Hari Sungkari: Goes Digitalization – Pentingnya Pendampingan

(Business Lounge Journal – Interview Session)

Dalam perbincangan dengan DR. Ir. Hari Santosa Sungkari,M.H., seorang mentor StartUP yang pernah menjabat sebagai Deputi Bekraf (2015-2019) dan Deputi Kemenparekraf (2020 – Maret 2021) bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, maka dijelaskan pentingnya untuk segera memasuki dunia digital.

“Untuk switch ke digital tidak semudah itu. Pada toko offline, biasanya pembeli yang datang. Tetapi pada digital online terbalik, kita yang harus mengejar pembeli. Kita harus beri tahu siapa yang akan belanja sehingga itu dapat mengubah desain” ujar Hari. Ia pun menjelaskan bagaimana pendampingan yang dilakukan kepada para pengrajin tenun di Lombok, Toba, Flores, Halmahera, membuat para pengrajin untuk dapat mengubah desain, terutama warna. “Tenun itu heritage keluarga yang dibuat oleh kakek neneknya 100 tahun yang lalu. Persis sama dan tentunya warnanya  sudah tidak bisa mengikuti kalau mau dipakai untuk keperluan sehari-hari. Walaupun kalau mau dipakai untuk acara adat tradisional  bisa saja,” terang Hari.

Para pengrajin itu pun diarahkan untuk tidak hanya puas untuk menghasilkan kain kerajinan tetapi supaya naik tingkat untuk menghasilkan produk ready to wear fashion. Beberapa hal yang juga ditekankan di dalam pendampingan adalah bahwa ketika memasuki dunia digital, maka pengrajin akan memiliki banyak saingan. Sehingga jika pengrajin tidak dapat memenuhi tuntutan pembeli yang tentu saja akan lebih tinggi dibandingkan pembeli off line, maka bersiaplah untuk kehilangan pembeli.

Lebih jauh lagi berbicara pendampingan, Hari Sungkari mengatakan bahwa berbisnis tidak bisa hanya dijadikan sampingan melainkan harus full time dikerjakan. Untuk membantu peserta, maka pendampingan akan diberikan minimal 1,5 tahun. Mentor akan datang memberikan pe-er secara berkala yang kemudian akan di-review. “Kalau hanya bimbingan teknis mereka akan lupa dan belum tentu menyerap apa yang dikatakan di depan,” tegas Hari.

Kisah unik lainnya yang diceritakan Hari adalah bagaimana anak-anak muda di Pulau Halmahera, Maluku Utara tidak tertarik ketika diajak menjadi pengrajin kain tenun. Tetapi mereka tertarik ketika dikatakan akan dididik untuk menjadi fashion designer. Pelajaran pertama yang diberikan adalah menggambar, sebab mereka tidak tahu menggambar. Kebiasaan mereka adalah langsung menyulam dengan desain yang sudah dibuat oleh  kakek neneknya.

Dalam perbincangan ini Hari Sungkari menekankan bahwa ekonomi kreatif harus memiliki nilai tambah, baru dapat dikatakan sebagai ekonomi kreatif, misalnya dengan memberikan sistem pewarnaan yang alami, dengan menambahkan packaging yang menarik. Selain itu para pengrajin pun diharapkan dapat bercerita di depan konsumen mengenai sejarah kain tersebut.

Lalu bagaimanakah ekonomi kreatif ketika masa pandemi?

Hari Sungkari menjelaskan bahwa ketika pandemi terjadi, maka anggaran banyak dipakai untuk penanggulangan Covid19 sehingga sejak tahun 2020, mentoring pun tidak dapat berjalan secara offline. Karena itu pemerintah pun berinisiatif untuk memasangkan para pengrajin dengan portal digital seperti, Tokopedia, Shoppee, dan platform lainnya. Selain itu, pemerintah juga mempunyai program besar atas inisiasi Menko Maritim dan Menko Perekonomian, yaitu “Bangga buatan Indonesia”. Selain itu juga terdapat program Apresiasi Kreasi Indonesia, yang sudah berjalan dua tahun dengan UMKM dapat  mengajukan produk dan diberikan apresiasi berupa pameran hybrid digital dan offline. Selain itu juga diselenggarakan boothcamp goes digital, bagaimana peserta dapat belajar membuat  program namun secara online. Pendaftaran untuk mengikuti Apresiasi Kreasi Indonesia ini akan ditutup pada 13 Agustus 2021. Mereka yang mengikuti dapat berasal dari seluruh Indonesia, yaitu semua pelaku ekonomi kreatif mulai dari fashion, digital, kuliner, dan berbagai kerajinan lainnya.

Dengan demikian diharapkan dapat terus membangkitkan dan menggairahkan dunia ekonomi kreatif Indonesia!