Kini Obat Ivermectin untuk COVID-19, Apa yang Perlu Diperhatikan?

(Business Lounge Journal – Healthy Lifestyle)

Business Lounge Journal telah membahas hal ini beberapa waktu lalu berapa banyak negara yang menggunakan dan mana saja negara yang melarang. (Baca: Ivermectin Bisa Atasi COVID-19? Apa Kata Dunia?). Setelah melewati jalan panjang, Ivermectin yang saat ini masih dalam proses uji klinis oleh BPOM RI telah mendapat persetujuan untuk penggunaanya sebagai obat pencegahan terjadinya keparahan dari COVID-19. Ivermectin yang kini telah dipakai di 33 negara telah populer di kalangan masyarakat dan bahkan sangat laku di pasaran. Ivermectin telah terbukti di banyak negara mampu mengurangi reaksi inflamasi (peradangan)yang terjadi akibat infeksi SARS-COV-2. Walaupun sejatinya ia adalah obat parasit dan digunakan pada hewan, namun upaya untuk menemukan obat yang sesuai untuk COVID-19 kini bertemu dengan Ivermectin.

Bagaimana cara menggunakan Ivermectin?
Dosis obat Ivermectin yang direkomendasikan untuk digunakan adalah 12 mg dan digunakan selama lima hari berturut-turut. Ivermectin hanya efektif pada orang dengan tanpa gejala serta gejala ringan. Bukan pada yang bergejala berat atau sedang. Belum terbukti bahwa Ivermectin efektif pada pasien dengan gejala berat. Beberapa perusahaan farmasi kini memproduksi dan memasarkan Ivermectin walau harganya terlanjur melambung tinggi di pasaran. Diharapkan ketika supply semakin baik maka harga juga akan semakin murah.

Lantas bagaimana keamanannya dan apa yang harus diperhatikan?
Ivermectin termasuk golongan obat keras (berlogo merah) dan hanya diijinkan digunakan satu kali dalam setahun. Artinya obat ini harus dipastikan tidak digunakan secara bebas, pembeliannya harus dengan resep dokter dan penggunaannya berada di bawah pengawasan dokter. Artinya masyarakat tidak bisa membeli begitu saja dengan bebas namun setelah berkonsultasi dengan dokter. Dokter memiliki kompetensi untuk dapat menilai apakah obat ini memang dapat diberikan kepada pasien. Apakah ada penyakit yang dapat bertentangan dengan obat Ivermectin.

Jadi hal yang menjadi pertimbangan saat memberikan obat Ivermectin adalah:

1. Penggunaan dalam dalam jangka waktu panjang yang dapat mengakibatkan efek samping, antara lain mulai dari yang ringan seperti mengantuk, nyeri sendi, tidak nyaman di perut, hilang nafsu makan hingga demam, mual muntah, bisa juga diare.

2. Apakah pasien sedang menggunakan obat tertentu karena sakit yang lain yang dideritanya dan obat tersebut dapat menimbulkan interaksi obat seperti contohnya: Clarithromycin, Verapamil, obat TBC Rifampicin, warfarin. Juga konsumsi Lactobacillus dan Estriol.

Berikut penjelasan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid yang adalah Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai Ivermectin dalam sebuah wawancara.