Pandemi Segera Usai: Sudah Punya Strategi Baru untuk Mengembangkan Karyawan?

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Berbagai analis telah memprediksikan bagaimana pemulihan pasca pandemi akan segera terjadi. Sebuah berita yang sebenarnya sangat dinantikan banyak pebisnis. Hal ini tentu saja sebagai dampak dari penanganan pandemi yang dilakukan di seluruh dunia, mulai dari peluncuran vaksin yang cepat hingga pemberian stimulus keuangan.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan website https://vaksin.kemkes.go.id/, maka sudah lebih dari 17% populasi Indonesia telah menerima (suntikan) dosis kedua dan lebih dari 30% populasi Indonesia telah divaksinasi dosis pertama (data 29 Agustus2021). Sedangkan pemerintah menargetkan lebih dari 208 juta penduduk akan mendapatkan vaksin.

Optimis dengan pemulihan pasca pandemi yang juga akan segera terjadi di Indonesia, maka ada baiknya para pebisnis segera memikirkan strategi apa yang akan mereka terapkan seiring dengan banyaknya perubahan yang juga telah terjadi terutama dalam Sumber Daya Manusia. Apakah Anda sudah memastikan bahwa Anda masih memiliki para talent terbaik pada tim Anda? Apakah Anda masih memiliki orang-orang berbakat yang sebenarnya sangat kompetitif di pasar tenaga kerja negeri ini?

Paycor sebagai sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi SDM mengeluarkan sebuah tulisan yang membahas tujuh hal yang dapat dilakukan para pebisnis untuk mempersiapkan tim terbaiknya jelang pemulihan pasca pandemi.

  1. Build an employment brand from the bottom up
  2. Optimize your recruiting efforts from the top down
  3. Become a company known for learning & training
  4. Become a company known for benefits
  5. Become a company known for pay equity
  6. Make diversity & inclusion a cultural pillar and a business strategy
  7. Modernize the way you develop talent

Beberapa dari ketujuh hal di atas tentunya sudah Anda ketahui, namun sangat menarik untuk dapat membahas bagaimana kita dapat memodernkan cara pengembangan talent yang dapat kita terapkan. Sekali lagi, penting bagi Anda untuk mengerti bahwa SDM adalah tulang punggung bisnis Anda. Seberapa besar atau seberapa kecil bisnis yang sedang Anda bangun, maka SDM yang Anda miliki saat ini memegang peranan kunci. SDM akan bertahan, bila mereka mendapatkan keuntungan dari bisnis Anda. Ini tidak hanya bicara mengenai upah, tetapi juga seberapa besar kesempatan yang mereka miliki untuk dapat berkembang.

Dalam sebuah riset yang dilakukan LinkedIn maka diketahui 94% dari responden mengatakan bahwa mereka akan bertahan lebih lama jika perusahaan tempat mereka bekerja membantu mereka untuk belajar. Mereka ingin mendapatkan program untuk mengembangkan talent mereka dan ini akan membantu mereka untuk menjadi lebih baik dalam pekerjaan mereka. Karena itu peruasahaan perlu membuat sebuah learning management systems dan effective career management yang memastikan setiap pekerja yang dimilikinya akan berkembang. Namun Anda tidak lagi dapat mempertahankan cara-cara tradisional, diperlukan improvisasi dan pengembangan-pengembangan.

Menjadi modern dalam talent development bukan hanya tentang teknologi

Strategi untuk menjadi modern ini tidak hanya berbicara tentang melibatkan teknologi dalam dunia talent development, tetapi bagaimana keterlibatan seorang pemimpin secara aktif. Kenapa seorang pemimpin? Sebab pada masa pandemi seperti sekarang ini maka hanya kreativitas seorang pemimpinlah yang dapat mendorong timnya untuk dapat tetap berkembang.

