam perdagangan dengan Afrika Selatan. Juga Vietnam yang sangat agresif sebagai eksportir funitur akhir-akhir ini dengan memberikan harga yang kompetitif, demikian dilansir oleh Jakarta Post. Juga berdasarkan data\u00a0<\/span>Badan Pusat Statistik, pada tahun 2014\u00a0ekspor non migas Indonesia ke Afrika Selatan telah mencapai USD 1,38 milyar atau meningkat 8,66 persen dari tahun 2013 yang bernilai USD1,27 milyar. Sedangkan Pertumbuhan tahunan ekspor Indonesia ke Afrika Selatan pada periode 2010-2014 rata-rata sebesar 13,94 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedutaan RI juga mencatat bahwa pada periode Januari-November 2014 saja, total ekspor dari Indonesia ke Afrika Selatan sebesar USD1,23 milyar sedangkan ekspor Afrika Selatan ke Indonesia sebesar USD420.44 juta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data Lembaga\u00a0 Pajak Afrika Selatan menunjukkan angka yang lebih rendah. Total perdagangan bilateral Indonesia-Afrika Selatan pada Januari-November 2014 tercatat USD1,01 milyar dengan surplus untuk Indonesia senilai USD400,5 juta. Sedangkan\u00a0perdagangan bilateral dengan Thailand pada periode yang sama senilai USD 2,51 milyar, diikuti oleh Singapura dengan nilai perdagangan sebesar USD2,32 milyar, \u00a0Malaysia sebesar USD1,45 milyar, serta Vietnam USD1,11 milyar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Komoditi Ekspor Indonesia<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Produk ekspor utama Indonesia ke Afrika Selatan diantaranya minyak sawit mentah (CPO), karet dan produk karet, batu permata, dan produk otomotif. Di sisi lain, Indonesia mengimpor bubur kayu dan kertas, bahan kimia industri, serta logam dasar dari Afrika Selatan. Menurut\u00a0Suprapto Martosetomo, m<\/span>asyarakat Afrika Selatan juga menyukai batik, tetapi \u00a0yang tidak terlalu mahal sehigga ini dipandang sebagai kesempatan bagus bagi usaha kecil dan menengah Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pertimbangan Impor Indonesia<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Suprapto menyarankan agar Indonesia mempertimbangkan untuk mengimpor daging sapi dan ternak dari Afrika Selatan karena kualitas ternaknya yang sangat bagus. Dalam hal ini Suprapto bersedia untuk menjembatani eksportir Indonesia dengan para distributor lokal Afrika Selatan. Selain itu berbagai\u00a0<\/span><span style=\"line-height: 1.5em;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">potensi kerjasama agro-bisnis juga dijajaki di provinsi Limpopo, seperti kedelai yang akan sangat dibutuhkan Indonesia.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Citra Negatif Afrika<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Suprapto mengakui bahwa banyak pengusaha Indonesia merasa enggan untuk melakukan ekspansi ke Afrika karena citra negatif tentang benua tersebut, seperti wabah ebola, kemiskinan, dan kelaparan. Namun dikatakannya bahwa tidak semua bagian di\u00a0<\/span><\/span>Afrika sama. Oleh karena itu\u00a0Lasro Simbolon, Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri, menghimbau pengusaha Indonesia untuk mengubah persepsinya tentang pasar Afrika, demikian dilansir oleh Jakarta Post.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Asia-Afrika Business Summit (AABS) 2015 mendatang, yang merupakan acara selingan pada Peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-60, diharapkan dapat membantu memberikan informasi yang lebih jelas tentang prospek bisnis di Afrika, kata Lasro.\u00a0<\/span>Suprapto menegaskan bahwa delegasi Afrika Selatan untuk Peringatan tersebut juga akan mencakup puluhan CEO top dari negara itu.<\/p>\n<p><em>uthe\/VMN\/BL\/Journalist<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Business Insight) Bersumber dari\u00a0data yang dimiliki Kedutaan Besar Republik Indonesia di Pretoria, Afrika Selatan, saat ini, Indonesia merupakan\u00a0mitra dagang terbesar Afrika Selatan ke-5 di Asia Tenggara dengan Thailand di posisi pertama, diikuti Singapura, Malaysia, dan Vietnam padahal\u00a0sebagai fakta, Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Oleh karena itu penting bagi para\u00a0pengusaha Indonesia untuk dapat lebih agresif mengeksplorasi pasar di Afrika Selatan sehingga dapat bersaing dengan para pengusaha dari negara anggota ASEAN lainnya dalam menarik wisatawan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":105471,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[120],"tags":[4909],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105469"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105469"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105469\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":105473,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105469\/revisions\/105473"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/105471"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105469"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105469"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105469"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}