{"id":103409,"date":"2015-03-27T15:28:42","date_gmt":"2015-03-27T08:28:42","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=103409"},"modified":"2015-03-28T10:50:24","modified_gmt":"2015-03-28T03:50:24","slug":"no-hashtags-rahasia-marketing-dengan-word-of-mouth-wom","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/03\/27\/no-hashtags-rahasia-marketing-dengan-word-of-mouth-wom\/","title":{"rendered":"No #Hashtags&#8230;Rahasia Marketing dengan Word-of-Mouth (WoM)"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Cover.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-103329\" alt=\"Sumoboo - Cover\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Cover.jpg\" width=\"1074\" height=\"483\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Cover.jpg 1074w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Cover-300x134.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Cover-1024x460.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1074px) 100vw, 1074px\" \/><\/a><\/p>\n<p>(Business Lounge &#8211; Dominate The Market)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya ingat, dulu tanda tagar (#) hanya dipakai pada buku partitur, untuk menandakan bahwa nada harus naik setengah. Setelah itu, entah untuk apa lagi. Tapi kali ini, Anda melihat tanda tagar, atau yang familiar disebut <i>hashtag<\/i>\u00a0ada dimana-mana, berkat sosial media. Marketing, dengan sekejap berubah dengan dinamis. Dimulai dari foto-foto <i>selfie <\/i>oleh artis, tradisi memotret makanan, dan seterusnya, impact dari sosial media dianggap sanggup membantu meningkatkan <i>sales<\/i>. Sekarang, hanya dengan modal smartphone, semua entrepreneur langsung memiliki <i>mini-billboard<\/i> mereka sendiri. Hanya dengan modal kecil, Anda sudah dapat memasarkan produk Anda ke seantero jagad internet dan saya percaya, 8 dari 10 pembaca artikel saya ini pasti memiliki <em>account<\/em> instagram (<em>I have mine, by the way<\/em>), namun dari riset ini, Anda akan belajar bahwa:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Social Media tidak \u201call-powerful\u201d<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa saya bilang tidak \u201call-powerful\u201d? Karena saya ingin memberikan gebrakan pandangan yang berbeda tentang apa yang melekat di generasi Y selama ini, yang seringkali beranggapan bahwa sosial media adalah metode sakti mandraguna untuk berhasil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah saya benci social media? Tentu tidak! Saya pengguna setia Instagram dan LinkedIn. Website-website yang pernah saya tangani juga menggunakan sosial media. Tapi, saya hanya ingin memberi tahu bahwa metode ter-\u201ckuno\u201d untuk marketing, masih terbukti paling efektif. Perhatikan <em>pie chart<\/em> berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Infografis.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-103416\" alt=\"Sumoboo Infografis\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Infografis.jpg\" width=\"420\" height=\"329\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Infografis.jpg 600w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Infografis-300x235.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 420px) 100vw, 420px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Angka telah membuktikan, bahwa bukan sosial media sebagai faktor sumbangsih utama, namun <em>word of mouth<\/em>\u00a0yang akan selanjutnya saya sebut WoM. Ya, Anda bisa saja tidak melakukan <em>campaign<\/em> dengan artis untuk memasarkan barang Anda, tapi jika anda tahu rahasia dari WoM, produk Anda pun akan merasakan <em>impact-<\/em>nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Kartun-2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-103451\" alt=\"??????\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Kartun-2-300x300.jpg\" width=\"300\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Kartun-2-300x300.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Kartun-2-150x150.jpg 150w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Kartun-2-90x90.jpg 90w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Kartun-2-125x125.jpg 125w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Kartun-2.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Bagimana cara mengukur impact dari WoM ?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenyataannya, agak sulit. Faktor utama adalah karena tidak ada rumus khusus untuk mengukurnya, selain dari hasil riset yang tentu saja dapat dipastikan benar secara akademis. Namun, Anda dapat berpegang pada lima hal yang menurut analisa saya harus diperhatikan dalam menciptakan WoM:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0<b>Produk<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dimulai dari bagaimana Anda menampilkan produk Anda. Anda harus tahu apa yang menjadi<em> drive<\/em> utama WoM dari produk Anda. Saya beri contoh, smartphone favorit saya, memiliki baterai yang cepat habis. Tapi saya bisa bilang, <em>design-<\/em>nya sangat elegan dan <em><span style=\"text-decoration: underline;\">design <\/span><\/em>dari smartphone itulah yang jadi daya tarik WoM. <em>So, yes<\/em>. Terkadang, WoM sangat berbicara tentang <i>customer\u2019s experience.<\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0<b>Profil : Yang mempengaruhi (<i>influencer)<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penting untuk mengetahui orang macam apa yang akan mempengaruhi produk Anda. Jika Anda berjualan <em>fashion<\/em>, Anda jangan menaruh harapan kepada penggemar komputer untuk menjadi <i>force of influencer\u00a0<\/i>Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0<b>Profil : Yang dipengaruhi (<i>influenced)<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Profil berikutnya adalah yang dipengaruhi. Anda harus memperhatikan seberapa jauh <em>impact<\/em> dari WoM bagi customer Anda. Tiga hal akan muncul sebagai <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">outcome <\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">dari WoM : <\/span><b style=\"line-height: 1.5em;\">Positive, Negative, &amp; Doubtful. <\/b><span style=\"line-height: 1.5em;\">Positif dan Negatif cukup <em>straightforward<\/em>. <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">Either they like your product or not.