{"id":1047,"date":"2013-02-24T18:52:00","date_gmt":"2013-02-24T18:52:00","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.vibiznews.com\/?p=1047"},"modified":"2013-02-24T18:52:00","modified_gmt":"2013-02-24T18:52:00","slug":"manajemen-risiko-terorisme-mutlak-perlu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/02\/24\/manajemen-risiko-terorisme-mutlak-perlu\/","title":{"rendered":"Manajemen Risiko Terorisme, Mutlak Perlu"},"content":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge, Risk Management) \u2013 Teror bom kembali melanda negeri kita tercinta, Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, kali ini dua hotel terkemuka yang jadi sasaran teroris, yakni Ritz Carlton dan JW. Marriott di Mega Kuningan- Jakarta tanggal 17-Juli-2009 lalu. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun keamanan sudah sangat ketat, namun manajemen risiko yang dilakukan masih kurang memadai. Manajemen risiko terorisme merupakan suatu langkah yang mutlak perlu demi mencegah dampak yang luar biasa negatif.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah serangkaian langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam manajemen risiko terorisme di ruang publik, baik itu hotel, mall dan lainnya.<\/p>\n<p><b>Identifikasi Risiko<\/b><br \/>\nLangkah yang pertama kali perlu dilakukan adalah melakukan identifikasi risiko sebanyak mungkin. Tujuan dari identifikasi risiko adalah mengidentifikasi berbagai risiko terorisme yang mungkin terjadi, dan mempengaruhi aktivitas bisnis. Identifikasi risiko yang terkait dengan terorisme ini merupakan serangkaian kemungkinan risiko yang mungkin terjadi, baik itu sudah terjadi di masa lampau, ataupun berpotensi terjadi di masa depan.<\/p>\n<p>Beberapa contoh identifikasi risiko terorisme diantaranya:<br \/>\n\u2022 Risiko penyusupan oleh pelaku teroris, seperti teroris yang menyusup untuk melakukan survei, merakit bom di kamar hotel.<br \/>\n\u2022 Risiko menjadi target ancaman teroris, seperti bom, dan sebagainya<\/p>\n<p>Identifikasi jenis-jenis serangan teroris yang mungkin terjadi, diantaranya:<br \/>\n\u2022 Bom<br \/>\n\u2022 Kebakaran<br \/>\n\u2022 Tabrakan dengan pesawat<br \/>\n\u2022 Serangan lain, seperti nuklir, senjata kimia, dan lainnya<\/p>\n<p>Selain itu, identifikasikan kategori risiko yang terjadi dalam serangan teroris, seperti kategori yang dibuat oleh Haimes:<br \/>\n\u2022 Risiko kehidupan serta properti dan kebebasan individual<br \/>\n\u2022 Risiko terhadap infrastruktur organisasi dan masyarakat, termasuk diantaranya keberlangsungan pemerintah, dan infrastruktur intelijen<br \/>\n\u2022 Risiko terhadap infrastruktur fisik dan jaringan yang penting<br \/>\n\u2022 Risiko ekonomi<\/p>\n<p><b>Analisa dan Evaluasi Risiko<\/b><br \/>\nSetelah melakukan identifikasi risiko, maka selanjutnya adalah tahap analisa dan evaluasi risiko, yang prosesnya merupakan pendetailan dari identifikasi risiko. Lakukan analisa terhadap dampak-dampak apa saja yang mungkin terjadi dalam tiap serangan teroris tersebut. Analisa tersebut diantaranya:<br \/>\n\u2022 Analisa serangan, misalnya antara bom low explosive hingga high explosive, tentu punya dampak yang berbeda<br \/>\n\u2022 Analisa struktur properti, yakni menganalisa ketahanan struktur properti terhadap risiko berbagai serangan teroris<br \/>\n\u2022 Analisa risiko ancaman bahan kimia, biologis dan radioaktif yang diakibatkan serangan teroris<\/p>\n<p>Langkah yang paling sederhana dalam melakukan analisa risiko adalah dengan mengalikan antara frekuensi terjadinya serangan, dengan tingkat keparahan dampak yang dihasilkan. Sementara itu, salah satu analisa yang lebih kompleks mengukur risiko sebagai fungsi dari probabilitas terjadinya serangan, probabilitas kerusakan yang terjadi ketika ada serangan, serta besar dan jenis kerusakan yang ditimbulkan seandainya serangan tersebut sukses.