Serosurvei Penting untuk Menilai Seberapa Efektifkah Strategi Penanganan Pandemi

(Business Lounge Journal – Medicine)

Gelombang kedua COVID-19 telah menunjukkan betapa sulitnya mencapai pengendalian penyakit yang berkelanjutan, bahkan dengan vaksinasi yang sedang berlangsung di banyak negara. COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, virus zoonosis yang pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019. Virus ini menyebar secara global menyebabkan pandemi dan beberapa penyelidikan seroepidemiologi telah dilakukan untuk memahami penyebaran infeksi asimtomatik dan subklinis pada populasi umum.

Oleh karena itu, untuk terus meningkatkan pemahaman tentang penyebaran COVID-19, terutama pada individu tanpa gejala, di antara populasi yang berbeda, dan khususnya di wilayah yang rentan, negara-negara melakukan serosurvei berbasis populasi. Hal  ini bertujuan untuk memperkirakan prevalensi individu berusia 18 tahun atau lebih yang terinfeksi SARS-CoV-2, dan proporsi individu tanpa gejala, di antara populasi rentan yang tinggal di lingkungan perkotaan atau desa.

Apa yang dimaksud dengan seroprevalensi adalah perhitungan jumlah individu dalam suatu populasi yang memperlihatkan hasil positif suatu penyakit berdasarkan spesimen serologi atau serum darah. Ternyata banyak studi seroprevalensi yang dilakukan di seluruh dunia telah menunjukkan bahwa jumlah kasus tidak terdiagnosis mungkin lebih besar daripada kasus yang terkonfirmasi positif COVID-19.

Sebagai contoh, mari kita pelajari mengenai serosurvei dan seroprevalensi ini dari  3 negara yang melakukan serosurvei semasa pandemi ini, khususnya pada gelombang pertama COVID-19.

  1. São Paulo, Brasil. Sebanyak 272 individu dari 185 keluarga dilibatkan dalam penelitian ini. Para peserta serosurvei ditanya tentang tanda dan gejala terkait COVID-19, dan diambil 10 mL darahnya untuk pengujian serologi Hasilnya prevalensi pasca stratifikasi individu yang terinfeksi SARS-CoV-2 adalah 45,2% dengan proporsi kasus tanpa gejala sebesar 30,2%. Kondisi ini menunjukkan nilai layanan kesehatan primer untuk kegiatan surveilans penyakit, dan pentingnya serosurvei yang lebih terfokus, terutama di lokasi yang rentan, dan kebutuhan untuk mengevaluasi strategi surveilans baru untuk mempertimbangkan kasus tanpa gejala.
  1. Amerika Serikat. JAMA of Internal Medicine menerbitkan sebuah studi bagaimana para peneliti mengumpulkan sampel serum dari 16.025 individu yang beragam secara geografis di Amerika Serikat antara 23 Maret hingga Mei 2020. Tidak ada bukti antibodi terhadap SARS-CoV-2 di sebagian besar spesimen. Perkiraan yang disesuaikan dari persentase orang yang seroreaktif terhadap antibodi protein lonjakan SARS-CoV-2 adalah antara 1,0% orang dari San Francisco hingga 6,9% pada orang dari New York City. Studi tersebut juga menemukan bahwa perkiraan jumlah infeksi COVID-19 antara 6 hingga 24 kali lebih tinggi dari jumlah kasus yang dilaporkan saat itu, karena adanya individu yang memiliki penyakit ringan atau tanpa gejala namun kemungkinan berkontribusi pada penularan virus.
  1. Korea. Para peneliti menguji seroprevalensi antibodi anti-SARS-CoV-2 pada pasien rawat jalan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami beban COVID-19 serta tingkat kekebalan kelompok pada populasi ini. Secara total, penelitian ini melibatkan 1.500 sampel serum yang diperoleh dari pasien rawat jalan yang mengunjungi dua rumah sakit antara 25 Mei dan 29 Mei 2020 di barat daya Seoul, Korea. Hasilnya adalah seropositif antibodi IgG anti-SARS-CoV-2 secara keseluruhan 0,07%.  Menurut para peneliti, seroprevalensi yang rendah ini menunjukkan bahwa pandemi dikendalikan melalui program social distancing dan pelacakan kontak yang ada di daerah tersebut. Selain itu dilakukan juga di kota Daegu dengan kesimpulan berdasarkan angka perkiraan mereka, jumlah kasus di wilayah tersebut kemungkinan 12 kali lebih banyak daripada jumlah kasus COVID-19 yang dikonfirmasi PCR.
  1. Spanyol. Penelitian terhadap lebih dari 60.000 peserta menemukan seroprevalensi nasional sekitar 5,0% hingga 6,2%. Daerah perkotaan di sekitar Madrid memiliki perkiraan seroprevalensi 13,6% menunjukkan prevalensi COVID-19 yang jauh lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan.
  1. Jerman.European Surveillance menerbitkan hasil penelitian yang  seroprevalensi antibodi IgG terhadap SARS-CoV-2 pada 3.186 donor darah dari tiga negara bagian Jerman antara Maret dan Juni 2020. Tingkat seroprevalensi berkisar antara 0,66% hingga 1,22%. Para peneliti mencatat sebagian besar kasus COVID-19 umumnya ringan atau tanpa gejala, banyak kasus tetap tercatat.

Lalu Bagaimana dengan Indonesia?

Pada bulan Desember 2020 hingga Januari 2021, telah dilakukan studi berskala nasional yang menunjukkan 15 persen populasi di Indonesia telah tertular Covid-19. Disimpulkan bahwa angka ini jauh lebih tinggi dari angka resmi dari Kementerian Kesehatan pada akhir Januari 2021, yaitu sekitar 0,4 persen dari total penduduk Indonesia 270 juta jiwa.  Hal ini juga menunjukkan bahwa banyak orang yang tidak bergejala sebenarnya yang dapat menjadi sumber penularan.

Semua studi seroprevalensi sangatlah bermanfaat, dapat memberikan wawasan tentang seberapa efektif strategi penanganan pandemi, seperti prokes yang ketat dan pentingnya isolasi mandiri, dalam mengurangi tingkat penularan.