Setiap Orang Terhitung Telah Membuang 74kg Makanan Setiap Tahunnya, Anda Salah Satunya?

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Pernahkah Anda membeli bahan makanan, menyimpannya di kulkas hingga expired dan kemudian membuangnya? Atau, pernahkah Anda menyimpan sisa makanan untuk esok hari namun akhirnya memasukkannya ke tempat sampah karena sudah menjadi tidak segar? Jika jawabannya “Ya”, maka Anda telah menjadi salah satu kontibutor yang menyebabkan 1 miliar ton makanan terbuang percuma dalam satu tahun.

Food Waste Index Report 2021 baru saja dikeluarkan oleh PBB. Pelaporan ini disajikan dengan komprehensif dan menggambarkan bagaimana orang menyia-nyiakan hampir satu miliar ton makanan dalam setahun. Sementara limbah yang ditemukan adalah sekitar dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya. Laporan ini dibuat dengan tujuan untuk mendukung upaya global dalam memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan PBB juga untuk mengurangi separuh limbah makanan pada tahun 2030.

Jika dirata-ratakan maka makanan yang dibuang oleh setiap orang pada setiap rumah mencapai 74kg setiap tahunnya secara global. Di Inggris, yang memiliki pencatatan data terbaik, didapati bahwa limbah makanan terdiri dari sekitar delapan jenis makanan per rumah tangga setiap minggunya. Selain limbah makanan di rumah, laporan PBB juga memasukkan data limbah makanan di restoran dan toko, yang mengambil bagian 17% dari semua makanan yang dibuang. Beberapa makanan yang dibuang lainnya terdapat di pertanian dan juga dalam rantai pasokan, yang berarti bahwa secara keseluruhan sepertiga makanan tidak pernah dimakan.

Sisa makanan yang dihitung ini adalah termasuk bagian yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan, seperti kulit dan tulang. Perbandingan di beberapa negara berpenghasilan tinggi mencapai 50:50, namun tidak diketahui pada negara-negara lain.

Sedangkan pada tahun 2019, ditemukan 11% dari semua makanan yang dijual kepada konsumen terbuang percuma di rumah, dengan restoran membuang 5% dan toko makanan membuang 2 %.

Makanan yang terbuang ini sering kali dibandingkan dengan kondisi kelaparan yang ada di beberapa negara, seandainya makanan yang terbuang ini dapat memberi makan mereka. Namun tidak hanya itu, limbah berdampak merusak lingkungan dan menyebabkan polusi global.

Limbah makanan ini terdapat hampir di semua negara, bahkan tidak hanya negara kaya. Sebenarnya tidak ada orang yang membeli makanan dengan tujuan membuangnya tetapi jumlah kecil yang dibuang setiap hari ketika dihitung jumlahnya dari seluruh dunia, maka menjadi sangat significant. Sehingga jika seluruh limbah makanan ini dianggap milik sebuah negara, maka negara itu akan menjadi negara dengan emisi tertinggi ketiga setelah AS dan Tiongkok.

Berikut negara-negara yang terhitung sebagai negara dengan limbah makanan tertinggi menurut sektor, berdasarkan abjad.

Sedikit perbandingan, Indonesia (dengan Surabaya menjadi study area) diperhitungkan membuang makanan di rumah sekitar 77 kg per orang dalam satu tahun. Sedangkan beberapa negara lainnya yang tercatat membuang dalam jumlah makanan (per orang dan per tahun) seperti Nigeria (189 kg), Rwanda (164 kg), China (150 kg), Yunani (142 kg). Atau beberapa negara yang membuang makanan relatif sedikit seperti Rusia (33 kg), .

Meningkatkan Kesadaran Masyarakat

Kesadaran masyarakat dipandang perlu untuk ditingkatkan guna meminimalkan sampah makanan. Beberapa hal yang dapat dilakukan, seperti mengukur porsi nasi/ pasta/ makanan lainnya sebelum disantap, hindari membeli atau menyiapkan makanan dalam porsi terlalu banyak, periksa lemari es sebelum berbelanja, simpan makanan dengan benar, serta tingkatkan keterampilan memasak untuk menggunakan bahan makanan yang tersedia.

Di Inggris, ditemukan bahwa selama lockdown berlangsung, maka diasumsikan semakin banyak waktu yang tersedia untuk perencanaan dan memasak di rumah, akibatnya limbah makanan pun berkurang sebesar 20%. Inggris telah menjadi salah satu dari sedikit negara yang telah mencapai pengurangan secara significant, yaitu berkurang hampir sepertiganya, meskipun limbah makanan secara keseluruhan masih 19% pada November 2020.

Selain perencanaan makanan, maka sampah makanan hendaknya diarahkan untuk dapat dikumpulkan secara terpisah. Dalam hal ini peran serta pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Perlu diperhatikan bahwa kerugian yang ditimbulkan dari limbah makanan ini dapat mencapai tiga kali lipat, sebab bukan hanya makanan yang dibuang, tetapi juga semua sumber daya alam dan keuangan yang digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut.

Sebenarnya walaupun sebagian dari limbah itu tidak dapat dikonsumsi oleh manusia, ada cara-cara yang lebih ramah lingkungan untuk mengelolanya, misalnya dengan mengolahnya menjadi pakan ternak atau menjadi kompos. Karena itu sangat penting untuk dapat memberikan perhatian khusus untuk limbah makanan dari setiap rumah.

Ruth Berliana/VMN/BLJ