Zoom Fatigue, Kelelahan karena Terlalu Banyak Video Conference

(Business Lounge Journal – Medicine)

Di masa pandemi ini penggunaan video conference sulit untuk dihindari, khususnya untuk urusan bekerja dan sekolah. Pertemuan tatap muka sebisa mungkin diminimalkan, sebagai gantinya maka dilakukan secara online dari rumah. Tidak terasa sudah lebih dari satu tahun kita terbiasa dengan kondisi pandemi ini. Kita mungkin sudah bisa merasakan perbedaannya, antara kerja dari rumah dibandingkan dengan kerja di kantor seperti dahulu. Tidak sedikit yang merasakan bahwa kerja dari rumah ternyata lebih melelahkan dibandingkan dengan kerja di kantor. Kelihatannya bekerja di rumah dengan video conference sangat mudah dilakukan, tetapi ternyata bila dilakukan dalam frekuensi yang sering, hal ini malah menimbulkan kelelahan. Nah kelelahan karena terlalu banyak melakukan video conference ini dikenal dengan istilah Zoom fatigue.

Zoom fatigue adalah sebuah kondisi kelelahan baik secara fisik ataupun mental yang terjadi karena terlalu banyak menggunakan video conference.  Sebenarnya ini bukan hanya berlaku bagi Zoom, tetapi juga untuk video conference lainnya seperti Google Hangouts, Skype dan lainnya. Ada beberapa faktor penyebab Zoom fatigue, yang pertama adalah bahwa bekerja dengan video conference membuat otak kita harus bekerja lebih keras dibandingkan dengan pertemuan tatap muka. Ketika kita berinteraksi langsung, kita tidak hanya mendengar suara atau melihat raut muka lawan bicara kita, tetapi  kita juga bisa menangkap gerakan tubuh dan tangan, dan isyarat sosial lainnya dengan mudah. Hal ini tidak ada ketika kita melakukan konferensi video, dengan demikian otak harus bekerja lebih keras untuk memproses informasi yang didapatkan, hal ini tentunya menghabiskan banyak energi dan menyebabkan kelelahan.

Hal lainnya yang menyebabkan zoom Fatigue adalah perasaan menjadi pusat perhatian, ketika semua orang menatap kepadamu setiap saat. Adanya kontak mata yang terus menerus menciptakan kondisi stress. Tidak seperti dalam pertemuan antar muka, ketika peserta akan beralih ke aktifitas lain, misalnya membuka catatan, di Zoom semua orang akan selalu menatap semua orang. Stress yang disebabkan oleh sejumlah wajah yang menatap anda terus menerus sama dengan ketika anda berbicara di depan umun. Selain  itu pada konferensi video, kita bisa melihat diri kita sendiri di layar, sesuatu yang tidak ada pada pertemuan tatap muka. Hal ini menciptakan persepsi bahwa kita menjadi pusat perhatian dan akhirnya menimbulkan tekanan untuk kita berperilaku sedemikian rupa.

Untuk mengatasi sindrom zoom fatigue ini, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan di antaranya adalah membatasi penggunaan konferensi video hanya kalau benar-benar dibutuhkan. Kita bisa menganti metode komunikasi dengan panggilan telepon atau email.  Selain itu kita bisa mengubah tampilan layar online meeting, jangan menggunakan fitur gallery view yang membuat kita melihat semua peserta meeting, lebih baik menggunakan fitur speaker view. Kita juga bisa mengatur agenda dan durasi meeting, dan memastikan meeting berjalan dengan efektif, selain itu jangan lupa untuk menyediakan waktu istirahat juga.

Rebecca Hayati, S.Pd., MM/Partner of Management & Technology Services Division, Vibiz Consulting Group