Keuntungan dan Risiko dalam Bisnis

(Business Lounge Journal – Entrepreneurship)

Ketika berbisnis, kita akan mempertimbangkan dua hal yang utama, pertama pendapatan (return) tentunya dan kedua risiko (risk). Bisnis akan sukses saat bisa memperoleh pendapatan sebesar mungkin dengan risiko yang sekecil mungkin. Normalnya seorang pengusaha akan menghitung kedua hal ini pada setiap keputusannya. Saat melihat peluang bisnis maka dua hal ini yang akan dilihat oleh seorang pengusaha. Ini dari semua besaran bisnis lho, dari pengusaha kecil, menengah, besar akan melihat dengan kacamata yang sama. Seorang pedagang sepatu yang punya toko kecil, membukanya karena perhitungan pendapatan dan resiko. Namun pengusaha besar yang membangun pembangkit listrik hingga triliun rupiah, memutuskannya sesudah memastikan akan diperoleh pendapatan yang besar dengan resiko yang dapat dikelola.

Browsing saja di youtube “bisnis modal kecil untung besar” maka akan banyak video yang muncul di sana dengan viewer yang berjumlah ratusan ribu hingga jutaan. “Low risk high return business” banyak sekali idenya, garden tools and service center, sports coaching business, customized jewelry designer, logo design services, outdoor adventures business, personal trainer, vintage toy producers, dance instructor, freelance writer services, house cleaning business, financial planning services, pet sitting business, local marketing services, dan masih segudang ide lagi yang bisa dicatat.

Return dan risk keduanya berhubungan dengan ‘cuan’ atau ‘hepeng’. Kalau bisnis bakmi ayam, pendapatannya adalah harga jual dikali jumlah pembeli atau volume penjualan. Bisnis dikatakan menarik karena harganya bisa tinggi dan yang beli banyak. Secara satuan per kilogram jual beras itu tidak seberapa harganya, namun yang beli pasti banyak. Bisnis rumah harganya tinggi namun yang beli tidaklah banyak. Bisnis kopi, per kilogram tidak terlalu mahal, sekarang ini penggemar kopi melonjak. Bisnis tanaman juga begitu, harga per tanaman yang biasa termasuk murah, tapi pembelinya banyak juga.

Risk juga begitu berhubungan dengan uang, apa maksudnya “risikonya besar nih?” Risiko kehilangan modal dalam bisnis yang dimaksud. Pedagang beras risikonya sebesar modal bisnis beras, pedagang bunga, pengusaha real estase, pengusaha kopi, dan lainnya mengatakan risiko itu adalah kemungkinan modal hilang. Semakin besar modal ditanamkan semakin besar risikonya. Selain risiko dalam bentuk modal, adalah risiko-risiko yang lain, tapi semuanya dikonversi dalam ukuran keuangan. Risiko kehilangan modal menjadi habis bisa cepat dan bisa lambat. Ketika modal cepat hilang ini “high risk” ketika nggak mudah hilang ini “low risk”. Di bisnis keuangan yang berisiko rendah ada pada deposito, yang dijamin modal aman. Berisiko tinggi, menanam modal pada “futures trading” yang dalam sedetik modal akan tergerus habis.

Life cycle sebuah bisnis akan menggambar kondisi return dan risk. Return akan terus meningkat seiring dengan pasar yang berkembang bila mengikuti hukum inovasi. Saya tidak membahas inovasi di sini, katakanlah saja inovasi memenuhi kebutuhan pelanggan, maka penyebarannya akan meluncur dari mulut ke mulut. Percepatan penyebarannya dilakukan melalui iklan dan promosi, sehingga pasar semakin besar dan semakin besar. Bisnis akan sampai pada infelection point yaitu kondisi return yang paling tinggi dan risk yang terkendali, sebab kemapanan sebuah bisnis. Life cycle sebuah bisnis memiliki rentang waktu yang berbeda-beda, bisa hingga ratusan tahun seperti Coca-Cola. Bisa yang musiman saja sudah hilang, atau adanya teknologi baru seperti bisnis kamera yang sekarang marak dengan kamera digital.  Apakah pendapatan akan turun? Statistik mengatakan begitu, pengusaha harus melakukan diversifikasi dan juga peremajaan dengan adaptasi kepada perilaku pelanggan, mungkin ini satu pembahasan tersendiri untuk mengertinya.

