Pandemi Ternyata dapat Picu Lahirnya Banyak Startup Tahun ini

(Business Lounge Journal – Entrepreneurship)

Tahun 2020 telah menjadi sebuah tahun yang menantang bagi banyak orang dan juga organisasi tentunya. Ada banyak kondisi dan situasi yang tidak terelakkan yang memaksa semua kegiatan terhenti dalam seketika dan dalam sekejap harus menyusun strategi baru untuk mengatasi permasalahan yang ada. Semakin banyak permasalahan yang ada, semakin banyak problem solver yang dibutuhkan dan sudah dapat ditebak semakin banyak entrepreneur yang akan hadir.

Ya, seperti sudah kita ketahui bagaimana entrepreneur sejati lahir dari sebuah aksi untuk memecahkan permasalahan keseharian yang ada di sekitarnya. Sehingga, bisakah kita katakan oleh karena banyaknya permasalahan yang timbul pada tahun 2021, maka tahun ini akan menjadi tahun kelahiran bagi banyak startup?

Sedikit kilas balik ke masa resesi terakhir pada rentang tahun 2007 ke tahun 2009. Permasalahan yang ada saat itu telah melahirkan sederet strartup yang kita kenal, seperti Uber, Airbnb, Zalando, dan Whatsapp. Nama-nama tesebut terus bertumbuh dan masuk pada jajaran perusahaan TOP dan kuat di dunia. Ini membuktikan bahwa ketika masalah datang, maka mereka yang kreatif dan mencari cara untuk mengatasi situasi negatif tersebut, tentunya akan berhasil.

Pandemi yang terjadi pada tahun lalu dapat dikatakan sebagai sebuah permasalahan yang melanda dunia dan akan menentukan arah bisnis pada masa depan. Karena itu sangat diyakini bahwa pada tahun ini, dalam situasi yang sebenarnya tidak terlalu stabil, maka peluang wirausaha justru menjadi lebih banyak. Tahun 2021 pun menjadi tahun yang baik untuk memulai bisnis, proyek, atau ide baru.

Minimal kontak

Pandemi telah membuat kita semua menghindari kontak dan menjaga jarak dalam keseharian. Hal ini otomatis membuat kita mencari cara untuk dapat tetap beraktifitas namun dengan tetap meminimalkan kontak. Karena itu semua aktifitas sebisa mungkin dilakukan secara online dan teknologi menjadi jawabannya. Namun demikian, masih banyak permasalahan yang belum terpecahkan karena belum tersedianya layanan yang dapat mengakomodir kebutuhan tersebut. Masih banyak solusi yang belum diciptakan. Kita masih mengharapkan solusi dan ide baru berbasis digital dan online yang akan lahir pada tahun ini, dan terutama yang menyederhanakan pekerjaan manual menjadi lebih efisien dan meningkatkan profitabilitas.

Business Lounge Journal berkesempatan berbincang dengan Gerry Hasang yang menjadi bagian dari startup yang akan melakukan launching pada tahun ini setelah merintisnya pada tahun lalu. Sebenarnya Gerry merintis Spotgue sebelum pandemi, untuk membantu mereka yang kesulitan dalam mencari parkir di mall dan bagaimana dapat membuat para pengunjung mall dapat memperoleh informasi menarik seputar sale, promo, kuliner, ataupun produk kesayangan dari mall tertentu. Namun ketika pandemi merebak, teknologi yang Gerry sedang kembangkan justru menghadirkan suatu pengalaman “Cara Baru Ngemal” di era industri digital 4.0.

Percepatan e-commerce

Pada tahun lalu, Forbes membuat sebuah studi yang menunjukkan bahwa pada tahun 2020 bisnis e-commerce telah tumbuh setara pertumbuhan yang sejatinya dapat dicapai selama 4 – 6 tahun. Luar biasa! Tetapi memang perkembangan ini sudah dapat diprediksi, sebab bagaimana pemberlakukan “stay at home” di seluruh bagian dunia di awal pandemi tentu saja akan membutuhkan perkembangan teknologi belanja online. Walaupun pembatasan tidak lagi diberlakukan, e-commerce terus berkembang seiring dengan telah terbentuknya kebiasaan berbelanja dari ponsel atau komputer.

Belanja online bukanlah hal baru sebenarnya, tetapi sekarang karena permintaannya tinggi, ada peluang besar untuk mengembangkan program, layanan, dan solusi yang membantu dalam membuat e-commerce lebih lancar.