<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> Anda akan mengetahui mana yang lebih kuat dengan melakukan riset dan observasi. Jika negatif, Anda dapat menyesuaikan strategi Anda untuk mengubahnya menjadi positif sesuai dengan strategi marketing Anda. Hal yang unik adalah <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">doubtful<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\">\u00a0atau keraguan. Ini adalah suatu <\/span><i style=\"line-height: 1.5em;\">blind spot<\/i><span style=\"line-height: 1.5em;\"> ketika <em>customer<\/em> Anda tidak tahu apakah ini hal baik atau tidak. Produk baru yang di-<em>release<\/em> ke <em>customer<\/em> sering kali akan menimbulkan keraguan, apakah <em>customer<\/em> akan bersuara positif? Atau negatif?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lihat berapa banyaknya merek smartphone baru yang ditawarkan sekarang? Satu mall dapat mengadakan empat <em>exhibition<\/em> yang berbeda dalam sebulan untuk memamerkan merek handphone baru yang&#8230;entah dari mana lagi. Keadaan seperti inilah yang akan menimbulkan <em>doubtful<\/em>? <em>Customer<\/em> akan berpikir&#8230; &#8220;Ini lagi ?\u201d, \u201cApa bedanya dengan yang kemarin ?\u201d, \u201cKok ada begini lagi ?\u201d. Oh ya, <i>bad timing will also contribute to doubtfulness<\/i>. Jadi perhatikan <i>timing<\/i> anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211; <b>Lingkungan Pendukung (Environment)<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Finally<\/em>, Anda harus memperhatikan <em>environment<\/em> yang akan mendukung WoM Anda. Anda punya 500 teman di Facebook ? Jangan berasumsi bahwa semuanya akan jadi WoM <i>source<\/i>. Komunitas dan kelompok kecil, bisa menjadi <i>source<\/i> yang lebih efektif dibandingkan dengan komunitas yang terlalu melebar yang tidak bisa Anda kontrol. Network yang terbentuk harus Anda observasi dan awasi. Perhatikan situasi yang tepat tepat dan analisa. Untuk bisnis kecil, mungkin Anda tidak perlu sampai melakukan PESTEL <em>analysis<\/em>. Tapi tidak ada salahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211;\u00a0<b>Observasi Network Anda<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti yang saya katakan pada poin sebelumnya, selalu observasi <em>network<\/em> Anda. Awasi dan peka. Anda harus tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang di WoM <i>network<\/i> Anda. Ya, anda harus memiliki <i>mindset<\/i> bahwa WoM Anda harus seperti <i>network<\/i>, satu individu berbicara dengan individu lain, Anda harus mengerti gambaran besarnya apa yang sedang dibicarakan di tengah-tengah <i>network<\/i> tersebut. Ini bisa dilakukan dengan observasi ataupun riset. Atau, jika Anda seorang\u00a0<i>entrepreneur<\/i> pada bisnis kecil-menengah, Anda bisa berinteraksi langsung dengan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belajar dari <i>case study<\/i> kita kali ini, kita belajar bahwa, WoM adalah <i>tools<\/i> yang efektif. Anda mungkin tidak perlu menyewa fotografer handal ataupun artis untuk melakukan <i>social media campaign<\/i> Anda, <span style=\"text-decoration: underline;\">jika Anda yakin, <\/span>bahwa faktor-faktor pendukung lain dapat memulai interaksi, dan membangun WoM <i>network<\/i> yang efektif. Karena itu, pelajari apa yang akan mempengaruhi WoM Anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/2015\/03\/27\/viral-marketings-impact-on-cafe-business\/\">Back to\u00a0Viral Marketing&#8217;s &#8211; Impact on Cafe Business<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/2015\/03\/27\/viral-marketings-impact-on-cafe-business\/\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-103329\" alt=\"Sumoboo - Cover\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Cover-300x134.jpg\" width=\"300\" height=\"134\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Cover-300x134.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Cover-1024x460.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/Sumoboo-Cover.jpg 1074w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #808080;\"><em>Michael Judah Sumbayak adalah pengajar di Vibiz LearningCenter (VbLC) untuk entrepreneurship dan branding. Seorang penggemar jas dan kopi hitam. Follow instagram nya di @michaeljudahsumbek<\/em><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Dominate The Market) Saya ingat, dulu tanda tagar (#) hanya dipakai pada buku partitur, untuk menandakan bahwa nada harus naik setengah. Setelah itu, entah untuk apa lagi. Tapi kali ini, Anda melihat tanda tagar, atau yang familiar disebut hashtag\u00a0ada dimana-mana, berkat sosial media. Marketing, dengan sekejap berubah dengan dinamis. Dimulai dari foto-foto selfie oleh artis, tradisi memotret makanan, dan seterusnya, impact dari sosial media dianggap sanggup membantu meningkatkan sales. Sekarang, hanya dengan modal smartphone, semua entrepreneur langsung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":103435,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1051,16],"tags":[5058,6167],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103409"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=103409"}],"version-history":[{"count":11,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103409\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":103567,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/103409\/revisions\/103567"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/103435"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=103409"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=103409"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=103409"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}