Selama Pandemi Family Business Tetap Bertahan

(Business Lounge Journal – Entrepreneurship)

Pada bulan Oktober hingga awal Desember 2020, PWC melakukan survei kepada 2.801 family business di 87 wilayah dan kemudian melakukan tiga diskusi panel dengan  para pemimpin family business untuk menguji temuan mereka. Dalam tulisan ini akan kita bahas bagaimana kondisi family business saat ini, khususnya pertumbuhan bisnis mereka. Bagian pertama dari artikel ini adalah tentang financial resilience dalam family business dan menunjukkan bagaimana mereka siap untuk kembali bertumbuh saat pemulihan pasca Covid-19.

Sekarang ini pandemi Covid-19 telah menjadi resilience test yang extraordinary dari semua perusahaan. Khususnya family business juga menghadapi tantangan ini. Ketidakpastian kondisi keuangan telah berdampak pada financial forecast mereka, pada business forecast mereka.

Family businesses yakin growth saat pandemi Covid-19 tetap lebih besar daripada krisis keuangan global

Sumber : PWC

Sebelum pandemi, 55% responden memprediksi akan terjadi pertumbuhan untuk tahun 2020, ini adalah angka persentase terendah sejak tahun 2010, setelah krisis keuangan global terjadi. Sekarang, setelah tahun 2020 pandemi Covid-19 masih terjadi, hampir setengah (46%) dari family business memprediksi bahwa penjualan mereka akan menurun.

Back to business as usual in 2022

Sumber: PWC

Tapi 86% mengantisipasi kembali ke tingkat pertumbuhan pra-pandemi pada tahun 2022, suatu pencapaian yang mengesankan. Tingkat optimisme mereka sangat tinggi mengingat bahwa belum ada vaksin yang boleh dilakukan  saat survei dilakukan.

Tidak mengherankan, dampak Covid-19 terhadap penjualan tidak merata lintas sektor. Delapan puluh empat persen dari mereka di perhotelan – proporsi tertinggi dari sektor mana pun – memprediksi akan terjadi kontraksi dalam bisnis mereka, diikuti oleh 64% di otomotif dan 63% di hiburan dan media.

Hanya sepertiga (34%) dari family business yang disurvei harus memotong dividen dan 31% anggota keluarga telah dipotong gajinya. Secara keseluruhan, hanya satu dari lima bisnis (21%) yang perlu mengakses modal tambahan; 15% dari pemilik bisnis memasukkan lebih banyak dari uang mereka sendiri, dan 23% lebih lanjut mengatakan mereka siap untuk lakukan jika perlu.

Family business telah terbukti kuat dan mudah beradaptasi—dan seperti yang kita harapkan, mereka memprioritaskan kesejahteraan karyawan mereka dan mendukung komunitas lokal mereka selama krisis. Delapan puluh persen family business memungkinkan staf mereka untuk bekerja dari rumah. Kesehatan dan keselamatan staf mereka – orang-orang yang bekerja bagi mereka,  tetap menjadi perhatian utama untuk family business. Mereka mengkonfigurasi ulang operasional perusahaan mereka, untuk memerangi ekonomi yang menyusut dan masa depan yang tidak pasti.

Terlepas dari segalanya, ambisi pertumbuhan family business pada tahun 2022 tetap sejalan dengan apa yang mereka katakan kepada PWC pada family business survey (FBS) tahun 2018. Optimisme ini bukanlah blind optimism; keyakinan ini dibuat berdasarkan perencanaan dan manajemen risiko. Empat dari lima family business (82%) memprioritaskan diversifikasi dan atau ekspansi ke pasar baru atau produk; ini adalah dua dari tiga prioritas utama untuk bisnis mereka selama dua tahun ke depan.