Hari Sungkari: Ekonomi Kreatif Indonesia – Terdampak Pandemi Namun Tetap Berdampak

(Business Lounge Journal – Interview Session)

Business Lounge Journal kali ini berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan DR. Ir. Hari Santoso Sungkari,M.H., seorang mentor StartUP yang pernah menjabat sebagai Deputi Bekraf (2015-2019) dan Deputi Kemenparekraf (2020 – Maret 2021) bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur. DR. Hari Sungkari saat ini masih terus aktif di kesehariannya dalam mendukung ekonomi kreatif Indonesia untuk terus berkembang dan merupakan anggota aktif Masyarakat Industri Kreatif dan Komunikasi Indonesia (MIKTI),  yang mendukung perkembangan ekosistem startup dengan program pelatihan dan dukungan lainnya.

Dalam interview ini, Hari menjelaskan bahwa ketika pandemi COVID19 melanda bangsa kita, maka sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul. Sebab pada sektor pariwisata, pendapatan (revenue) sangat tergantung pada orang datang.

Lalu bagaimana dengan ekonomi kreatif? Ekonomi kreatif pun sebenarnya mengalami dampak, namun masih terbilang tidak terlalu significant. Hal ini terlihat dari PDB Ekonomi Kreatif Indonesia. Sebelum pandemi, PDB Ekonomi Kreatif Indonesia pada tahun 2019 adalah 1200 trilliun rupiah dan setelah pandemi pada tahun 2020 hanya turun 100 trilliun rupiah menjadi 1100 trilliun rupiah (sekitar 7% dari PDB Indonesia).

Memang pada ekonomi kreatif ada yang tergantung orang datang yaitu  seni pertunjukan seperti musik, tarian, dan kuliner di restoran dimana orang datang. Namun COVID19 telah memaksa orang-orang kreatif untuk mengubah channel yang ada dari sebelumnya fisik menjadi digital. Sementara para pelaku bisnis kuliner switch ke layanan antar online  dan terhubung dengan berbagai layanan antar makanan juga drive thru. Situasi pandemi ini tentu saja membuat mereka yang jago masak pun diuntungkan. Walaupun belum dapat mengelola restoran, namun akhirnya mereka dapat tetap bertahan hidup karena dapat berjualan online. Hal ini jelas terlihat bagaimana layanan pesan antar makanan tetap terbilang laku dan tidak berhenti untuk mereka yang sedang WFH.

Sedangkan para pelaku ekonomi kreatif yang berkiprah di tenun dan batik, pada saat pandemi mereka beralih membuat masker dan ini membuat fashion tetap naik pada awal pandemi 2020. “Jadi bukan hanya vitamin (yang meningkat) melainkan juga fashion dan kosmetik”, demikian dikatakan Hari. Adanya internet memang sangat membantu ekonomi kreatif. “Bisakah kita bayangkan bagaimana jika tidak ada internet? Tidak terbayangkan, ekonomi kreatif akan  hancur”, demikian dijelaskan Hari.

Musik sendiri pada masa kini bisa mengadakan live dengan tiket donasi dan ternyata tetap ada peminat. Hari juga memprediksi bahwa bila pandemi sudah berlalu, maka pertemuan online, pertunjukkan online akan tetap berlangsung. Sehingga setiap orang perlu untuk memikirkan ulang business model mereka, bilamana hal itu perlu untuk diubah.

Pada kesempatan ini, Hari Sungkari juga menegaskan bahwa kuncinya adalah “if you want to change, you can survive”. Jadi memang hanya orang yang melakukan perubahan maka itulah yang akan bertahan dan bahkan semakin meningkat.