{"id":101557,"date":"2015-03-18T18:05:56","date_gmt":"2015-03-18T11:05:56","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=101557"},"modified":"2015-03-18T18:09:14","modified_gmt":"2015-03-18T11:09:14","slug":"pengalaman-startup-business-purnomo-prawiro-direktur-utama-pt-blue-bird-tbk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/03\/18\/pengalaman-startup-business-purnomo-prawiro-direktur-utama-pt-blue-bird-tbk\/","title":{"rendered":"Pengalaman Startup Business &#8211; Purnomo Prawiro, Direktur Utama PT Blue Bird Tbk"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Management Tips) Merintis perusahaan hingga menjadi seperti\u00a0PT Blue Bird Tbk sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Purnomo Prawiro selaku\u00a0<em>founder\u00a0<\/em>perusahaan transportasi berlogo burung biru ini mengisahkan bahwa tidak mudah baginya ketika melakukan startup bisnis. &#8220;Kalau kita melihat perjalanan bisnis mulai dari kecil kemudian besar itu memang berbeda,&#8221; demikian dikatakannya menekankan bahwa apa yang dialaminya pada awal bisnisnya merupakan sebuah perjuangan. Ada 3 hal yang menjadi kendala baginya:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Keuangan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada waktu memulai bisnis kecilnya, Purnomo memaparkan bahwa modal menjadi masalah utamanya. &#8220;Yang menjadi masalah utama adalah tidak punya modal. Mau ke bank sulit mendapat pinjaman dari bank, mereka tidak percaya karena bank itu rata-rata minta <em>record<\/em> bisnis 2-3 tahun,&#8221; demikian ia menceritakan permasalahannya. Baginya persyaratan itu tidak masuk akal sebab bisnis barus saja dimulai sehingga ia harus benar-benar\u00a0benar-benar berjuang untuk meyakinkan pihak bank atau rekanan bahwa ia akan melakukan kewajibannya dengan baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Pelanggan dan kepercayaan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengawali bisnisnya maka <em>market<\/em>\u00a0belum jelas sebab Purnomo tahu benar bahwa saat itu Blue Bird belum lagi dikenal. &#8220;Biasanya kalau perusaahan kecil kan lebih sulit ya? Kalau sudah besar, orang bilang &#8216;A&#8217;, mereka sudah langsung.&#8221; Baginya mendapatkan pelanggan adalah sebuah perjuangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">3. Management<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak ada management pada waktu Purnomo memulai bisnis transportasinya sebab tidak ada uang untuk itu. &#8220;Waktu kecil kita <em>hire<\/em> managemen, tidak bisa, tidak ada uang. Jadi dari a sampai z itu dikerjakan sendiri,&#8221; demikian penuturannya. Selain itu ia pun tidak memiliki sistem mengingat permulaan bisnis ia hanya memiliki dua buah mobil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Namun ia menyadari bahwa seiring dengan pertumbuhan bisnis pasti akan peruabahan sehingga dibutuhkan untuk men-<em>set up<\/em>\u00a0<em>management system<\/em>, hierarki, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><em>uthe\/VMN\/BL\/Journalist<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Management Tips) Merintis perusahaan hingga menjadi seperti\u00a0PT Blue Bird Tbk sekarang ini bukanlah hal yang mudah. Purnomo Prawiro selaku\u00a0founder\u00a0perusahaan transportasi berlogo burung biru ini mengisahkan bahwa tidak mudah baginya ketika melakukan startup bisnis. &#8220;Kalau kita melihat perjalanan bisnis mulai dari kecil kemudian besar itu memang berbeda,&#8221; demikian dikatakannya menekankan bahwa apa yang dialaminya pada awal bisnisnya merupakan sebuah perjuangan. Ada 3 hal yang menjadi kendala baginya: 1. Keuangan Pada waktu memulai bisnis kecilnya, Purnomo memaparkan bahwa modal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":101563,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"video","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,2510,52],"tags":[4885,6093],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101557"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=101557"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101557\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":101567,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/101557\/revisions\/101567"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/101563"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=101557"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=101557"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=101557"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}