Peneliti UNS Hadirkan Telur Asin untuk Penderita Hipertensi, Mengenal Sejarah Telur Asin

(Business Lounge Journal – News)

Baru-baru ini tim peneliti dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo berhasil menciptakan inovasi telur asin yang aman dikonsumsi bagi penderita darah tinggi. Inovasi telur asin rendah sodium ini, letaknya adalah dalam proses penggaraman telur, yaitu sebagaimana biasanya menggunakan garam sodium (NaCl), diganti menjadi kalium klorida (KCl). Seperti diketahui mengkonsumsi garam sodium berlebih bisa mengakibatkan hipertensi dan berhubungan positif dengan risiko stroke. Sementara proses penggaraman telur asin umumnya yang menggunakan garam sodium (NaCl) menyebabkan penumpukan Nacl dalam kuning dan putih telurnya. Jadi dalam penelitian ini penggunaan garam sodium diganti dengan kalium klorida. Di sisi lain, telah diteliti konsumsi KCl mampu menurunkan tekanan darah sitosolik pada tikus hipertensi. Akan tetapi ketika Nacl diganti dengan KCl, maka didapatkan bahwa KCl menyebabkan penurunan kualitas, baik dalam hal warna, aroma, rasa dan tekstur telur asin secara keseluruhan. Untuk solusinya, maka tim peneliti yang terdiri dari tiga dosen Fakultas Pertanian UNS ini menambahkan ekstrak daun jati dalam adonan pengasin sebagai pengganti air. Selain itu diperhatikan juga suhu dan waktu pemanasan di oven.

Nah bicara soal telur asin, jadi penasaran nih asal mulanya makanan unik ini, bagaimana ya sejarahnya telur asin? Telur asin dipercaya berasal dari tradisi Tiongkok dan dipercaya sudah ada sejak abad ke 5 masehi. Hal ini dikuatkan dengan ditemukannya catatan agrikultus Tiongkok Kuno berupa petunjuk cara membuat telur asin dengan merendam telur bebek dalam air asin. Sebenarnya tradisi mengawetkan makanan dengan cara diasinkan ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat negeri tirai bambu tersebut, bukan hanya telur asin, tapi ada banyak makanan lain yang juga diawetkan.

Di Indonesia, menurut para sejarawan, telur asin sudah dikenal sejak zaman kolonial Belanda. Telur asin merupakan makanan hasil kreativitas masyarakat pesisir pulau Jawa yang terpengaruh oleh budaya Tiongkok. Bermula karena mau memanfaatkan garam yang saat itu sedang melimpah, maka lahirlah makanan ini. Memang tidak banyak catatan tentang telur asin, karena ini bukanlah makanan yang biasa dikonsumsi kaum bangsawan, tapi merupakan makanan rakyat. Akan tetapi sekarang telur asin sudah menjadi makanan khas yang diminati segala kalangan. Telur asin yang paling populer di tanah air adalah telur asin Brebes. Sangking populernya, pada akhir tahun lalu, tepatnya Oktober 2020, telur asin Brebes ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kemendikbud Indonesia. Sebelumnya, sudah ada sekitar 1200 lebih kebudayaan Indonesia yang ditetapkan sebagai WBTb dalam kurun waktu 2013-2020. Diantaranya beberapa makanan yang juga ditentukan sebagai WBTb adalah ayam betutu dari Bali, rendang dari Sumatera Barat, dan Kapurung dari Luwu Utara.

RH/VMN/BLJ