Interview Ronald Walla, Ketua UMKM IKM APINDO

(Business Lounge Journal – Interview Session)

Pandemi yang telah berlangsung lebih 2 tahun ini memberikan dampak pada lebih dari 90% pengusaha di tanah air. Baik itu perusahaan besar, perusahaan kecil, juga para UKM. Ronald Walla selaku Ketua UMKM IKM (Usaha Mikro Kecil Menengah – Industri Kecil Menengah) dari APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) menjabarkan kepada Business Lounge Journal bagaimana dampak pandemi dan perkembangan yang saat ini sedang terjadi.

Hal ini juga berdampak kepada lebih dari 30 hingga 35 juta tenaga kerja. Sebuah angka yang cukup signifikan sebenarnya. Apalagi growth Q4 tahun 2021 hingga sekarang rata-rata mencapai 5%. Bahkan banyak sektor yang sudah bertumbuh melampaui pencapaiannya sebelum masa pandemi sejak pemerintah memberlakukan berbagai pelonggaran terkait pandemi.

Ada banyak faktor baik domestik maupun global yang diharapkan segera dapat teratasi, seperti inflasi dan perang. Ketika semua situasi semakin jelas, maka bisnis pun akan semakin bertumbuh.

APINDO bantu UMKM untuk survive

Bagi APINDO sendiri, ada banyak dari UMKM yang menjadi anggotanya telah berhasil survive walaupun juga banyak yang masih terus dalam posisi recovery. Bagaimana dapat mengembalikan kembali demand yang seperti sebelum pandemi terjadi.

APINDO dalam hal ini berupaya untuk dapat mengakomodir kebutuhan para UMKM yang berada di bawah naungannya yaitu dengan memberikan informasi pasar dan akses pasar. Selain memberikan kemudahan dengan cara digital, maka APINDO berupaya membangun ekosistem digital yang mencakup sistem pembukuan, sistem supply change, sistem promosi, sistem SDM, penjualan padi, dan sistem influencer, untuk dapat memudahkan para UMKM yang berada di bawah naungannya.

Selain juga diberikan pendampingan supaya business plan dari UMKM semakin jelas. Dengan jelasnya business plan, maka akan membuka jalan untuk mendapatkan pendanaan.

Saat ini APINDO telah bekerja sama dengan KUR juga beberapa institusi keuangan untuk membantu UMKM mendapatkan akses pendanaan. APINDO membantu untuk meminimalkan risiko dan menanganinya. “Tidak bisa memiliki mental jalani saja dulu kalau failed … ya failed. Ini akan menimbulkan trust issue,” demikian dijelaskan Ronald.

Karena itu APINDO terus membantu para UMKM dapat memiliki business plan yang jelas sehingga memiliki kesempatan untuk  mendapatkan pendanaan.

3 Nilai Penting dimiliki UMKM

1. Para pengusaha yang mau maju dan berkontribusi. Memiliki semangat, spirit mau maju, courious dan tidak takut.

2. Memiliki integritas yang tinggi: bisa beretika dalam berbisnis – jangan short term.

3. Berkolaborasi – Bersama Meraih Sukses (BMS) mendapatkan win-win solution.

Keanggotaan APINDO

Saat ini jumlah perusahaan yang menjadi anggota APINDO sebanyak 5000 perusahaan. Selain itu terdapat 50,000 perusahaan menengah dan 500 ribu – 700 ribu perusahaan kecil. Juga 65 juta adalah perusahaan mikro yang mengayomi 98% – 99% total dari seluruh tenaga kerja atau 130 juta – 132 juta penduduk.

Pada 17 Juni 2020, APINDO telah memulai program AUA (Apindo UMKM Akademi) yang hingga kini telah menjangkau 140,000 UMKM. APINDO menjalin kerjasama tidak hanya dengan UMKM tetapi juga pendamping UMKM yang banyak berada di daerah. APINDO juga bekerja sama dengan lebih dari 100 komunitas UMKM.

Secara bisnis, maka APINDO juga melakukan business matching baik secara domestik (seperti Sarinah, M Bloc market) maupun secara internasional (bekerja sama dengan KADIN membangun ITH (International Trading House). Saat ini ITH telah menjalin relasi dengan 6 negara, seperti Australia, Singapura, Belanda, Jepang, Amerika. Bekerja sama juga dengan diaspora, importir di negara tesebut untuk dapat memberikan informasi dan akses pasar. Sebuah proses dari hulu ke hilir. Hal juga yang tidak bisa diabaikan bagaimana UMKM dapat bekerja sama dengan pemerintah.

Ronald juga memaparkan bagaimana pemerintah telah bekerja keras menyelamatkan kondisi yang sulit saat ini melalui 1100 triliun belanja negara maka 40% yang telah dialokasikan untuk bisa tetap menggerakkan ekonomi negara. Namun hal penting lainnya adalah mendidik para UMKM untuk dapat berkolaborasi dan juga untuk mengurangi risiko kegagalan. “Ini semua harus dijahit dalam sebuah ekosistem,” terang Ronald.

UMKM Naik Kelas

Para UMKM ini adalah bagian yang sangat penting untuk ketahanan ekonomi Indonesia. Karena itu APINDO memiliki program APINDO UMKM memiliki konsep SDG (Sustainable Development Goals) Center yang memiliki 17 goals. Bagi Ronald untuk dapat membuat sebuah movement UMKM naik kelas, tentu dibutuhkan ekosistem atau stakeholders yang dapat mendampingi ini semua.

Ronald pun berujar, “Karena untuk menjadi pengusaha yang sukses, itu tidak bisa hanya jago berbisnis saja. Tidak bisa otak kiri saja. Tetapi harus bisa bermanfaat untuk orang banyak dengan aspek 360 derajat”. “Selain jago berbisnis, jago mengelola keuangan,¬† personal development harus tumbuh, meningkatkan integritas, keluarganya juga solid, sehingga kehidupannya juga seimbang,” Ronald melanjutkan penjelasannya. Karena itu dibutuhkan kerja sama untuk continuous learning. Kerja sama yang dibutuhkan adalah dengan 5 unsur Pentahelix: UKM, Asosiasi, Akademisi, pemerintah, dan swasta. Karena berkaitan dengan banyak aspek, maka 5 unsur Pentahelix ini harus mendapatkan win. Tidak bisa hanya sebagian yang untung, karena itu harus terukur.

Inilah framework yang saat ini sedang dibangun oleh APINDO yang terstruktur, terukur, dan bekelanjutan. Sehingga pendampingan yang diberikan APINDO tidak bisa hanya sementara. Continuous learning (kaizen) khususnya personal development, dapat terukur melalui SDG. Diharapkan perusahaan-perusahaan besar dapat memberikan bantuannya. Semua unsur pentahelix pun memiliki KPI atau tugas dan penangggung jawab untuk membangun ekonomi bangsa untuk mengurangi kesenjangan dan menambah tenaga kerja.

Namun Ronald mengamati bagaimana cara “menjahit” masih dilakukan secara sendiri-sendiri. Karena itu APINDO berupaya untuk merumuskan KPI-KPI tertentu sehingga dapat terukur dan memperlihatkan hasil dari kerja demi kepentingan UMKM tetapi juga donor dan resource. Terutama saat ini di era ESG (Environmental Social Governance). Mereka yang memiliki ESG reporting akan memiliki market kapitalisasi dari perusahaan-perusahaan atau instansi yang membantu.

SDG center inilah yang merupakan konsep besar dari pendampingan UMKM naik kelas.