Paxlovid, Bertempur Menghadapi Omicron BA.4 dan BA.5

(Business Lounge Journal – Medicine)

Peperangan menghadapi COVID-19 terus berlangsung hingga hari ini.  Semakin meningkatnya penyebaran BA.4 dan BA.5, subvariant Omicron membuat kehadiran obat menjadi sesuatu kebutuhan. Kini, ketika merebaknya BA.4 dan BA.5 di berbagai negara di dunia, Paxlovid menjadi buah bibir yang diperbincangkan. Kita perlu mengenal Paxlovid sebab obat ini adalah salah satu pilihan yang mudah untuk perawatan di rumah sendiri bagi pasien-pasien yang melakukan isolasi mandiri.

Apa itu  Paxlovid?

Paxlovid adalah pengobatan COVID-19 terbaru di dunia, yang telah diberikan otorisasi penggunaan darurat (EUA) oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika pada bulan Desember 2021. Obat ini  sudah direkomendasikan juga oleh 5 organisasi profesi di Indonesia, yaitu Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dalam Buku Pedoman Tatalaksana COVID-19 Edisi 4 yang baru saja terbit pada Januari 2022. Bahwa apabila Remdesivir tidak tersedia maka pemberian antivirus disesuaikan dengan ketersediaan obat di fasyankes masing-masing, dengan pilihan sebagai berikut:

  • Favipiravir (sediaan 200 mg) loading dose 1600 mg/12 jam/oral hari ke-1 dan selanjutnya 2 x 600 mg (hari ke 2-5), ATAU
  • Molnupiravir (sediaan 200 mg, oral), 800 mg per 12 jam, selama 5 hari, ATAU
  • Nirmatrelvir/Ritonavir (sediaan 150 mg/100 mg dalam bentuk kombo dengan merek dagang Paxlovid), Nirmatrelvir 2 tablet per 12 jam, Ritonavir 1 tablet per 12 jam, diberikan selama 5 hari

Namun sebenarnya Paxlovid bukan untuk semua orang, melainkan  untuk orang-orang dengan syarat berikut:

  • Berusia minimal 12 tahun ke atas
  • Memiliki berat badan setidaknya 44 kg
  • Berisiko tinggi untuk penyakit menjadi parah.

Kelebihan Paxlovid

Paxlovid  adalah pil antivirus  yang dikembangkan oleh Pfizer, yang diklaim mampu melawan varian Omicron. Paxlovid merupakan kombo dari dua jenis antivirus yaitu Nirmatrelvir dan Ritonavir. Dikemas dalam bentuk obat oral dan dapat  membantu menjaga pasien berisiko tinggi agar tidak harus dirawat di rumah sakit.  Dengan demikian resiko terjadinya keparahan menurun  hingga 89% sehingga angka kematian dan  BOR juga menurun.

Selain harganya yang lebih murah daripada antivirus lainnya, penurunan risiko rawat inap dan kematian ini diteliti  dalam uji klinis  dan mendorong National Institutes of Health (NIH ) Amerika  untuk menjadi prioritas dalam terapi COVID-19. Pemerintah AS saat ini memberikan obat ini secara cuma-cuma kepada masyarakat sebagai respons terhadap keadaan darurat kesehatan masyarakat.

Menurut Scott Roberts, MD, spesialis penyakit menular Yale Medicine. “Ini benar-benar pil antivirus oral pertama kami yang manjur untuk virus ini. Ini menunjukkan manfaat yang jelas, dan itu benar-benar dapat mencegah rawat inap dan kematian pada orang yang berisiko tinggi.”

Paxlovid bukanlah satu-satunya pil yang tersedia untuk mengobati COVID-19.  Namun bila dibandingkan dengan Molnupiravir yang telah diberikan EUA oleh FDA pada bulan Desember 2021 untuk pil dari Merck yang disebut Lagevrio, neberapa penelitian menunjukkan bahwa Molnupiravir hanya memiliki  30% pengurangan risiko rawat inap dan kematian akibat COVID-19.

Sehingga dengan demikian Paxlovid dianggap lebih ampuh dalam mengurangi risiko rawat inap. Obat ini dianggap sebagai peningkatan dari perawatan seperti Remdesivir (disetujui oleh FDA pada Oktober 2020), yang diberikan melalui suntikan intravena (IV).  Seiring dengan terus meningkatnya penelitian, perkembangan dunia obat-obatan melawan COVID-19 membuat kekuatiran terhadap keparahan penyakit COVID-19 pun menurun.