Ketekunan Milton S. Hershey, Melahirkan Cokelat Hershey yang Mendunia

(Business Lounge Journal – Entrepreneurship)

Cokelat dengan merek Hershey sering kali menjadi pilihan paling menarik untuk menjadi oleh-oleh sepulang dari perjalanan luar negeri. Cokelat ini diproduksi oleh perusahaan Hershey yang saat ini menjadi salah satu produsen cokelat terbesar dan tersukses di dunia. Pada tahun 2019, sebelum pandemik berkecamuk, perusahaan ini mencapai penjualan hingga $ 8 miliar (setara dengan IDR 114,5 triliun). Namun demikian, sangat menarik untuk melihat bagaimana keberhasilan perusahaan cokelat ini diraih dari serangkaian kegagalan yang terjadi sebelumnya.

Tentang Hershey dan Henry

Kisah sukses cokelat Hershey dimulai ketika Milton S. Hershey memulai sebuah bisnis di tenggara Pennsylvania, AS. Bukan secara kebetulan Milton menjadi seorang pengusaha, namun ayahnya, Henry telah memulainya lebih dulu walaupun ia tidak menuai kesuksesan.

Penulis biografi keluarga Hershey menggambarkan bagaimana Henry adalah seorang pemimpi yang tidak pernah dapat menerjemahkan visinya. Namun sangat menakjubkan bagaimana ia sebenarnya memiliki bisnis yang bervariasi, walaupun sering kali tidak menguntung, mulai dari bisnis mesin perpetual motion, sumur minyak, ladang pertanian, peralatan pertanian, obat batuk, pembuatan lemari, perak, pengobatan ternak, lukisan, hingga penjualan barang bekas.

Sebuah kejadian menarik ketika Henry mengisi ruang bawah tanahnya dengan tomat kalengan, ia berniat untuk menjualnya namun diluar dugaan, tomat fermentasi itu meledak. Polisi pun menangkapnya karena dianggap membuat kekacauan dan memaksanya untuk membersihkan serta membuang tomat-tomat itu. Henry selalu berusaha untuk berhasil hingga di usia senja, namun Miltonlah yang menuai keberhasilannya.

Cerita Ketekunan Hershey

Hershey ternyata mewarisi kegigihan Henry. Sebuah kegigihan tidak dapat diperoleh dengan uang, juga tidak dapat diperoleh semata-mata dari sekolah. Bahkan seorang jenius pun belum tentu mempunyai ketekunan. Sebuah tekad tanpa disertai ketekunan pun hanya akan menjadi angan-angan. Tetapi pengalaman hidup Henry mewariskan kegigihan bagi Milton.

Pada tahun 1872 pada usia ke-14, Milton bekerja di Royer’s Ice Cream Parlour di Lancaster, Pennsylvania. Setelah beberapa saat, ia mengajukan diri untuk pindah ke bagian permen dari bagian es krim dan di sinilah awal dari keberhasilannya. Milton pun belajar banyak dari Royer. Pada usia ke-19 ia pergi ke Philadelphia, untuk memulai bisnisnya bertepatan dengan orang banyak yang menghadiri Pameran Centennial di negara itu. Di sana dia memulai perusahaan pertamanya, Spring Garden Confectionary Works, dan menjual gula-gula ke banyak pelanggan yang menjadi sangat puas dengan layanannya. Hershey sangat suka bereksperimen dengan resep permen dan kemudian menghasilkan karamel lembut dan kenyal yang kemudian menjadi sukses besar. Semuanya berjalan dengan baik bahkan setelah pameran berakhir, tetapi Milton tidak dapat memungkiri bahwa ia menghadapi sebuah persaingan yang semakin sulit.

Pada usinya ke-24 ia harus mengadu nasib ke Colorado. Di sini Henry telah mengalami kegagalan dalam bisnis peraknya. Tetapi kemudian ayah dan anak itu berkolaborasi dan berangkat ke Chicago untuk membuka toko permen. Namun setelah berjuang selama beberapa bulan, mereka memutuskan untuk meninggalkan bisnisnya di Chicago dan mencoba peruntungan di New York dengan sebelumnya mereka mampir ke Lancaster untuk meminjam sejumlah uang dari kerabat. Apakah berhasil? Tidak!

Petualangan Milton di New York pun berakhir dengan kegagalan pada tahun 1886. Di usianya yang hampir mencapai 30 tahunm, Milton mengalami kebangkrutan, tanpa uang dan ia pun memutuskan kembali ke Lancaster tempat dia pertama kali belajar membuat permen satu setengah dekade sebelumnya.

Tekun dan Belajar dari Kegagalan

Milton tidak menyerah, ia tidak beralih profesi, atau mencari pekerjaan lain. Milton Hershey telah bertekad untuk meraih sukses yang tidak berhasil diraih sang ayah. Milton tidak mundur dari bisnis yang sudah dimulainya, maka ia pun membuat sebuah perusahaan baru yaitu Perusahaan Lancaster Caramel walaupun kerabatnya sudah tidak mau memberikan pinjaman uang lagi kepadanya.

Kali ini, Milton menjadikan kegagalan sebagai instruktur terbaiknya. Dia telah belajar banyak dari kesalahan sebelumnya. Milton menghabiskan berhari-hari dengan mengutak-atik karamel. Dia mencoba menambahkan kacang, melapisinya dengan icing gula, menambahkan sedikit sirup jagung, dan selanjutnya. Secara bertahap, dia membuat produk premium baru — bernama Lotus, Paradox, dan Cocoanut Ices. Untuk produk yang lebih murah, ia memproduksi Uniques, yang dibuat dengan susu skim dan dengan satu sen maka orang dapat memperoleh delapan permen.

Milton dan perusahaannya pun berkembang dengan cepat. Dia menjadi pengusaha Pennsylvania yang terkemuka dan dihormati, mempekerjakan ratusan pekerja.

Beralih menjadi Perusahaan Cokelat

Pada waktu yang bersamaan berlangsunglah sebuah pameran berkelas dunia di Chicago pada tahun 1893. Milton pun datang dan mengunjungi sebuah gerai milik perusahaan cokelat dari Jerman yang dilengkapi dengan sebuah mesin yang mengubah biji kakao menjadi permen batangan.

Pada saat itu, cokelat adalah sebuah kudapan mewah bagi orang berduit dan harganya tidak terjangkau oleh kebanyakan orang Amerika. Milton begitu terpesona oleh perusahan cokelat tersebut sehingga ketika pameran berakhir, dia pun membeli seluruh yang dipamerankan termasuk mesinnya. Milton memang telah menghasilkan uang dengan karamel tetapi ia berpikir bahwa karamel akan segera ketinggalan jaman. Masa depan ada pada coklat. Di sebuah kota kecil, Derry Church, pada tahun 1984, Milton membuka sebuah pabrik cokelat pertamanya yang terus berkembang dan meraih keberhasilan. Kota itu pun kemudian dikenal sebagai Hershey, Pennsylvania.

Milton tidak pernah lagi mengkhawatirkan kebangkrutan. Dia dan istrinya bahkan mendirikan sebuah sekolah terkenal untuk anak laki-laki yatim piatu dan sekarang menjadi salah satu sekolah terkaya di dunia. Milton meninggal pada tahun 1945 pada usia 86 tahun dan meninggalkan warisan yang berhari bagi warga Hershey, PA, serta para pencinta cokelat di 70 negara. Dia menyukai cokelat.

Kisah Hershey ini dapat memberikan sebuah pembelajaran bahwa ketekunan untuk terus belajar dari kegagalan akan membuahkan hasil.