Berbisnis di waktu pandemi: Review Kembali Business Model Anda

(Business Lounge Journal – Interview Session)

Pandemi memang diharapkan segera berakhir, tetapi perkembangan digitalisasi yang terjadi dengan begitu pesat selama masa pandemi ini, telah membawa sebuah perubahan besar sehingga mau tidak mau semua startup wajib untuk mereview kembali business model mereka. Itulah yang disampaikan oleh DR. Ir. Hari Santosa Sungkari,M.H., seorang mentor StartUP yang pernah menjabat sebagai Deputi Bekraf (2015-2019) dan Deputi Kemenparekraf (2020 – Maret 2021) bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur.

Kepada Business Lounge Journal, Hari menyampaikan langkah-langkah untuk  kembali me-review business model.

  1. Tanyakan pada diri sendiri, pada waktu membuat produk, problem apa yang ingin di-solved? Penting untuk menyadari bahwa sebagai startup maka wajib membuat sebuah solusi untuk menjawab suatu problem.
  2. Lakukan product and fit market di lapangan. Jangan membuat product yang kita suka. Pikirkan dari hilir ke hulu, jangan terbalik. Masalah apa yang ada di masyarakat dan mari kita pecahkan dengan cara kearifan lokal. itu akan membuat kita berbeda dari produk komoditi.
  3. Buatlah business plan. Pada awalnya, mungkin kamu akan mengalami negative cashflow. Sebab kita memiliki biaya untuk memperkenalkan, memasarkan, serta mengakuisisi market. Maka buatlah perhitungan seberapa kuat kita dapat mengalami posisi negative cashflow. Hal ini dikenal sebagai valley of death.

Hari Sungkari juga mengingatkan ketika startup sudah memiliki pihak ketiga yang akan mendanai, maka hal yang pertama ditanyakan bukanlah business plan melainkan siapa dan apa yang menjadi track record si startup dan bagaimana si startup dapat dipercaya.

Dalam membangun produk, maka penting juga untuk memiliki strategi untuk tidak langsung membangun full feature, melainkan melakukan MVP (Minimum Viable Product). Melakukan test market untuk mengetahui apa yang sesuai dengan pasar. Dalam hal ini tentu saja dibutuhkan biaya sehingga biasanya menyebabkan negative cashflow. Lalu bagaimana jika tidak mau melakukannya? Sangat riskan! Sebab test ini justru akan meminimalkan cost dan risiko di kemudian hari.

Sebagai pesan terakhir, Hari Sungkari yang juga anggota aktif Masyarakat Industri Kreatif dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) dan sangat menguasai bidang ekonomi kreatif serta menjadi mentor bagi para  startup memberikan tips bagaimana menjadi start up yang sukses di masa kini.

  1. Jadilah pebisnis yang memberikan solusi.
  2. Pebisnis itu ada 2 karakter yang harus diperhatikan:

a. Tahan banting-pantang menyerah

b. Dapat dipercaya, baik  oleh calon konsumen, calon pegawai, calon pemodal. Trust harus terus dibangun karena orang akan melihat “who you are”, siapa kita sebenarnya.

3. Setelah memiliki dua hal ini maka bersiaplah untuk memulai langkah Anda sebagai start up ekonomi kreatif. Belajarlah dari kegagalan dan lakukan dengan penuh perhitungan sebab bisnis itu adalah sebuah mitigasi risiko.

Di akhir perbincangan, Hari Sungkari mengajak semua startup untuk membuat banyak bisnis guna membangun perekonomian bangsa ini.