Belum Divaksin? Bagaimanakah Risiko Terkena COVID-19?

(Business Lounge Journal – Medicine)

Indonesia termasuk negara yang aktif mendorong masyarakat untuk melakukan vaksinasi. Menurut situs Kemenkes pada Selasa, 13 Juli 2021 tercatat bahwa semasa pandemi berlangsung telah divaksin sebanyak 36.914.607 orang untuk vaksin pertama dan sejumlah 15.190.998 orang di Indonesia baik itu nakes, petugas publik, lansia maupun masyarakat umum sudah mendapatkan vaksin kedua.  Hal pertama yang perlu kita pikirkan pencapaian kekebalan kelompok atau herd immunity yang merupakan target pemerintah dalam menangani COVID-19. Sasaran vaksinasi untuk  mencapai  herd immunity adalah sebanyak  208.265.720 orang dari 270.000.000 jiwa di Indonesia.

Herd immunity adalah konsep bahwa ketika proporsi tertentu dari suatu populasi kebal terhadap suatu penyakit, baik melalui infeksi atau vaksinasi, maka pada dasarnya epidemi ini akan habis terbakar. Dengan kata lain, “kawanan atau kelompok” yang telah tervaksin akan  melindungi individu-individu yang  tanpa kekebalan. Jadi, adalah mungkin seseorang  tanpa kekebalan tidak akan pernah sakit.

Namun sebenarnya orang yang tidak mau divaksin dan menanti herd immunity ini adalah sebuah bahaya moral. Jika setiap orang berharap untuk dilindungi oleh kekebalan kelompok dan memilih untuk tidak divaksinasi, maka pada akhirnya justru tidak ada yang akan dilindungi oleh kekebalan kelompok. Jika asumsinya adalah kita tidak mencapai ambang kekebalan kelompok, maka pertanyaan pun timbul. Apakah setiap orang yang tidak divaksinasi akan terkena COVID? Belum tentu juga.

Mengapa? Sebab beberapa orang secara alami akan kebal terhadap penyakit apa pun. Dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa hal ini sudah pernah terjadi, misalnya pada  pekerja seks Kenya yang kebal terhadap HIV. Nah apakah akan ada orang yang secara alami kebal terhadap SARS-CoV-2?? Bisa saja, kemungkinan untuk itu selalu ada. Di beberapa daerah di Afrika, COVID menurun keparahannya karena adanya varian ACE2 yang tampaknya memberikan perlindungan terhadap malaria berat, yang ternyata juga berpengaruh pada keparahan COVID.

Kekebalan genetik adalah satu hal yang tidak dapat dipungkiri. Sebuah studi di Amerika terhadap sampel darah yang dikumpulkan antara tahun 2015 dan 2018 menunjukkan bahwa 50% memiliki reaktivitas kekebalan seluler yang bagus terhadap SARS-CoV-2. Hal ini diduga berasal dari paparan virus corona sebelumnya. Bisa saja beberapa orang, walaupun tidak banyak, mungkin saja memiliki genetik antibodi yang mampu mengurangi keparahan suatu penyakit.

Atau Anda mungkin tidak terkena COVID padahal sudah mendapatkannya. Kita tahu bahwa SARS-CoV-2 dapat menyebabkan infeksi tanpa gejala. CDC memperkirakan bahwa antara Februari 2020 dan Maret 2021, ada sekitar 115 juta infeksi di AS. Selama periode itu, hanya sekitar 26 juta infeksi yang terdeteksi. Hal ini menunjukkan bahwa mungkin ada seperempat dari populasi AS – yang mengidap COVID, walau penderita  tidak mengetahuinya karena tanpa gejala.

Namun dengan adanya varian COVID-19 yang baru, akankah varian baru ini menembus kekebalan yang sudah didapat sebelumnya, baik yang diperoleh melalui vaksinasi atau melalui infeksi sebelumnya? Sejauh ini, vaksin telah bekerja dengan sangat baik terhadap varian baru. Jadi sebaiknya bagi Anda yang belum divaksin adalah lebih baik bersegera divaksin daripada berspekulasi dan berharap pada kekebalan kelompok. Adalah lebih baik berpartisipasi membentuk turut membentuk kekebalan kelompok dengan melakukan vaksinasi.