Kecurigaan Vaksin Adenovirus Menyebabkan Pembekuan Darah

(Business Lounge Journal – News)

Pengetahuan tentang COVID-19 dan vaksinnya masih terus berkembang.Seiring dengan penelitian yang terus dilakukan oleh para peneliti di dunia. Jika pada informasi sebelumnya vaksin Astra Zeneca dinyatakan aman maka setelah diteliti lebih lanjut para ilmuwan di Jerman mengatakan bahwa vaksin Johson & Johnson yang menggunakan platform adenovirus ternyata juga menyebabkan pembekuan darah yang langka.

Beberapa negara Eropa telah mengubah atau meninggalkan penggunaan vaksin AstraZeneca. Beberapa waktu lalu Denmark mengatakan tidak akan lagi memasukkan Vaxzevria sebagai bagian dari program vaksinasi. Italia merekomendasikan agar vaksin AstraZeneca hanya digunakan pada orang yang berusia di atas 60 tahun. Pejabat Inggris mengatakan orang di bawah usia 30 tahun harus ditawari alternatif. European Medicines Agency mengatakan peringatan tentang risiko pembekuan darah.

Eropa memang juga mengembangkan vaksin Vaxzevria dalam perlombaan vaksin dunia yang didanai oleh Operation Warp Speed. Namun regulator Eropa telah melaporkan lebih dari 220 kasus pembekuan darah yang tidak biasa dan tingkat trombosit yang rendah pada pasien yang menerima vaksin Vaxzevria.

Andreas Greinacher, MD, kepala Institut Pengobatan Imunologi dan Transfusi, Rumah Sakit Universitas Greifswald, Jerman, menemukan bukti kuat bahwa pembekuan darah yang langka tersebut berhubungan dengan antibodi terhadap protein faktor trombosit IV. Greinacher mengatakan dia menggunakan tiga teknologi berbeda untuk mengumpulkan bukti yaitu dengan teknologi hamburan cahaya dinamis, mikroskop resolusi super, dan mikroskop elektron. Hasilnya ditemukan mekanisme yang sama yang membentuk pembekuan darah yang langka ini. Studi ini dipublikasikan sebagai pracetak sebelum tinjauan sejawat di server Research Square. Greinacher memiliki keyakinan bahwa mekanisme yang menghubungkan vaksin dengan reaksi pembekuan langka kemungkinan akan terjadi pada vaksin lain yang juga menggunakan adenovirus untuk menyampaikan instruksi untuk membuat protein virus melonjak ke dalam sel. Dia menambahkan, dia belum bisa memastikan karena dia hanya mempelajari reaksi terhadap vaksin Vaxzevria. Tetapi penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa Adenovirus dapat menyebabkan jenis aktivasi trombosit yang dia lihat dalam reaksi yang dia pelajari.

Greinacher mengatakan bahwa dia telah membuat kesepakatan dengan Johnson & Johnson untuk berkolaborasi dalam mempelajari vaksin COVID-19 Johnson & Johnson. Ada tujuh kasus dengan pola penggumpalan yang sama yang tidak biasa yang sama telah didokumentasikan pada orang yang menerima vaksin satu dosis Johnson & Johnson, yang juga menggunakan adenovirus sebagai sarana pengirimannya. Di Amerika sendiri telah lebih dari 7 juta vaksin Johnson & Johnson diberikan pada masyarakat. Perusahaan juga mengumumkan akan mengadakan uji klinis untuk mendapatkan lebih banyak jawaban tentang reaksi tersebut.

Greinacher menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki mesin kekebalan dasar yang dapat mengarah ke penggumpalan darah yang tidak biasa. Vaksin lain mungkin membentuk kompleks protein-antibodi yang lebih kecil yang menghasilkan sinyal peringatan yang lebih kecil, membuat kemungkinan reaksinya lebih kecil.

Mengenai mengapa reaksi tampak lebih umum pada wanita, Greinacher mengatakan dia semakin skeptis bahwa ada bias gender yang besar. Dia menunjukkan bahwa sebagian besar penerima vaksin pertama di Eropa adalah petugas kesehatan, yang secara tidak proporsional adalah wanita. Dia mencatat bahwa wanita mungkin sedikit lebih rentan karena hormon dan karena wanita lebih mungkin mengembangkan penyakit autoimun, tetapi risikonya mungkin lebih seimbang antara pria dan wanita daripada yang terlihat sebelumnya.

Perkembangan vaksin di dunia ini memang harus kita perhatikan terus menerus sebab selalu akan ada temuan-temuan baru yang dapat membuat kita lebih mengerucut kepada kerja vaksin mana yang terbaik dan menimbulkan paling sedikit efek samping.