Angin Lepas Pantai Menggerakkan Pembangkit Listrik Green Hydrogen Terbesar di Jepang

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Pembangkit hidrogen terbesar di Jepang yang ditenagai oleh energi angin lepas pantai akan dibuka di pulau utara Hokkaido sebagai bagian dari upaya nasional untuk memangkas emisi karbondioksida. Dijadwalkan untuk mulai beroperasi pada awal tahun, yang berakhir Maret 2024, pembangkit ini akan menghasilkan hingga sekitar 550 ton hidrogen per tahun – cukup untuk bahan bakar lebih dari 10.000 mobil hidrogen.

Upaya tersebut merupakan langkah menuju penciptaan pasokan hidrogen yang “hijau” di dalam negeri, atau dibuat dengan menggunakan energi terbarukan. Hidrogen hijau yang diproduksi dengan tenaga angin lepas pantai tetap langka di seluruh dunia — terutama di Jepang, yang tertinggal dari negara-negara Eropa dalam membangun wind farm semacam itu. Wind farm 110 megawatt dan fasilitas hidrogen akan dibangun di kota pesisir Ishikari, lokasi proyek hidrogen hijau yang direncanakan lainnya. Pabrik baru yang lebih besar diharapkan dapat meningkatkan produksi hidrogen lokal menjadi 2.500 ton.

Berpartisipasi dalam proyek ini adalah Hokkaido Electric Power, pengembang energi terbarukan Green Power Investment, Nippon Steel Engineering dan pemasok gas untuk industri, Air Water.

Hidrogen akan digunakan untuk menghasilkan listrik untuk menggerakkan infrastruktur seperti pusat data, peralatan kargo di pelabuhan, dan gudang berpendingin. Pemerintah Jepang bertujuan untuk mencapai net-zero greenhouse gas emissions pada pertengahan abad ini. Hidrogen memainkan peran besar dari tujuan itu. Green Growth Strategy pemerintah Jepang yang diumumkan tahun lalu menyerukan hingga 3 juta ton kapasitas produksi hidrogen untuk diperkenalkan pada tahun 2030, meningkat menjadi sekitar 20 juta ton pada tahun 2050. Rencana ini mengharuskan Jepang untuk mengembangkan industri hidrogennya sendiri tanpa bergantung pada impor.

Hidrogen sering dihasilkan dari gas alam, tetapi prosesnya melepaskan karbondioksida. Hidrogen hijau, terutama dibuat dengan memisahkan air dengan energi terbarukan, tidak menghasilkan gas rumah kaca di bagian mana pun dari proses produksi, membuatnya memiliki peran penting dari upaya dekarbonisasi.

Uni Eropa berupaya mengembangkan kapasitas untuk memproduksi 10 juta ton hidrogen hijau per tahun pada tahun 2030. Di Jepang, biaya produksi hidrogen hijau lebih mahal daripada di negara-negara besar lainnya. Dibutuhkan $6 hingga $9 untuk membuat satu kilogram hidrogen di Jepang, menurut Bloomberg. Itu jauh melebihi $2 sampai $4 di AS dan $3 sampai $6 di Jerman.

Menurunkan biaya produksi akan membutuhkan teknologi untuk mengangkut hidrogen dalam jumlah besar, serta peralatan produksi skala besar.Sebagai negara kepulauan, Jepang memiliki lebih dari cukup ruang untuk membangun wind farm lepas pantai. Namun biaya menjadi kendala.

Label harga tenaga angin lepas pantai diperkirakan akan menurun seiring dengan penyebaran energi alternatif. Satu kilowatt-jam tenaga angin lepas pantai akan menelan biaya lebih dari 26 yen (23 sen) pada tahun 2030, menurut perkiraan Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang. Sebagai perbandingan, energi surya akan menelan biaya sekitar 8 yen hingga 11 yen dan tenaga angin darat akan menelan biaya sekitar 9 yen hingga 17 yen.

Pemerintah bertujuan untuk menurunkan harga hidrogen menjadi 30 yen per meter kubik, atau kurang dari sepertiga dari harga saat ini. Hokkaido Electric dan investor lainnya akan bekerja untuk menurunkan biaya produksi sejalan dengan pandangan pemerintah.