Melihat Ponsel itu bisa Sekedar Latah – Sebuah Penelitian

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Tidak dapat dipungkiri bahwa gadget terutama ponsel cerdas telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Ditambah lagi adanya pandemi, maka ketergantungan pada ponsel pun semakin kuat. Tanpa disadari, banyak orang memiliki sebuah refleks untuk berkali-kali memeriksa gadget mereka walaupun sedang tidak ada pesan masuk dan juga sedang tidak menunggu sebuah panggilan. Apakah Anda juga pernah mengalaminya? Mungkin Anda pernah berbicara dengan seseorang yang bolak balik melihat ponselnya.

Sebuah penelitian di Italia kembali mengungkapkan bagaimana sebenarnya manusia memiliki kecenderungan dengan secara tidak sadar meniru orang-orang di sekitarnya. Hal ini pernah dipaparkan pada tahun 1999 dalam sebuah jenis perilaku yang diberi nama The Chameleon Effect (efek bunglon). Efek ini ditemukan oleh seorang sosiolog, John A Bargh dan seorang psikolog sosial, Tanya L Chartrand dalam sebuah makalah. Adanya sebuah kecenderungan pada bawah sadar manusia untuk meniru perilaku orang lain. Salah satu perilaku yang sering kali menular adalah menguap. Banyak kali kita menguap bukan karena mengantuk atau bukan karena bosan, tetapi karena melihat orang lain menguap. Ini sudah dibuktikan tidak hanya pada manusia, tetapi terjadi juga pada singa-singa.

Lalu kemudian para peneliti di Italia juga mengamati apakah tindakan ‘latah’juga terjadi dalam konteks penggunaan ponsel cerdas. Para behavioural experts dari University of Pisa melakukan penelitian pada 184 orang – yang berada di lingkungan masyarakat dan secara alami diteliti sebab mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang diamati. Kemudian ditemukan bahwa ketika seseorang melihat ponsel pribadinya, sekitar setengah dari orang yang dipantau di sekitarnya juga akan melihat ponsel emreka sendiri dalam waktu 30 menit.

Penelitian ini kemudian menyimpulkan bahwa diperkirakan mamalia telah berevolusi untuk secara tidak sadar meniru perilaku satu sama lain, yang dapat membantu mereka terikat dengan kelompoknya.

Elisabetta Palagi dari the University of Pisa juga menjelaskan kepada New Scientist bahwa penggunaan ponsel pada umumnya membuat si pengguna terisolasi secara sosial (“anti sosial”) dan hal ini mengganggu kehidupan yang nyata serta aktivitas yang sedang berlangsung. Jadi tindakan itu sering kali dilakukan tanpa sadar dan mungkin saja tidak ada manfaatnya. Ini tidak hanya terjadi pada anak muda sebab usia maupun jenis kelamin tidak memengaruhi respons terhadap ponsel cerdas.

Penelitian ini dilakukan antara bulan Mei dan September pada tahun lalu, dengan kata lain, dilakukan pada masa pandemi. Tetapi tidak bisa dibuktikan apakah tindakan ‘latah’ tersebut apakah dipengaruhi oleh masa pandemi, lockdown, atau adanya isolasi sosial.