Ragam Sartorial Look Para Pemimpin Dunia

(Business Lounge Journal – News and insight)

Walau telah selesai, namun KTT G20 yang berlangsung di Bali minggu lalu merupakan suatu event kelas dunia yang sangat sukses dan banyak hal yang menarik dari pertemuan para kepala negara dunia ini. Salah satu hal yang menarik adalah sartorial look 20 orang pemimpin-pemimpin dunia yang hadir.

Sartorial look ini sangat penting bagi para pemimpin, apalagi kepala negara. Semua mata memandang cara mereka berpakaian. Kerapihan teknik jahitan, tampilan gaya yang bersih perlu diperhatikan. Bagi para pemimpin pria, selain jas ternyata juga salah satu yang membuat mereka tampak sama kerennya adalah ketika semua mengenakan kemeja putih. Kemeja putih yang selama ini kita kenal menjadi ciri Presiden Joko Widodo, juga merupakan salah satu dress code pada acara KTT G20. Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak tetap mengenakan kemeja putih dan dasinya yang bersih selama pertemuan dengan rekan-rekannya dan secara teratur mengenakan blazernya dari penjahit muda London Henry Herbert.

Peter Bevan, penata pakaian pria yang berbasis di London mengatakan “Politisi merasa mereka membutuhkan gravitas yang datang dengan dasi sebagai lawan dari kerah terbuka yang santai”. Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau melepaskan diri dengan sesekali membuka kancing atas mereka kemeja putih mereka, melepas dasi dan menggulung lengan baju, dan tampak santai tertawa lepas, senyuman di wajah mereka.

Untuk makan malam pertama, sebagai acara selamat datang yang dibawakan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo dan istrinya Ibu Iriana Widodo, beberapa pemimpin dunia, termasuk Sunak; Trudeau; Perdana Menteri Belanda Mark Rutte; Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan para pemimpin dunia lainnya, berganti menjadi kemeja batik tradisional dengan teknik pewarnaan tahan lilin yang memiliki cetakan motif yang detail. Warna warni batik mewarnai KTT G20 dan dengan sendirinya menaikkan pamor batik Indonesia di dunia internasional. Batik dulu tidak sama dengan batik sekarang. Tentunya batik kini telah menjadi kain yang berkelas, dikenal di dunia. Bangga bukan?

Walaupun demikian, malam itu ada juga pemimpin yang tidak tampil dengan batik seperti Putra Mahkota Arab Saudi dan Perdana Menteri Mohammed bin Salman dan Macron. Macron mengenakan kemeja putih dengan celana panjang dan Salman mengenakan pakaian tradisional dari Jazirah Arab dengan bisht berpotongan emas (jubah yang biasanya terbuat dari bulu unta dan wol kambing) yang dikenakan dengan keffiyeh dan agal, syal tradisional dengan aksesorisnya.

Sedangkan pemimpin wanita seperti Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, yang juga merupakan seorang penata rias yang tajam dan menyukai warna-warni, memakai jaket kotak-kotak oranye dan merah muda, yang sebelumnya dipakai untuk konferensi pers bersama dengan perdana menteri Albania Edi Rama pada bulan Oktober dan blazer angkatan laut dengan pinggang bersulam halus yang dikenakan untuk bertemu dengan perdana menteri Makedonia Utara Dimitar Kovacevski pada bulan yang sama. Istri-istri dari para pemimpin dunia yang datang juga berpakaian menarik. Salah satunya adalah ibu negara Korea Selatan dengan tampilan yang chic dan tampak muda.

Sartorial look ini bisa kita tiru, batik dan kemeja putih bagi pria serta warna-warni yang chic merupakan tampilan menarik yang bisa semua orang gunakan.