menanggulangi stress karyawan

Menanggulangi Stress Karyawan Setelah Pandemi

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Dapat dipastikan, semua bisnis telah kembali bergerak menuju normal pada hari-hari ini. Bahkan berbagai pameran dan public event pun telah mulai berlangsung dengan sukses. Apakah semua sudah kembali normal? Atau apakah para pemberi kerja telah berhasil menanggulangi stress karyawan?

Seperti akhir minggu lalu, ketika saya mengunjungi sebuah pameran karya seni di JCC, maka pada hari yang bersamaan setidaknya ada lebih dari 3 acara lainnya yang juga terselenggara di bilangan JCC dan GBK tersebut.

Semua memang sudah kembali beraktivitas kembali.

Para pekerja pun sudah kembali bekerja di kantor walaupun beberapa perusahaan tetap memberikan pilihan jika para pekerja masih merasa lebih ‘aman’ untuk mengkombinasikan dengan bekerja dari rumah.

+/- Pandemi

Pada bulan-bulan di awal pandemi, Pusat Pengendalian Penyakit AS melaporkan bahwa gejala gangguan kecemasan meningkat tiga kali lipat dan gejala gangguan depresi meningkat empat kali lipat. Kita memang tidak bisa lupa ketika kita semua harus tinggal di rumah selama berbulan-bulan dan tidak bisa beraktivitas dengan normal.

Bukan hanya Amerika yang mengalaminya, seluruh dunia juga. Bahkan di Jepang, angka kematian karena bunuh diri justru lebih tinggi dari kematian karena Covid-19. Setidaknya itu yang ditunjukkan oleh data statistik Pemerintah Jepang.

Namun di sisi lain, pandemi telah membangkitkan gerakan tolong menolong, bahu membahu, dan gotong royong, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Begitu juga adanya alternatif bekerja secara hybrid telah memberikan sebubah pilihan yang menguntungkan bagi pekerja. Sebuah penelitian yang dilakukan Universum, sebuah sebuah perusahaan spesialis employer branding yang berkantor pusat di Stockholm, Swedia, menunjukkan 78% dari respondennya mengatakan bahwa bekerja secara hybrid telah meningkatkan kesejahteraan mereka.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan erat rasa aman oleh karena ada di rumah dan bersama-sama dengan keluarga mereka. Penting untuk perusahaan dapat menanggulangi stress karyawan.

Bayang-bayang pandemi

Ketika semua telah kembali beraktivitas, maka bukan berarti dampak pandemi telah sirna tidak tersisa. Sebab tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi telah menimbulkan dampak bagi banyak sektor di seluruh dunia. Termasuk adanya krisis kesehatan mental yang terjadi pada banyak pekerja – seperti yang telah kita bahas di atas.

Universum pun melakukan penelitian untuk memahami tren ini. Universum berupaya untuk mengkaji, dalam hal kesejahteraan emosional, apa yang diharapkan karyawan dari pemberi kerja? Lalu, apakah peran yang tepat bagi pengusaha terkait dengan hal ini?

Selama bulan April dan Mei 2022, Universum mensurvei lebih dari 1.800 mahasiswa dan profesional muda (35 tahun ke bawah) yang mewakili 19 negara di seluruh APAC (Asia Pasifik), EMEA (Eropa, Timur Tengah, dan Afrika), Amerika Latin, dan Amerika Utara.

Melalui survei ini, Universum berupaya mengeksplorasi bagaimana para perusahaan pemberi kerja dapat mendukung dan memprioritaskan kesejahteraan karyawan di dunia kerja pascapandemi. Perusahaan harus dapat menanggulangi stress karyawan.

Baca juga: Pandemi Ternyata dapat Picu Lahirnya Banyak Startup Tahun ini

Harapan untuk kesejahteraan di tempat kerja

Dari hasil survei dapat dilihat bahwa mahasiswa dan profesional muda ternyata sangat mengharapkan pemberi kerja memberikan dukungan untuk kesejahteraan mereka. Di antara siswa, 94% mengatakan bahwa kesejahteraan karyawan harus menjadi prioritas bagi pemberi kerja (proporsi yang tinggi ini berlaku di seluruh wilayah).

Sedangkan di antara profesional muda, rasionya hampir sama; 95% mengatakan bahwa penting bagi mereka untuk bekerja di perusahaan yang memprioritaskan mereka.

Baik pelajar maupun profesional muda mengatakan bahwa ketika pemberi kerja memberikan dukungan seperti ini, maka otomatis akan meningkatkan produktivitas di tempat kerja. Secara keseluruhan, 92% mengatakan bahwa mendapatkan dukungan emosional dan kesehatan akan membuat mereka menjadi lebih produktif.

Hal ini pun diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh National Safety Council dan NORC di University of Chicago. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dengan rata-rata 1.000 orang karyawan akan kehilangan sebesar US$1,5 juta dalam produktivitas ketika karyawan mengalami depresi (ini dihitung berdasarkan gaji rata-rata pada sektor industri) — dan ini terkait biaya perawatan kesehatan dan kecanduan yang harus ditanggung oleh pemberi kerja.

