Rasa Takut dan Stress Menurunkan Imunitas?

(Business Lounge Journal – Medicine)

Hari-hari ini adalah hari-hari yang tidak mudah dilalui semua orang. Kondisi pandemi yang terjadi memang merupakan kondisi yang bagi kebanyakan orang menjadi sesuatu yang menakutkan bahkan menimbulkan stress. Pandeminya saja sudah menimbulkan stress, belum lagi jika terkena COVID-nya dan menjalani isolasi mandiri ataupun pengobatan. Kondisi mencari rumah sakit bagi sebagian orang juga merupakan pengalaman yang menimbulkan rasa stress.

Pengakuan banyak orang yang terkena COVID, tekanan bahwa tidak akan bisa bertahan hidup bila terkena COVID sangat besar. COVID menjadi begitu menakutkan. Padahal ketika kita takut, tubuh mengalami stress dan imunitas pun menurun.

Mengenai topik ini, ternyata di seluruh dunia sudah ada penelitian meta-analisis, yang merupakan penelitian level tertinggi dalam sebuah research. Ada lebih dari 300 penelitian selama 30 tahun terakhir yang telah dilakukan untuk meneliti hubungan stress, takut, dan kekebalan pada manusia. Sebagai hasilnya adalah bahwa tantangan psikologis mampu memodifikasi berbagai fitur dari respon imun manusia. Rasa takut selalu menimbulkan stress. Stress adalah wujud ketakutan dan kekuatiran yang bisa disadari dan diakui oleh manusia ataupun bahkan disangkali. Tidak jarang saya bertemu dengan orang yang mengatakan dirinya tidak stress padahal stress. Mulutnya bisa berkata tidak, tapi tubuhnya tidak dan memang terlihat gejala yang muncul akibat stress apakah itu sekedar rasa pusing, sakit kepala, nyeri lambung, gas lambung meningkat, mules dan diare, hingga sesak nafas pun bisa.

Dalam penelitian-penelitian tersebut, pencetus stress atau rasa takut pada durasi (menit) yang berlangsung lama dikaitkan dengan adaptasi tubuh baik dari parameter imunitas alami maupun penurunan regulasi beberapa fungsi imunitas spesifik. Durasi yang singkat dan bersifat natural misalnya seseorang yang harus menghadapi ujian cenderung menekan imunitas seluler sambil mempertahankan imunitas humoral tetap baik. Sedangkan pencetus stress yang kronis (berlangsung lama) dikaitkan dengan tertekannya imunitas seluler dan humoral. Efek dari rangkaian peristiwa bervariasi menurut jenis peristiwa (misalnya stress setelah mengalami trauma dan setelah mengalami kehilangan orang-orang terdekat). Kondisi ini banyak dialami orang-orang yang terkena COVID-19. Mengalami sakit, kehilangan orang tercinta, bisnis hancur, keuangan pun runtuh. Semakin stress, semakin takut menghadapi hidup, semakin turun imunitas dan mudah jatuh sakit.

Namun sebenarnya, kemampuan manusia luarbiasa. Manusia dapat memilih untuk merespons terhadap suatu pencetus yang dikenal dengan respons “fight or flight”. Melawan (fight) suatu kondisi stress dengan tidak membiarkan diri terbawa dalam stress tersebut ataupun karena takut jadi berusaha lari dari kondisi yang ada (flight).

Ancaman yang tidak memerlukan respons fisik, misalnya kondisi situasi pandemi sekarang ini, menghadapi ujian akademik atau interview masuk perusahaan dapat saja menimbulkan perubahan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam beberapa kasus, kerentanan fisik sebagai orang yang sudah berusia atau berpenyakit juga menjadi faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap perubahan kekebalan selama stress berlangsung.

Itu sebabnya menghadapi COVID-19 ini kita harus berpikir positif dengan memulainya di dalam pikirannya bahwa KITA TIDAK TAKUT! Pikiran yang dapat dikuasai akan menekan rasa stress dan pada akhirnya kita bahkan meningkatkan respons imun kita.