Vaksin Apa yang Mampu Melawan Corona Varian India ?

(Business Lounge Journal – Medicine)

Dalam penelitian akhir-akhir ini seiring dengan merebaknya kasus COVID-19 di India, maka didapatkan bahwa obat antibodi dan vaksin COVID-19 kurang efektif melawan varian virus corona yang pertama kali terdeteksi di India, menurut para peneliti. Varian ini adalah SARS-COV2 varian B1.617.1, B.1617.2 dan B.1.617.3 yang dapat melakukan beragam mutasi dan dapat meningkatkan potensi menghindar dari kekebalan tubuh. Hal ini membuat ketiga varian ini lebih mudah menular, namun yang paling mudah menular dari ketiganya adalah varian B1.617.2 ini adalah varian yang sama, yang saat ini dominan di beberapa bagian India dan bahkan telah menyebar ke banyak negara lain.

Cold Spring Harbour Laboratory di Long Island USA telah melakukan penyelidikan terhadap hal ini dalam laporannya di situsnya pada 26 Mei 2021 sebelum dilakukan peer review. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa para peneliti dari Institut Pasteur dan Rumah Sakit Eropa Georges Pompidou di Paris dan di Rumah Sakit Orléans dan Strasbourg mempelajari varian B.1.617.2 yang diisolasi dari seorang pelancong yang kembali dari India.

Dibandingkan dengan varian B.1.1.7 yang pertama kali diidentifikasi di Inggris, varian India ditemukan lebih resisten terhadap obat antibodi, meskipun tiga obat yang saat ini disetujui masih tetap efektif untuk melawan SARS-COV2. Antibodi dalam darah dari orang yang selamat dari COVID-19 yang tidak divaksinasi (plasma konvalesen) dan dari orang yang menerima kedua dosis vaksin Pfizer/BioNTech adalah 3 hingga 6 kali lipat lebih kuat terhadap varian India dibandingkan dengan varian Inggris dan varian yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan.

Vaksin AstraZeneca dua dosis, yang tidak melindungi terhadap varian Afrika Selatan, kemungkinan juga tidak efektif terhadap varian India, kata para penulis. Antibodi dari orang-orang yang telah menerima dosis pertama mereka “hampir tidak menghambat” varian India ini, kata rekan penulis studi Olivier Schwartz dari Institut Pasteur. Studi tersebut, tambah Schwartz, menunjukkan bahwa penyebaran cepat varian India dikaitkan dengan kemampuannya untuk “melarikan diri” dari efek antibodi penawar.

Di Indonesia sendiri, Prof. Nidom Foundation (PNF) juga terus menyelidiki hal ini dan memang menemukan bahwa memang virus ini cerdik dan meliuk. Menurut Prof. Nidom, virus ini mudah melakukan mutasi dan sangat mudah berubah dengan perubahan lingkungan. Tiga faktor yang berkaitan dengan mutasi virus adalah faktor host (inang), faktor virus, dan lingkungan. Ketiganya saling berinteraksi untuk mengalami perubahan. Jika inang mengalami perubahan maka virus pun akan mengalami perubahan. Namun optimisme melawan SARS-COV2 tetap harus dibangun bahwa virus ini dapat dikendalikan. Vaksin diharapkan dapat menyelesaikan penyakit yang berasal dari virus, termasuk vaksin Nusantara dan vaksin Merah Putih yang saat ini sedang dikembangkan di Indonesia. Khususnya vaksin Nusantara, dapat berkembang mengikuti berkembangnya virus.