The Lone Ranger Aja Tidak Bisa Sendirian, Kamu Bisa?

(Business Lounge Journal – Human Resources)

Teamwork adalah bagian dari kehidupan kita, sekalipun situasi pandemi seperti sekarang ini, ketika kebanyakan orang ada di rumah, tidak berarti tidak memerlukan kerja sama. Teamwork adalah kebutuhan yang ada dari generasi ke generasi dan di dalam segala situasi. Semua orang mengalami bahwa kerja sama itu baik, lebih produktif, lebih inovatif dibandingkan bekerja sendirian.

Kita seringkali mengagumi banyak orang yang berhasil. Sebut saja seperti Presiden Jokowi atau pendiri gojek Nadiem Makarim yang sekarang jadi mas menteri, atau tokoh internasional seperti Michael Jordan, Alexander the great, Wright bersaudara dan sederet tokoh lainnya. Kita mengagumi kisah orang yang sendirian sanggup berjuang, sanggup mengubah akan dunia dengan pemikirannya, namun faktanya tidak ada seorang pun yang melakukan hal yang besar seorang diri.

Kisah fiksi yang ditayangkan pada  sebuah acara radio dan televisi di Amerika Serikat yang diciptakan oleh George W. Trendle dan ditulis oleh Fran Striker, The Lone Ranger pun tidak berhasil sendirian. Tokoh utamanya adalah seorang Texas Ranger bertopeng di American Old West yang membela kebenaran bersama dengan teman American Indiannya yang bernama Tonto dan kudanya Silver. Jadi, adalah mitos bahwa kita bisa meraih keberhasilan sendirian. Lone Ranger saja butuh teman Tonto dan kudanya Silver.

Membangun sebuah teamwork

Pertanyaannya adalah bagaimana kita membangun sebuah teamwork itu? Bukanlah mudah untuk menjawab pertanyaan ini, ada orang berpendapat kalau kita memiliki “chemistry” yang sama, atau istilah orang NTT “cocok darah” maka akan mudah membangun sebuah teamwork. Ada yang mengatakan bahwa bila dalam teamwork ada etos kerja yang kuat, tentunya mudah untuk membangun sebuah teamwork. Namun tetap saja terbukti bahwa ada teamwork yang berhasil dan ada juga yang menemui kegagalan. Bila teamwork mudah untuk dipelajari maka sebenarnya daftar 500 perusahan besar keluaran majalah Fortune akan tetap perusahaan itu saja, tapi kenyataan yang terjadi timbul tenggelam. Perusahaan ada yang berhasil ada yang gagal.

Dan Devine pelatih sepak bola Amerika bergurau “A team is a team is a team. Shakespeare said that many times.”  Sebuah teamwork dipengaruhi oleh besarnya organisasi. Untuk sebuah organisasi yang besar seperti Walmart, dengan revenue sebesar US$548.743 billion, teamwork dihubungkan dengan sebuah tim yang sangat besar. Jumlah karyawan Walmart tahun 2021 berjumlah 2,300,000 orang dengan 10,524 stores worldwide. Bisa dibayangkan bagaimana membangun teamwork untuk organisasi sebesar Walmart. Jadi size organisasi membuat tantangan dalam membangun teamwork berbeda-beda. Namun fakta bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah tim dan membutuhkan teamwork.

Satu hal yang penting diperhatikan dalam membangun sebuah teamwork adalah bahwa teamwork terjadi dengan sebuah proses, membutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam belajar.

Presiden Amerika Serikat ke-36, Lyndon B. Johnson mengatakan “There are no problems we cannot solve together, and very few that we can solve by ourselves.” Semua orang yang telah melakukan pekerjaan besar tidak melakukannya sendirian, selalu ada teamwork yang menyertai. Teamwork yang dikumandangkan oleh buku-buku bisnis modern telah ada begitu lama, malahan sejak manusia ada sudah membutuhkan teamwork.

Apa saja manfaat sebuah teamwork?