<\/p>\n<p>Untuk mengukurnya, maka dilakukan secara kuantitatif, salah satunya menggunakan probabilitas. Untuk mengukur risiko, maka bisa dilakukan cara yang sederhana maupun kompleks. Tentu saja analisa yang kompleks lebih komprehensif, mendetail dan memuat informasi yang lebih banyak.<\/p>\n<p>Pada tahap evaluasi risiko, pada umumnya dilakukan penyortiran mengenai risiko mana yang bisa diterima, dan mana yang tidak. Hanya saja, mengingat ini adalah risiko terorisme, dimana dampaknya selalu signifikan, maka seluruh risiko terorisme ini harus dikelola dengan baik.<\/p>\n<p>Dalam kondisi seperti ini, manajemen risiko yang canggih sangatlah diperlukan. Oleh karena itu, pemodelan analisa risiko secara kompleks dan mendetail merupakan suatu hal yang mutlak. Untuk itu, bisnis seperti perhotelan, mall dan sebagainya dapat menggunakan jasa konsultan untuk melakukan proses ini.<\/p>\n<p><b>Langkah Manajemen Risiko<\/b><br \/>\nAktivitas dalam manajemen risiko terorisme secara garis besar dapat dibagi sebagai berikut:<br \/>\n\u2022 Manajemen risiko keamanan terhadap properti dan seisinya<br \/>\nSetelah melakukan identifikasi dan analisa risiko, maka dilakukan manajemen risiko keamanan dari risiko terorisme. Keamanan harus memadai dan meminimalisir sekecil mungkin kemungkinan akan terjadinya terorisme.<\/p>\n<p>Seandainya manajemen risiko keamanan telah ada dan bagus, lalu apa yang harus dilakukan? Langkah penting yang harus dilakukan adalah mempertimbangkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi, dan menutup segala celah yang ada. Mengapa demikian? Karena celah sekecil apapun bakal dapat dimanfaatkan oleh teroris, seperti yang terjadi pada pengeboman Ritz Carlton dan JW Marriott. Level keamanan tidak berubah, sementara teroris terus melakukan survei dan berusaha mencari celah, tentunya pada suatu waktu mereka berhasil mencari cara untuk masuk.<\/p>\n<p>Untuk sementara, tempatkan diri Anda sebagai teroris. Jika Anda teroris, langkah apa yang bisa Anda lakukan untuk melakukan serangan? Tanyakan hal tersebut berulang-ulang dan evaluasi secara periodik.<\/p>\n<p>\u2022 Disaster planning<br \/>\nIni meliputi perencanaan jika bencana tersebut benar-benar terjadi. Fasilitas cadangan misalnya, seperti yang terjadi pada NYSE ketika terjadi bom WTCV 2001. Bentuk prosedur darurat yang harus dilakukan ketika serangan terjadi, prosedur menyelamatkan korban, dan sebagainya.<\/p>\n<p>\u2022 Mitigasi risiko<br \/>\nTerakhir, lakukan mitigasi risiko, yakni berupa asuransi dalam rangka meminimalisir kerugian finansial yang disebabkan akibat serangan teroris ini.<\/p>\n<p>Demikian adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam manajemen risiko terorisme, suatu langkah yang mutlak perlu dilakukan. Tanpa manajemen risiko terorisme, maka suatu bisnis terekspos akan dampak negatif yang signifikan.<\/p>\n<p>pic.:teakdoor.com<\/p>\n<p>(Rinella Putri\/TA\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge, Risk Management) \u2013 Teror bom kembali melanda negeri kita tercinta, Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, kali ini dua hotel terkemuka yang jadi sasaran teroris, yakni Ritz Carlton dan JW. Marriott di Mega Kuningan- Jakarta tanggal 17-Juli-2009 lalu. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun keamanan sudah sangat ketat, namun manajemen risiko yang dilakukan masih kurang memadai. Manajemen risiko terorisme merupakan suatu langkah yang mutlak perlu demi mencegah dampak yang luar biasa negatif. Berikut ini adalah serangkaian langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[7937],"tags":[150],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1047"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1047"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1047\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1047"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1047"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1047"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}