Sebuah penelitian tentang talent development yang dilakukan oleh DDI, sebuah lembaga pengembangan kepemimpinan, telah menyimpulkan bahwa pemimpin yang terbaik adalah mereka yang memiliki komitmen untuk terlibat pada talent development timnya. Mengapa demikian? Sebab di dalam penelitian ini ditemukan bahwa ketika seseorang sedang meniti karirnya, maka kemungkinan besar yang terjadi adalah mereka mulai “lupa” untuk membantu orang lain melakukan hal yang sama. Mereka cenderung fokus pada diri mereka sendiri. Di sinilah peranan seorang pemimpin sangat dibutuhkan untuk membantu si karyawan dapat melihat dirinya dalam pengembangan talent yang dimilikinya dan kaitannya dengan orang lain.

Selain itu, seorang pemimpin akan sangat berperan dalam menanamkan visi dan misi perusahaan kepada timnya. Kembali lagi, ada satu yang berubah di masa pandemi ini. Baik visi, misi, budaya, dan nilai-nilai perusahaan harus dapat diterjemahkan dalam bentuk yang “mungkin” berbeda, yaitu ketika semua karyawan bekerja tanpa bertatap muka.

Sehingga dapat dikatakan bahwa untuk menjadi modern dalam talent development membutuhkan seni dari seorang pemimpin untuk dapat membentuk tim yang aktif, dinamis, dan agile. Karena itu fungsi seorang pemimpin menjadi coach akan sangat menentukan. Apalagi ketika pihak management telah meninjau kembali business model yang mereka miliki dan melakukan sebuah penyesuaian, maka para talent akan mengambil peranan yang sangat penting untuk mendukung perubahan business model tersebut. Seperti yang diungkapkan Joanna Yordan, Senior Principal Korn Ferry Indonesia dalam sebuah interview (baca: Joanna Yordan: Three Waves of Cost Reduction, Cut your Fat without Cutting your Muscles), bahwa meninjau kembali business model perusahaan merupakan sebuah strategi untuk survive. Hal yang sama juga diungkapan oleh Hari Sungkari (baca: Berbisnis di waktu pandemi: Review Kembali Business Model Anda). Karena itu, pihak Human Capital harus segera bertindak untuk memobilisasi para talent untuk masuk kepada business mode yang baru. Jadi, menjadi modern dalam talent development bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang kreatifitas para pemimpin.

Mengidentifikasi kembali standar kompetensi dan kompetensi yang dimiliki seluruh tim

Hal ini sudah pernah kita bahas pada awal pandemi ketika Business Lounge Journal berbicang dengan Pungki Purnadi (Baca: Tiga Kompetensi Utama untuk Survive). Ambillah waktu untuk mengidentifikasi kembali kompetensi dan skill apa yang dibutuhkan pada setiap posisi dan pekerjaan dan apakah setiap orang dapat memenuhinya.

Lalu bagaimana jika ternyata mereka yang menduduki sebuah posisi belum memiliki kompetensi dan skill yang dibutuhkan? Harus segera dibuat sebuah akselerasi supaya setiap orang dapat berkembang sesuai dengan yang dibutuhkan dan setiap karyawan dapat dipastikan fit pada posisinya. Jika dirasa perlu, jangan ragu untuk “membongkar pasang” tim yang ada.

Merancang akselerasi program

Ini tidak berbicara tentang program pelatihan yang harus diikuti oleh setiap karyawan. Sebab tidak mungkin satu kali pelatihan dapat langsung mengubah kompetensi yang dimiliki seseorang. Mulailah dengan membuat training needs analysis yang tentu saja sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Lalu pertimbangkanlah memanfaatkan sebuah project untuk menjadi media yang membantu mengasah keterampilan karyawan. Ini akan menjadi pengalaman yang berharga yang dapat mengembangkan para talent.

Selain itu, jangan lupakan micro learning, sebagaimana yang sudah pernah kita bahas. (Baca:   Membutuhkan Inovasi Pelatihan di Masa Pandemi? Coba strategi Micro Learning).

Program pengembangan yang baik tentu saja sesuatu yang mudah diingat, sehingga luangkan waktu untuk menciptakan strategi menarik dan benar-benar berguna bagi karyawan.