Bagi para responden adalah penting untuk bekerja di perusahaan yang mengutamakan kesehatan dan kesejahteraan karyawan. Mendapatkan dukungan ketika karyawan membutuhkannya terutama dalam hal kesehatan dan kesejahteraan, akan membuat karyawan menjadi lebih produktif. Perusahaan penting untuk menanggulangi stress karyawan.

Kesejahteraan karyawan: Harapan vs kenyataan

Terlepas dari keinginan yang memang diharapkan oleh para pekerja di seluruh dunia (untuk bekerja di perusahaan yang mendukung kesejahteraan mereka) maka banyak mahasiswa dan profesional mengatakan bahwa perusahaan saat ini belum dapat memenuhi hal tersebut.

Di antara responden mahasiswa, 94% mengatakan bahwa penting untuk bekerja di perusahaan yang memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan karyawan. Namun, pada kenyataannya hanya 24% dari mereka yang mengatakan bahwa mereka percaya perusahaan dapat memenuhi keinginan mereka.

Sedangkan pada responden profesional muda, angkanya hanya sedikit lebih baik: 95% profesional muda ingin bekerja untuk perusahaan yang memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan karyawan. Namun pada kenyataannya, hanya 36% dari responden yang percaya bahwa perusahaan dapat memenuhi komitmen untuk itu.

Terdapat sebuah kesenjangan yang cukup significant antara harapan dan kenyataan. Ini adalah sinyal penting bagi pemberi kerja yang berharap dapat menciptakan lingkungan yang menginspirasi talenta muda untuk bertahan.

Menanggulangi Stress Karyawan

Sekarang kita sudah sangat memahami bahwa terjadi hubungan timbal balik antara perusahaan dan pekerjanya. Ketika perusahaan dapat menjamin kesejahteraan karyawan, maka karyawan akan menjadi produktif. Hal ini akan berbalik kembali menjadi keuntungan bagi perusahaan.

Karena itu penting bagi perusahaan untuk memberikan dukungan kepada para karyawan dan memastikan karyawan merasa nyaman ketika mereka membutuhkan bantuan. Karena itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para pemberi kerja:

  1. Perbaiki pengaturan ruang kerja. Ingat, bahwa sering kali kantor adalah rumah kedua bagi para karyawan. Mereka pasti menginginkan sebuah rasa aman dan nyaman, seperti ketika mereka berada di rumah mereka sendiri. Jangan lupa untuk memperhitungkan sistem kerja hybrid. Jika Anda mengalami kesulitan untuk menerjemahkan keinginan karyawan, Anda dapat mendiskusikan dengan para kepala bagian atau team leader yang mungkin saja lebih mengetahui bagaimana mengatur lay out ruang kerja mereka sehingga dapat mendukung produktivitas dan kesejahteraan mereka.
  2. Jangan hanya sekedar menawarkan beberapa kebijakan terkait kesehatan; namun kampanyekan kebijakan-kebijakan tersebut. Sebagian besar pemberi kerja dapat saja menawarkan beberapa jenis dukungan untuk kesehatan mental dan kesejahteraan emosional, namun apakah pemberi kerja juga memastikan bahwa semua pekerja telah mengetahuinya? Pengusaha harus mempertimbangkan tidak hanya menawarkan tunjangan seperti mental-health days off, rencana kesejahteraan karyawan, dan penilaian/pemeriksaan kesehatan, tetapi juga selalu mengingatkan karyawan bahwa semua dukungan kesehatan dari perusahaan tersebut dapat digunakan.
  3. Tawarkan lebih banyak dukungan untuk manajer yang mengalami stres. Hampir setengah (47%) profesional yang disurvei oleh Universum mengatakan bahwa berada pada posisi manajerial yang lebih tinggi akan berdampak negatif pada kesejahteraan mereka. Sering kali mereka menjadi lebih stres dan kelelahan sehingga menjadi gagal dalam pencapaian program pengembangan kepemimpinan. Karena itu mereka harus dibantu untuk belajar mengelola beban emosional ketika mereka ada pada posisi yang lebih tinggi. Berikanlah keyakinan pada mereka bahwa tidak salah jika mereka secara proaktif mencari dukungan untuk kesejahteraan mereka.
  4. Desainlah sistem kerja hybrid untuk mendukung kesejahteraan para pekerja. Seperti telah kita bahas di atas bahwa sistem kerja hybrid telah meningkatkan kesejahteraan karyawan. Menawarkan fleksibilitas yang lebih besar kepada karyawan akan membantu menyeimbangkan kehidupan kerja dan kehidupan pribadi mereka. Untuk itu perlu dibantu agar para karyawan dapat terbantu ketika mereka memerlukan keterampilan baru dalam mengelola tim hybrid mereka. Semua dapat bekerja secara produktif di rumah dengan tetap dapat berkolaborasi secara efektif dengan tim yang bekerja secara tersebar. Untuk itu cobalah melakukan survei pada karyawan Anda untuk memahami manfaat dan tantangan pekerjaan hybrid. Lalu cobalah untuk mengatasi hambatan yang mungkin timbul sejak dini.