Perspektif CHRO dalam Memimpin Perubahan Selama Pandemi

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Selama setahun terakhir, McKinsey mengadakan serangkaian percakapan dengan Chief Human Resource Officer (CHRO) dari Eropa dan Asia-Pasifik untuk mengeksplorasi agile working practices yang muncul di organisasi mereka dalam konteks pandemi COVID-19. Para pemimpin SDM ini mewakili perusahaan yang berasal dari berbagai sektor (telekomunikasi, perbankan, ritel, dan asuransi) dan berada pada berbagai tahap agile transformation mereka. Mereka ternyata menghadapi tantangan yang serupa dalam mengelola SDM selama pandemi ini.

Dampak pandemi dan perubahan kerja jarak jauh

Semua CHRO sepakat bahwa pandemi COVID-19 telah menciptakan tantangan yang berat terkait dengan cara kerja mereka. Banyak juga yang berpendapat bahwa krisis dapat menciptakan peluang baru, karena krisis membuat terlihat elemen apa yang  perlu diubah, dikembangkan lebih lanjut dari organisasi mereka. Salah satu trademark dari agile organization adalah model orang yang dinamis, didukung oleh budaya komunitas yang kompak dan punya jaringan informal yang kuat. CHRO mengamati bahwa pengaturan kerja jarak jauh pada awalnya tampak menghambat inovasi dan pemikiran kolaboratif: orang-orang kehilangan pertemuan secara langsung dan  in-person relationships. Namun tidak demikian bagi CHRO yang mewakili perusahaan telekomunikasi Australia. Lingkungan virtual sebenarnya memungkinkan lebih banyak koneksi daripada biasanya, karena itu komunikasi secara virtual membantu membangun hubungan yang lebih dekat di dalam dan di antara tim.

Pandemi juga memungkinkan penggunaan teknologi yang canggih, sehingga organisasi dapat bereaksi dengan cepat terhadap kebutuhan bisnis dan stakeholder. Seorang CHRO dari sebuah perusahaan asuransi mencatat bahwa organisasinya telah lama membutuhkan solusi jarak jauh yang lebih canggih untuk bekerja dengan mitra luar negerinya yang luas. Sebelum pandemi, inisiatif ini tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan, karena kurangnya dukungan dan urgensi. Namun guncangan pandemi dan akibatnya mendorong perusahaan untuk membuat inisiatif tersebut menjadi kenyataan. Hal ini karena dengan kerja jarak jauh memungkinkan bisnis untuk jadi lebih cepat dan lebih fleksibel.

Perusahaan yang agile memang lebih cepat merilis produk dan layanan baru selama pandemi daripada pesaing mereka. Di dalam perusahaan juga demikian, unit bisnis yang agile merespon lebih baik terhadap guncangan terkait pandemi dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lamban.  Meskipun ada beberapa perdebatan tentang pentingnya ruang kerja fisik dan interaksi langsung, para CHRO sepakat tentang pentingnya transparansi dan tempat kerja yang terlihat. Banyak yang ingin merangkul pekerjaan jarak jauh apabila pandemi sudah berakhir, dan situasi telah menjadi normal. Pandemi COVID-19 membuat CHRO menyadari kerja jarak jauh sangat penting untuk dilakukan.

Mengembangkan kemampuan dan pola pikir yang baru dari para pemimpin

Menghadapi tuntutan perubahan yang agile selama pandemi, para pemimpin harus mengubah pola pikir mereka – shift their mindsets dari authority to collaboration, dari scarcity to abundance, dan dari certainty to discovery. Seorang pemimpin harus menemukan nilai apa yang membuat dirinya tetap berharga, dan dalam hal apa dirinya dapat menambahkan nilai dengan cara yang berbeda. Leadership adalah  “the most important enabler” tapi juga bisa menjadi penghalang untuk agile transformation.