Prof Chairul Anwar Nidom, drh: Vaksin Nusantara Imunoterapi dengan Sel Dendritik Alternatif Menghadapi Covid-19

(Business Lounge Journal – Interview Session)

Pada kesempatan ini, Business Lounge Journal berbincang-bincang dengan Prof. Chairul Anwar Nidom, drh. sebagai pembina pada Yayasan PNF (Prof. Nidom Foundation) dan juga bagian dari tim pengembangan Vaksin Nusantara.

Berikut ini adalah penjelasan dari  Prof. Nidom yang menjelaskan pada masyarakat cara kerja imunoterapi sebagai alternatif untuk memerangi COVID-19.

Imunoterapi yang sudah dikembangkan saat ini adalah plasma konvalesen. Seseorang yang sudah terkena virus COVID-19 memiliki antibodi. Kalau ada orang yang sedang terinfeksi maka kita dapat mengambil plasma serum dari orang yang sudah mempunyai antibodi. Ini adalah pemikiran bypass. Untuk divaksin orang memerlukan waktu 14-21 hari untuk membentuk antibodi. Sedangkan virus sudah mengembangkan antibodi pada orang yang terkena virus COVID-19. Sehingga jalan pintasnya adalah mengambil serum atau plasma dari orang yang sudah pernah terinfeksi. Ini adalah prinsip imunoterapi.

Namun plasma konvalesens ini memiliki problem yaitu bahwa plasma yang diambil belum tentu sesuai dengan penderita. Sama seperti orang yang mau donor darah bisa di-reject kalau tidak cocok. Imunoterapi plasma konvalen memotong waktu dari 14 hari menjadi satu hari, namun dengan adanya kemungkinan reaksi biologis penolakan dari tubuh.

Bagaimana kalau pabrik imun ini sudah disiapkan lebih dulu dalam tubuh?

Yaitu dengan sel dendritik.

Bagaimana caranya ?

Sel dendritik dari seseorang dididik di laboratorium tujuh hari yaitu selama lima hari untuk mengembangkan sel dendritiknya dan perlu dua hari untuk mengenalkan dengan antigen yang ada. Setelah terdidik dimasukkan kembali kedalam tubuh orang tersebut. Baik ada infeksi ataupun tidak ada infeksi, maka  sistem ini sudah berjalan. Ketika virus masuk maka sistem sudah langsung on. Jadi tidak perlu menunggu waktu lagi 14-21 hari. Langsung menerima kekebalan. Dendritik sel ini diaktifkan di luar dengan menggunakan model virus.

Hal ini bertentangan dengan ilmu jaman dahulu. Bagaimana ketika tidak ada antigen bisa terbentuk antibodi. Dendritik sel tidak akan mengeluarkan antibodi yang spesifik tapi ketika ada antigen dari luar maka barulah ia akan mengeluarkan antibodi yang spesifik.

Masyarakat tidak perlu kuatir terhadap vaksin Nusantara karena mesin pembangkit antibodi ini ada di dalam tubuhnya. Mesin yang sudah diaktifkan ini nanti di dalam perkembangan tubuhnya akan menularkan pada progeni-progeni yaitu anak-anak sel dendritik.

Orang mempertanyakan masakan ada antibodi seumur hidup? Ada!

Antibodi seperti pada penyakit cacar itu seumur hidup, karena ada atau tidak ada virus tubuh terus memproduksi kekebalan. Jika ada virus yang lain maka itu menjadi pekerjaan dendritik yang lain. Sama seperti pabrik besar dimana setiap orang mempunya pekerjaan sendiri-sendiri. Dendritik sel memiliki banyak reseptor, bisa ribuan hingga jutaan. Sehingga ketika ada infeksi baru, dendritik dapat dimuati lagi.

Dendritik selama ini dipakai untuk pengobatan kanker sehingga pengobatan kanker harus masuk ke dalam sel. Sama dengan virus, maka pengobatan harus masuk ke dalam sel. Misal pada kanker payudara (mammae) antigen dari kanker tersebut dendritik dikenalkan pada antigen dari kanker tersebut kemudian diaktifkan dengan dendritik sel dan dimasukkan ke dalam tubuh.

Idenya cukup brilian. Dendritik sel yang selama ini digunakan untuk penyakit non infeksius sekarang dipikirkan bagaimana ide ini dipakai untuk penyakit infeksius. Jika ini sukses maka kita  tidak perlu kuatir lagi bila ada pandemi Mengapa? Karena persiapannya hanya tujuh hari. Bandingkan dengan orang-orang yang menggunakan vaksin konvensional, perlu bulanan bahkan tahunan untuk mempersiapakan vaksin.  Vaksin untuk Demam Berdarah disiapkan bertahun-tahun dan gagal. Namun Dendritic Cell ini dalam seminggu mempersiapkan dan dimasukkan dalam tubuh dan tinggal dimasukkan . Tidak akan ada persoalan dengan dendritic cell karena itu adalah milik orang itu sendiri.  Bahan-bahan mempersiapkannya juga sudah diuji di hewan dan tidak ada masalah. Yang disiapkan hanya antigen dan penumbuh dendritik sel dan dendritik sel itu sendiri. Tidak ada bahan kimia, tidak ada alum (adjuvan yang dapat menimbulkan neurotoksik) seperti yang digunakan vaksin konvensional.