Sebuah startup sekarang ini sebenarnya menghitung return dan risk lebih awal dibandingkan pola bisnis sebelumnya. Penting menghitung di awal, biasanya untuk bisnis konstruksi, properti, tambang, listrik,  infrastruktur mencoba menghitung dengan melakukan feasiblity study. Dikatakan feasible kalau ditemukan return yang tinggi dengan rentang waktu tertentu dengan risiko bisa dikendalikan. Kalau kondisi ini tidak dipenuhi bisnis itu tidak feasible. Startup memiliki pendekatan yang berbeda, akan dicoba berulang kali dalam skala kecil untuk menemukan return dengan volume yang besar atau dikenal dengan istilah customer discovery. Startup harus membuang model bisnis statis dan mengadopsi model bisnis yang dinamis, ini berarti selalu siap berubah untuk semakin baik dan semakin baik. Nah startup sangat menekankam proses meningkatkan revenue dan menurunkan risk melalui bisnis model yang dinamis yang berujung pada return dan risk.

Sudah cukup dengan awal yang baik? Tidak cukup, masih diperlukan oleh pengusaha melakukan “hedging” dalam mengelola risiko. Bisa menggunakan asuransi, bisa juga menggunakan cadangan, ini bicara bagaimana mengamankan modal lho, resiko lain dikelola dengan cara lain. Seiring bertumbuhnya pendapatan, seiring itu juga bertumbuhnya risiko. Proses sebuah bisnis akan bertumbuh kompleksitasnya. Ketika jumlah pelanggan yang semakin membesar diperlukan banyak orang, berbeda lokasi, berbeda produksi, semuanya ini juga akan menimbulkan risiko. Coca-cola misalnya mempunyai pabrik di seluruh dunia, bagaimana menjamin rasanya tidak berbeda antar satu negara? Rasa yang berbeda beresiko menurunkan jumlah pelanggan dan pendapatan perusahaan. Saat seperti ini perusahaan akan membentuk unit “quality control” dimana ruang lingkup pekerjaannya meminimalkan risiko karena kualitas yang turun. Risiko terjadinya “fraud” juga perlu dikelola, umumnya perusahaan yang besar memiliki unit “internal audit” untuk memastikan semuanya berjalan baik.

Rupanya ini adalah bagian dari hidup seorang pengusaha, senantiasa akan bersentuhan dengan return dan risk. Memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur sendiri mengandung risiko. Tidak seperti seorang pegawai, pengusaha akan memikirkan setiap hari darimana cash didapatkan. Cash memang kebutuhan nomor satu dalam bisnis, untuk apa? Gajian pegawai, pembelian bahan mentah, pembayaran biaya operasional, sewa kantor, pembayaran hutang dan pengeluaran lainnya. Proses ini mengandung risiko yang tidak kecil, dan perlu adrenalin yang kuat untuk menanggungnya. Lalu kenapa banyak orang mau jadi pengusaha? Hasil yang didapatkan lebih besar dari risiko yang harus ditanggung. Kebanyak pengusaha memiliki risk profile sebagai seorang risk taker, definisinya menurut kamus a person who is willing to do things that involve danger or risk in order to achieve a goal (Merriam Webster). Bisnis menuntut seorang pengusaha untuk memiliki mental yang siap dalam menghadapi risiko.

Sebegitu pentingnya return dan risk dalam bisnis hingga memunculkan berbagai cara mengelolanya, meningkatkan return dan menurunkan risk. Sebagai penutup hal yang penting dalam mengelolanya adalah memiliki rencana. Pengusaha tanpa memiliki rencana, sama saja merencanakan kegagalan. Makanya dalam bisnis dikenal business plan, bisa untuk jangka pendek – satu tahun atau jangka panjang lebih dari lima tahun. Pandemi adalah kejadian yang membuat bisnis diuji ketahanannya, dan tahun 2021 segera akan akan berakhir, penting sekali sebelum masuk tahun 2022, susun business plan. Optimis bahwa tahun 2022 return akan meningkat dan risk akan menurun! Salam semangat.