Molnupiravir, Obat Baru COVID-19 Mengatasi COVID-19 Bagai Flu Biasa

(Business Lounge Journal – Medicine)

Obat baru yang disebut Molnupiravir telah terbukti menghentikan penularan SARS-CoV-2 dalam 24 jam. Kini telah masuk pada phase clinical trials 2A. Dari situs resmi Merck, perusahaan ini melaporkan pada 6 Maret 2021 kemarin menunjukkan pengurangan waktu (hari) untuk isolasi virus menular pada usap nasofaring dari peserta dengan gejala infeksi SARS-CoV-2 menjadi menjadi negatif. Temuan awal ini dipresentasikan pada acara Science SpotlightsTM di Konferensi 2021 tentang Retrovirus dan Infeksi Oportunistik (CROI 2021).

Obat antivirus Molnupiravir, atau dinamakan juga MK-4482 / EIDD-2801, digunakan secara oral. Molnupiravir sedang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Ridgeback Biotherapeutics bekerja sama dengan perusahaan farmasi raksasa Merck.

Adalah dr. Richard K Plemper, Profesor Universitas Terkemuka di Amerika membuat sebuah kelompok penelitian yang awalnya menemukan bahwa obat tersebut ampuh melawan virus influenza. “Kami telah menandai MoA (mechanism of action) Molnupiravir terhadap virus influenza dalam publikasi sebelumnya,” kata Dr. Plemper.

Secara global, Ridgeback Biotherapeutics menjalankan uji klinis bekerja sama dengan Merck. Obat ini sekarang dalam uji coba manusia fase 2/3 tahap lanjut di berbagai pusat. Uji coba fase 2/3 adalah studi klinis double-blind acak terkontrol plasebo untuk mengevaluasi kemanjuran dan keamanan MK-4482 pada orang dewasa yang dirawat di rumah sakit dengan Covid 19 di 46 lokasi di berbagai negara serta pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit.

Merck bisa jadi akan menang besar dan akan berhasil. Selama beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan Merck sangat bergantung pada satu obat kanker dan obat diabetes yang terus mengalami penurunan. Merck juga terlambat dalam perlombaan vaksin Covid-19 di seluruh dunia. Namun setelah mencapai kesepakatan dengan Ridgeback, Merck meluncurkan uji coba Tahap II / III yang bertujuan untuk mendaftarkan hampir 3.000 pasien di AS, Kolombia, Israel, Rusia, dan tempat lain. Dengan jutaan orang tertular Covid di seluruh dunia, banyak orang bersedia mengikuti percobaan ini.

Merck kini sedang mempelajari berbagai dosis, mengawasi dengan cermat efek samping, dan memantau berbagai perkembangan penyakit, termasuk menindaklanjuti untuk mengetahui apakah pasien pada berbagai tahap infeksi SARS-COV2 yang akhirnya dirawat di rumah sakit menderita efek samping. Juga sedang diteliti apakah molnupiravir mengurangi viral load atau tidak. Ukuran partikel virus yang terkonsentrasi di tubuh setelah seseorang terinfeksi. Studi ini dapat menjadi tulang punggung pengajuan otorisasi penggunaan darurat dengan regulator.

“Temuan objektif sekunder dalam penelitian ini, tentang penurunan lebih cepat pada virus menular di antara individu dengan COVID-19 dini yang diobati dengan molnupiravir, menjanjikan dan jika didukung oleh penelitian tambahan, dapat memiliki implikasi kesehatan masyarakat yang penting, terutama sebagai SARS-CoV- Virus 2 terus menyebar dan berkembang secara global, ”kata Dr. William Fischer, peneliti utama studi EIDD-2801 2003 dan Associate Professor of Medicine, Division of Pulmonary Diseases dan Critical Care Medicine di University of North Carolina School of Medicine.

“Kami terus membuat kemajuan dalam program klinis Fase 2/3 kami yang mengevaluasi molnupiravir baik dalam pengaturan rawat jalan maupun rumah sakit dan berencana untuk memberikan pembaruan bila perlu,” kata Dr. Roy Baynes, wakil presiden senior dan kepala pengembangan klinis global, kepala petugas medis Laboratorium Riset Merck.

Dunia berharap penemuan obat Molnupiravir ini akan menjadikan COVID-19 tidak lagi mengerikan dan hanya semudah penanganan pada influenza biasa. Bahkan di India, para peneliti India sangat berantusias dengan obat ini, dan mereka juga berencana untuk menerapkan regulator obat untuk melakukan uji coba pada manusia dengan obat tersebut.

Baca juga:

Bekerja Cepat, Obat Baru Penghambat COVID-19