Dari sudut pandang pemimpin, maka kelemahan seorang pemimpin menjadi hilang saat manjadi satu dalam teamwork. Begitu juga kelebihan seorang pemimpin akan semakin cemerlang saat menjadi satu dengan teamwork. Pemimpin juga memiliki pemikiran yang luas saat teamwork sedemikian kuat. Gagasan pemimpin sendirian menjadi sempit bila tidak ada teamwork.

Teamwork menyanggupkan pemimpin mengangkat tanggung jawab yang sangat besar. Sebab dengan teamwork maka akan didapatkan kekuatan yang lebih besar untuk melaksanakan sebuah tugas, menghadapi tantangan yang besar.

Teamwork menumbuhkan kerendahan hati yang tulus dan membangun komunitas yang kompak. Kebanggaan adalah kebanggaan bersama dan kegagalan adalah kegagalan bersama.

Kenapa masih ada keinginan bekerja sendiri?

Sesudah melihat keuntungan teamwork mengapa masih banyak orang yang tetap ingin bekerja sendirian?

Pertama, karena pandangan what’s it in for me? Pola pikir yang fokusnya kepada “diri kita” apakah untungnya buat saya? Kalau pola pikir ini ada maka kita tidak ingin ada dalam teamwork. Saat kita ingin membangun teamwork fokus kita berubah dari “saya” kepada “kita”. Andrew Carnegie memiliki nasehat yang bijak tentang hal ini, “Wealth is not to feed our egos but to feed the hungry and to help people help themselves.” Jadi tanggalkan ego kita dan jadilah bagian sebuah teamwork.

Kedua, merasa yakin bisa mengerjakan sendiri. Pola pikir ini akan menghambat kita mencapai keberhasilan, dengan pola pikir ini, kita menjadi gagal dahulu baru kita mencari pertolongan, lalu membangun teamwork. Sedari awal yakinlah bahwa teamwork akan membuat kita terhindar dari kegagalan. Allan Fromme menyatakan, “People have been known to achieve more as a result of working with others than against them.” Pola pikir ini tidak ada pada orang yang yakin bahwa dirinya bisa mengerjakan sendiri. Hanya sedikit yang bisa dilakukan sendirian, sangat banyak hal yang dilakukan dengan teamwork.

Teamwork menghadapi pandemi

Kondisi yang nyata kita hadapi sekarang adalah sebuah tantangan besar menghadapi pandemi. Dalam sebuah dialog di Peringatan Ulang Tahun ke-76 Republik Indonesia, ada tajuk acara berjudul “penjajahan kita akhiri, pandemi kita hadapi.” Ini bermakna teamwork akan memungkin kita melalui pandemi ini dengan kemenangan. Dalam nilai-nilai bangsa Indonesia tertanam “gotong-royong” sebagai bentuk teamwork yang sekarang diambil oleh usaha rintisan atau startup dengan istilah collaboration. Bentuk teamwork sudah sangat bervariasi, teamwork masyarakat dengan pemerintah, teamwork pengusaha dengan pengusaha, teamwork masyarakat dengan pengusaha, teamwork pengusaha dengan pemerintah, semuanya dengan satu tujuan mengalahkan pandemi. Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan Senin 16 Agustus 2021 lalu mengatakan “Kesadaran, partisipasi, dan kegotongroyongan masyarakat menguat luar biasa. Kelembagaan pemerintahan lintas sektor dan lintas lembaga negara, serta antara pusat dan daerah sampai dengan desa, juga mengalami konsolidasi. Hal ini membuat kapasitas sektor kesehatan meningkat pesat dan semakin mampu menghadapi ketidakpastian yang tinggi dalam pandemi.”

Pandemi menciptakan teamwork yang kuat di tengah Bangsa Indonesia. Bukan saja dalam perusahaan, teamwork telah menjadi nilai di kehidupan masyarakat hingga dalam keluarga. Hal-hal yang besar akan terjadi bagi Indonesia saat teamwork menjadi semakin kuat. Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh, jadi tema peringatan Ulang Tahun ke-76 Republik Indonesia hanya bisa terlaksana dengan teamwork yang dibangun dalam keluarga, masyarakat, perusahaan, pemerintah menghadapi pandemi.