{"id":104531,"date":"2015-04-02T15:01:00","date_gmt":"2015-04-02T08:01:00","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=104531"},"modified":"2015-04-02T15:01:00","modified_gmt":"2015-04-02T08:01:00","slug":"the-importance-of-attitude-bryan-david-emil-president-director-pt-martina-berto-tbk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/04\/02\/the-importance-of-attitude-bryan-david-emil-president-director-pt-martina-berto-tbk\/","title":{"rendered":"The Importance of Attitude &#8211; Bryan David Emil, President Director PT Martina Berto Tbk"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Management Tips) Bryan David Emil berpendapat bahwa di dalam organisasi apa pun setiap orang yang terlibat di dalamnya haruslah memiliki\u00a0<em>passion, skill,\u00a0<\/em>dan jiwa yang besar. Namun tidak hanya itu, menurut Presiden Direktur PT. Martina Berto Tbk ini memiliki\u00a0<em>attitude <\/em>yang baik merupakan hal yang utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Menurut saya <em>skill<\/em> itu bisa dipelajari. Orang yang tidak jago keuangan, kalau dia mau dia bisa jago keuangan. Orang yang tidak mengerti marketing dan sales tetapi kalau dia mau belajar bisa,&#8221; demikian Bryan berujar. &#8220;Dalam sejarah hidup saya, banyak orang menganggap bahwa <em>skill<\/em> itu segala seuatunya, dirasa sudah &#8216;wah&#8217; padahal tidak. Ada orang yang <em>skill-<\/em>nya biasa biasa saja tetapi karena dia mau belajar dan dia sangat <em>passionate<\/em>, dia tanya ke sana ke mari, dia bisa berhasil. Tetapi ada yang \u00a0mestinya bisa tetapi karena dia tidak ada <em>passion<\/em> di situ, akhirnya dia kepayahan sendiri,&#8221; demikian Bryan menggambarkan bahwa <em>passion\u00a0<\/em>tanpa\u00a0<em>skill\u00a0<\/em>orang masih dapat berhasil, tetapi tidak memiliki keduanya sudah dipastikan akan gagal.<em><br \/>\n<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun dibandingkan\u00a0<em>passion<\/em> dan\u00a0<em>skill,\u00a0<\/em><em>attitude\u00a0<\/em>tetap berada pada posisi terpenting. Bagi Bryan, <em>skill<\/em>\u00a0tetap penting tetapi itu keperluan <em>basic.\u00a0<\/em>Sebab untuk dapat berintegrasi dengan banyak orang, maka yang dibutuhkan bukanlah <em>skill<\/em> melainkan\u00a0<em>attitude. <\/em>Jika seseorang memiliki nilai\u00a0<em>minus\u00a0<\/em>pada\u00a0<em>attitude-<\/em>nya maka ia akan mengalami kesulitan untuk\u00a0bekerja sama dengan banyak orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai manusia, <em>attitude\u00a0<\/em>dibutuhkan leih dari\u00a0<em>skill. <\/em>Sebagai contoh, Bryan memaparkan bagaimana pada waktu yang lampau, IQ (Intelligence Quotient) dipandang sangat penting tetapi berjalannya waktu kemudian EQ (Emotional Quotient) dipandang lebih penting. Namun ilmu pengetahuan terus berkembang sehingga sekarang dikatakan bahwa\u00a0\u00a0Spiritual Intelligence dikatakan lebih penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada banyak orang yang &#8216;canggih&#8217; tetapi bermasalah, ada banyak yang dipandang biasa saja tetapi kemudian dapat sangat berhasil karena memiliki <em>attitude\u00a0<\/em>yang baik.<\/p>\n<p><em>uthe\/VMN\/BL\/Journalist<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Management Tips) Bryan David Emil berpendapat bahwa di dalam organisasi apa pun setiap orang yang terlibat di dalamnya haruslah memiliki\u00a0passion, skill,\u00a0dan jiwa yang besar. Namun tidak hanya itu, menurut Presiden Direktur PT. Martina Berto Tbk ini memiliki\u00a0attitude yang baik merupakan hal yang utama. &#8220;Menurut saya skill itu bisa dipelajari. Orang yang tidak jago keuangan, kalau dia mau dia bisa jago keuangan. Orang yang tidak mengerti marketing dan sales tetapi kalau dia mau belajar bisa,&#8221; demikian Bryan berujar. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":104532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,2510,52],"tags":[4885],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104531"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=104531"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104531\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":104535,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/104531\/revisions\/104535"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=104531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=104531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=104531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}