Semua tentang kesehatan

Pandemi telah membuat kita semua lebih peduli pada kesehatan dan kebersihan. Seolah ingin mengetahui banyak hal, maka berbagai informasi tentang kesehatan menjadi santapan sehari-hari. Tidak hanya yang berkaitan dengan Covid-19, tetapi apa saja yang menyangkut kesehatan.

Hal ini juga menyebabkan munculnya berbagai startup di bidang kesehatan yang tidak hanya bersifat informative belaka, tetapi juga untuk keperluan konsultasi. Demikian juga dikatakan dr. Niko Azhari Hidayat,SpBTKV(K)VE FIHA selaku pelaku Digital Health Startup di Indonesia kepada Business Lounge Journal. Badi dr. Niko pandemi telah memberikan efek nyata yang memancing emosi para medis, technologist yang concern pada dunia kesehatan untuk turut aksi, baik dalam penanganan langsung maupun tak langsung terhadap COVID-19. Platform Telehealth pun disinyalit akan semakin membumi, mengingat kontak langsung kerumunan masih dibatasi. Karena itu, dr. Niko melalui dua asosiasi teknologi yang digawanginya, yakni Healthtech.id & ATENSI turut mendorong kemajuan bidang Telehealth.

Melimpahnya talent berkualitas

Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi telah banyak menghantam banyak bisnis secara global. Hal ini menyebabkan banyaknya perusahaan termasuk startup yang terpaksa melepaskan sebagian besar tenaga kerjanya, walaupun mereka terbilang para potential talent. Hal ini menyebabkan pasar tenaga kerja pun kebanjiran top talent.

Beberapa dari mereka akan berupaya untuk mendapatkan peluang yang baru. Namun beberapa lainnya akan memutuskan untuk banting setir menjadi startup dan merintis bisnis mereka sendiri. Seperti dikemukakan oleh Angela Oetama, co-founder dan CEO Gradana, bahwa banyaknya mereka yang kehilangan pekerjaan pada tahun lalu dan adanya pemulihan serta bangkitnay ekonomi di tahun 2021, akan menggerakkan mereka yang kehilangan pekerjaan untuk mulai menjadi entrepreneur. Walaupun dari sisi timing dan kondisi yang ada, belum tentu mudah. Sebab masalah pendanaan yang pada masa normal saja bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi di masa pandemic. Kecuali mereka sudah mempunyai modal atau tabungan sendiri. Berikutnya tantangan akan dating dari daya beli customers.

Peluang dari para investor

Ya, kita memang sedang berada di tengah krisis kesehatan dan ekonomi. Semua yang terjadi masih terus harus dipelajari bagaimana bisnis akan berjalan dan bagaimana mengatasi tantangan yang muncul pada tahun-tahun mendatang. Meskipun para investor akan lebih berhati-hati dalam melangkah, bukan berarti semua pendanaan tiba-tiba hilang, namun menjadi lebih selektif tentunya. Ide, terobosan, dan proyek yang luar biasa pasti akan lebih mendapatkan perhatian. Nicko Widjaja, CEO BRI Ventures menyampaikan dalam sebuah interview bahwa perusahaan pendanaan yang dipimpinnya tetap menggelontorkan dana pada para startup di tenagh-tengah pandemi.

Dukungan Pemerintah

UMKM memang belum tentu startup, namun banyak startup memulainya dari UMKM. Pada tahun 2020, UMKM telah menjadi salah satu fokus pemerintah untuk mendukung perekonomian Indonesia. Karena itu, sebagai bentuk kepedulian pemerintah maka APBN melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada tahun 2020, telah menyalurkan anggaran sebesar Rp173,17 triliun untuk mendukung UMKM dan korporasi. (Baca: Pemerintah Dukung UMKM Lebih Kuat Selepas Pandemi). Karenanya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati juga mengungkapkan bahwa dukungan pemerintah tersebut tidak hanya bertujuan supaya UMKM bisa bertahan di tengah pandemi, namun juga bangkit dan bisa lebih kuat lagi selepas pandemi ini berakhir.

Dengan demikian dapat dipastikan, bahwa adanya dukungan pemerintah ini akan menjadi nilai postif untuk mendukung kelahiran para startup pada tahun 2021 ini.

Mari kita tunggu munculnya para startup berprestasi di tahun ini.