Virus COVID-19, Memahami Mutasi dan Replikasi

(Business Lounge Journal – Medicine)

Varian dan subvarian virus corona baru sepertinya tidak ada hentinya dikabarkan muncul lagi dan muncul lagi. Masyarakat dunia nampak jenuh dengan COVID-19 yang tidak berhenti menjadi pemberitaan media massa. Sebenarnya bagaimanakah suatu varian baru dapat berkembang?

Ketika Omicron, pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada tahun 2021, Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Joe Phaahla, mengatakan para ilmuwan prihatin dengan penemuannya karena tingginya jumlah mutasi dan penyebarannya yang cepat di kalangan anak muda di Gauteng, provinsi terpadat di negara itu. Beberapa hari kemudian setelah varian diidentifikasi, beberapa negara mengatakan mereka menemukan kasus B.1.1.529, yang kemudian dinamakan Omicron. Infeksi Omicron kemudian dilaporkan di Belgia, Hong Kong, dan Israel, kemudian berkembang ke seluruh dunia

Cara Virus Berkembang

Saat virus bereplikasi, atau membuat salinan dirinya sendiri, perubahan kecil, atau “mutasi”, adalah hal yang normal terjadi. Virus dengan satu atau lebih mutasi kemudian dianggap sebagai varian dari aslinya. Dr. Deepti Gurdasani, ahli epidemiologi klinis di Queen Mary University of London menjelaskan bahwa ketika virus beredar luas di seluruh populasi maka kemungkinannya bermutasi menjadi lebih tinggi.

Sebagian besar mutasi virus di dalam perjalanannya dapat menjadi “variant of concern” dimana varian harus ditemukan terkait dengan satu atau lebih perubahan yang diidentifikasi sebagai “pada tingkat signifikansi kesehatan masyarakat global”. Hal yang diperhatikan adalah peningkatan penularan, yang menyangkut penyebaran, atau peningkatan virulensi, yang berarti tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya. Gurdasani juga menjelaskan bahwa varian baru biasanya memiliki kemampuan lebih untuk lolos dari vaksin, sehingga memiliki sifat yang berbeda, yang berubah atau bergeser. Bill Hanage, seorang ahli epidemiologi di Universitas Harvard juga mengatakan hal yang sama bahwa varian baru dapat mengesampingkan kekebalan yang dihasilkan oleh vaksin. Sedangkan Jinal Bhiman, ilmuwan medis utama di Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afrika Selatan, mengatakan yang sama bahwa varian baru berpotensi menghindari respons kekebalan lain dari varian lain. Selama bereplikasi, virus memiliki kemampuan untuk bermutasi.

Mutasi Tidak Membuat Perbedaan Signifikan
Namun, tidak perlu dikuatirkan setiap kali terjadi mutasi baru, sejauh ini keparahan yang ditimbulkan virus SARS-COV2 ini terus menurun dan tidak lagi mengkuatirkan. Mutasi umum yang terjadi pada virus RNA sebagian besar tidak akan membuat perbedaan yang signifikan, beberapa mutasi terbukti terjadi penularan lebih cepat atau peningkatan pelepasan dari antibodi spesifik.

Omicron sendiri telah memiliki 53 mutasi relatif terhadap strain referensi Wuhan-Hu-1, dengan 30 substitusi non-sinonim dalam gen S pengkodean Spike saja.

Mutasi muncul sebagai produk sampingan alami dari replikasi virus. Virus RNA biasanya memiliki tingkat mutasi yang lebih tinggi daripada virus DNA. Akan tetapi, virus corona membuat lebih sedikit mutasi daripada kebanyakan virus RNA karena mereka menyandikan enzim yang mengoreksi beberapa kesalahan yang dibuat selama replikasi.

Dalam kebanyakan kasus, nasib mutasi yang baru muncul ditentukan oleh seleksi alam. Mereka yang memberikan keunggulan kompetitif sehubungan dengan replikasi virus, transmisi, atau melarikan diri dari kekebalan akan meningkat frekuensinya.

Mutasi juga dapat meningkat dan menurun frekuensinya karena peristiwa kebetulan. Misalnya, “efek pendiri” terjadi ketika sejumlah virus individu membentuk populasi baru selama transmisi. Mutasi yang ada dalam genom nenek moyang virus ini akan mendominasi populasi.

Meskipun istilah mutasi, varian, dan strain sering digunakan secara bergantian dalam menggambarkan epidemiologi SARS-CoV-2. Genom yang urutannya berbeda sering disebut varian. Istilah ini agak kurang tepat karena dua varian bisa berbeda, bisa satu mutasi atau banyak. Varian adalah strain ketika memiliki perbedaan antigenisitas, penularan, atau virulensi.