Teknik aaPRP – Harapan Baru Bagi Penderita COVID-19

(Business Lounge Journal – Medicine)

Menyambut Indonesia Tangguh, 76 tahun Indonesia merdeka, Indonesia perlu berbangga dengan banyaknya kemajuan dalam bidang kesehatan khususnya sejak pandemi ini. Salah satunya adalah kabar baik bagi penderita COVID-19, dari anak bangsa sendiri. Informasi yang dilansir dari instagram klinik Hayandra yang merupakan miliki dari DR.dr. Karina, Sp.BP-RE.  DR. dr. Karina adalah lulusan UI yang meraih gelar doktor tahun 2019, mengambil spesialis dan S-2 di UI. Benar-benar anak bangsa dan karya bangsa.

Dalam instagram klinik Hayandara dijelaskan tentang teknik “autologous activated Platelet-Rich Plasma” (aaPRP) yang merupakan modifikasi teknik PRP yang telah banyak digunakan dalam bidang estetik, manajemen nyeri, rekonstruksi & rehabilitasi medik. Dengan modifikasi ini, aaPRP secara aman dapat diinfuskan & menghasilkan konsentrat molekul bioaktif & anti peradangan yang tinggi. Meningkatnya kasus COVID-19 di Indonesia menjadi salah satu faktor pemicu bagi tim Hayandra untuk mencoba menemukan modalitas terapi yang aman, efektif, serta mudah terlaksana di seluruh Indonesia. Terapi aaPRP yang berasal dari darah pasien sendiri, yang dimulai pada tahun 2020 di RSUD Koja, Jakarta. Pada bulan Mei 2021 artikel pre-eliminary studi sudah published di Hindawi International Journal of Inflammation.

Penjelasan mengenai hipotesis awal yang diajukan DR. dr. Karina sangat sederhana :

  1. Terapi autologus (dari tubuh pasien sendiri), dengan landasan keamanan (safety) sesuai prinsip utama medis : do no harm to the patients.
  2. Tubuh memiliki daya mengubah aktivitas & kandungan zat dalam sel, melalui rangkaian perubahan microenvironment (niche) sel tersebut.
  3. Fakta bahwa mayoritas pasien COVID-19 berat di ICU RS Koja mengalami peningkatan trombosit (trombositosis).

Kemudian berlanjut ke penelitian uji klinis fase I/II tentang keamanan & efektivitas awal terapi, dengan persetujuan dari Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Univ. Indonesia (FKUI).

Selanjutnyam sangat membanggakan bahwa DR. Karina dan timnya telah berhasil membuat publikasi internasional yang pertama di dunia, mengenai terapi aaPRP pada penderita COVID-19 pada bulan Juni 2021 kemarin di Sapporo Medical Journal yaitu laporan serial kasus terapi aaPRP untuk penderita COVID-19 berat di ICU RS Koja, Jakarta.

Pada 9 Juli 2021 muncul di Hindawi International Journal of Inflammation dengan judul “Phase I/II Clinical Trial of Autologous Activated Platelet-Rich Plasma (aaPRP) in the Treatment of Severe Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Patients”. Pada artikel ini disimpulkan bahwa hasil uji coba fase I/II menunjukkan bahwa penggunaan aaPRP pada pasien COVID-19 berat adalah aman dan tidak terkait dengan efek samping yang serius. Hal ini menunjukkan bahwa aaPRP adalah terapi tambahan yang menjanjikan untuk pasien COVID-19 yang parah.

Terapi ini aman & selalu tersedia bahannya karena berasal dari darah pasien sendiri, yang dapat secara mudah diproses di seluruh RS di Indonesia dengan menggunakan alih teknologi dari HayandraLab, Jakarta.  Trombosit yang mengandung lebih dari 1.000 jenis protein ini memiliki  protein anti radang, protein pembangun (growth factors), bahkan zat anti bakteri sehingga dapat menanggulangi badai sitokin pada Covid-19 dan tubuh dapat membangun  sel yang telah dirusak virus SARS-COV-2 seperti  misalnya sel paru. Hal inilah yang membuat DR. dr. Karina maju terus ke fase yang selanjutnya.

Karina menjelaskan bahwa terapi aaPRP berasal dari tubuh pasien sendiri yang secara mudah dapat diproses dengan kit siap pakai dari Hayandra Lab. Alih teknologi dapat segera dilakukan sehingga setiap RS secara mandiri dapat melakukan pemrosesan aaPRP dengan menggunakan peralatan yang ada di laboratorium RS. Caranya adalah trombosit dari darah pasien Covid-19 sendiri dipisahkan, lalu dipecahkan di laboratorium khusus milik Hayandra Lab. Hasilnya berupa protein yang keluar dari trombosit lalu dimasukkan kembali ke dalam tubuh pasien melalui cairan infus. Keseluruhan proses membutuhkan waktu sekitar 2 jam hingga 3 jam” demikian dijelaskan oleh DR. Karina pada tanggal 2 Agustus kemarin kepada media.

Kita harapkan teknologi ini dapat menjadi terapi handal dalam menolong penderita menghadapi COVID-19.