Kamu Pilih Bekerja di Kantor atau di Rumah?

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Tanpa terasa budaya bekerja dengan fleksibel telah diterapkan oleh banyak perusahaan selama hampir 1 tahun. Ini membuat para pekerja pun mulai terbiasa dengan cara kerja jarak jauh dan semakin produktif dalam melaksanakannya. Hal ini pun tercermin dari sebuah survei yang dilakukan oleh National Association for Business Economics, sebuah asosiasi internasional Amerika Serikat untuk para ekonom, yang menyatakan bahwa hanya 11 persen perusahaan memiliki rencana mempekerjakan kembali semua karyawan mereka di kantor seperti situasi sebelum pandemi berlangsung.

Tetapi sekitar 65 persen perusahaan telah mengizinkan “sebagian besar” bahkan “semua” karyawannya untuk bekerja dari rumah selama pandemi, dan sekitar setengah dari responden mengatakan mereka berencana untuk terus melanjutkannya hingga pertengahan tahun ini, Namun demikian rata-rata reponden menunjukkan keengganan untuk mengamanatkan kembali para karyawannya ke kantor saat virus masih beredar. Para karyawan pun

Berubahnya cara bekerja para karyawan telah dapat diadaptasi dan bahkan cenderung lebih dipilih sebagai sebuah kebiasaan yang baru. Beberapa karyawan telah dapat merasa sangat nyaman di tempat mereka berada. Hal ini pun diantisipasi oleh beberapa perusahaan di industri teknologi yang telah bersiap menghadapi kemungkinan bilamana para pekerja mereka enggan untuk kembali ke kantor. Hal ini terlihat bagaimana Facebook dan Twitter telah mengumumkan bahwa mereka akan mengijinkan karyawan mereka bekerja dari rumah tanpa batas waktu. Sementara itu, perusahaan induk Google, Alphabet, mengumumkan akan mengizinkan karyawan Google bekerja dari rumah hingga September, kemudian menerapkan hybrid working.

Glassdoor juga membuat sebuah survei pada para karyawannya dan menemukan bahwa kebanyakan mereka merindukan interaksi tatap muka, namun 70% dari mereka lebih menyukai kombinasi antara bekerja dari rumah dan dari kantor. Hal ini timbul dari adanya kekuatiran bagaimana para kolega kerja hanya saling mengenal pada sebatas profile picture atau suara di telepon.

Sebuah survei serupa juga dilakukan oleh perusahaan konsultan PwC dan sampai pada kesimpulan bahwa para eksekutif dan karyawan lebih memilih cara kerja yang berkombinasi pada pasca pandemi dengan lebih banyak fleksibilitas. Namun hanya sedikit yang benar-benar siap untuk sepenuhnya meninggalkan ruang kantor. Mayoritas perusahaan juga sedang mengembangkan hybrid working dengan sistematika kerja beberapa hari dari rumah dan bekerja di kantor pada hari lain.

Sepertinya, selain mempersiapkan teknologi yang dapat mengakomodir cara kerja jarak jauh, perusahaan juga perlu mengkaji bilamana cara kerja tanpa tatap muka dapat tetap membangun lingkungan kerja yang positif dan tetap dapat membantu para atasan untuk memotivasi tim dan anak buahnya. Sehingga semua memiliki perkembangan kinerja yang baik.

RB/VMN/BLJ