bukan investasi finansial

Interview Liza Markus (Gajah Gallery): Bukan Hanya Investasi Finansial Karya Seni Itu Investasi Sejarah

(Business Lounge Journal – Interview Session)

Liza Markus adalah Gallery Manager dari Gajah Gallery. Sebuah galeri yang didirikan pada tahun 1996 di Singapura dan kemudian pada April 2022 ini lalu membuka galeri di Jakarta. Secara spesifik galeri ini mendukung para seniman di Asia Tenggara untuk menjadi perekam sejarah di regionnya. Sehingga karya seni bukan investasi finansial semata.

Karena itu Gajah Gallery telah bekerja secara dekat dengan seniman-seniman, seperti kelompok seni rupa jendela.

Investasi Sejarah

Gajah Gallery menyadari benar bahwa seni rupa bukan investasi finansial semata. Melainkan sebuah investasi sejarah yang tidak akan terlupakan. Hal ini juga yang ditanamkan kepada para kolektornya. Para kolektor yang yang tertarik dengan sejarah dan budaya. Sehingga para kolektor memiliki visi untuk membangun koleksinya secara jangka panjang dengan paradigma budaya dan sejarah.

“Galeri kami tidak memandang karya seni sebagai investasi finansial semata, namun memandang bahwa nilai-nilai karya seni itu terletak pada kepentingan budaya dan sejarahnya,” tutur Liza. “Memang sejak lama karya seni selalu mendapatkan kebanggaan di rumah-rumah kolektor. Tetapi kami melihat nilai karya seni itu jauh lebih dari hanya investasi finansialnya, tetapi investasi dan tanggung jawab budaya dan sejarahnya,” lanjut Liza.

Salah satu contohnya adalah pameran retrospektif Semsar Siahaan (1952 – 2005), salah seorang seniman social political penting di Asia Tenggara yang diadakan oleh Gajah Gallery. Pameran ini menunjukkan sebuah dedikasi Gajah Gallery terhadap tujuan budaya dan sejarah yang selalu dikedepankan.

Saat ini, Gajah Gallery juga sedang dalam tahap untuk mengikutsertakan karya-karya I Gusti Ayu Kadek Murniasih menjadi bagian National Gallery Singapore.

Lakukan Riset

“Sebagai sebuah region yang masih mencari-cari jati dirinya dan jati diri budayanya, kami sebagai galeri merasa bertanggung jawab mengedepankan sejarah seni dan riset sejarah seni,” terang Liza. Itulah sebabnya Gajah Gallery terus bekerja sama dengan curator, sejarawan seni, serta para periset.

Gajah Gallery dan para perisetnya sedang mempersiapkan untuk merilis buku Sejarah Seni Rupa Indonesia.

Dukungan untuk Seniman

Gajah Gallery terus bekerja keras untuk mendukung para senimannya dapat berekspresi, kreatif, dan terus melakukan eksperimen.

Gajah Gallery pun mendirikan studio pengecoran dan art lab di Yogyakarta sehingga para seniman dapat menghasilkan pastung-patung yang berkualitas. Termasuk sistem pengecoran perunggu yang dipelajari secara khusus.

Lalu para seniman pun dibawa untuk memamerkan karya seninya ke kancah internasional dengan mengikuti berbagai international art fair. Dengan demikian Gajah Gallery berharap tercipta sebuah pondasi yang stabil bagi para seniman untuk terus berkarya. Melalui international art fair ini juga diharapkan kepercayaan kolektor terhadap seni rupa para seniman di Asia Tenggara semakin tinggi.

Beberapa nama yang telah menjadi bagian dari inovasi Gajah Gallery, seperti mengembangkan patung-patung Ashley Bickerton, seorang pematung Inggris yang telah puluhan tahun tinggal di Bali; Susann Victor, seorang seniman asal Singapura; Yunizar, seniman Indonesia dan beberapa nama lainnya.

Art Jakarta 2022

Gajah Gallery sedang bersiap untuk mengikuti Art Jakarta 2022.  Sebuah persiapan yang telah dimulai sejak 6 bulan yang lalu untuk menampilkan Double Helix Hammerhead dari Ashley Bickerton. Sebuah patung berukuran 2,5 meter.

Selain itu, Gajah Gallery juga akan menampilkan sebuah karya seni berukuran 5 meter dari  Yunizar. Penasaran?

Sampai jumpa di Art Jakarta 2022!