Pro dan Kontra Vitamin D Cegah COVID-19

(Busisness Lounge Journal – Medicine)

Pro dan kontra Vitamin D cegah COVID-19 telah menjadi buah bibir selama pandemi berlangsung. Di mana-mana di Indonesia bahkan di seluruh dunia, vitamin D sangat laris manis bahkan hingga sulit didapatkan di apotik maupun melalui online. Vitamin D diyakini dapat membantu mencegah infeksi virus SARS-COV2 penyebab COVID-19. Yuk kita bahas seputar pro dan kontra Vitamin D ini. 

Apakah Vitamin D Itu?

Vitamin D sebenarnya adalah pre-hormon atau disebut juga vitamin steroid yang membantuk penyerapan usus dan metabolisme kalsium dan fosfor. Vitamin yang beredar adalah Vitamin D3, nama lainnya adalah Cholecalciferol. Kadar vitamin D dalam darah ditentukan oleh:

– Usia. Usia lanjut berbeda dengan anak-anak
– Warna Kulit, semakin gelap semakin sulit menyerap vitamin D
– Bagi wanita kondisi kehamilan ataukah kondisi sudah menopause akan berbeda kadarnya
– Adanya sindrom malabsorpsi atau tidak
– Obesitas
– Aktivitas diluar rumah atau gedung
– Diet makanan yang mengandung ikan dan produk susu.

Vitamin D di dalam darah harus diukur dengan pemeriksaan laboratorium. Hal ini penting untk mengetahui kadarnya di dalam darah, dengan kadar normalnya adalah 80-100 ng/ml. Menentukan dosis yang sama bagi semua orang adalah tidak benar. Bila seseorang mengalami defisiensi vitamin D, memberikan dosis yang diperlukan akan berbeda-beda tergantung pada kadar vitamin D orang tersebut di dalam darah. Sebaiknya hasil pemeriksaan laboratorium Anda didiskusikan dengan dokter pribadi Anda lebih dulu.

Prof Dr Budi Setiabudiawan dr SpA(K), ahli Alergi Imunologi Anak Indonesia pada bulan Juli 2020 mengatakan bahwa di Indonesia ada beberapa kelompok yang mengalami defisiensi vitamin D, yaitu:

– Kelompok usia lanjut (78,2 %)
– Wanita dengan rentang usia 18-40 tahun (63%)
– Anak-anak usia 6 bulan hingga 12 tahun (44%)
– Ibu hamil (61.25%)

Penelitian Tentang Vitamin D dan COVID-19

Study yang menghubungkan infeksi SARS-COV2 dengan vitamin D telah dilakukan selama pandemi di seluruh dunia. Berikut ini adalah beberapa study yang terkait antara vitamin D dan COVID-19.

  1. Study Kohort Restrospektif Fakultas Kedokteran Universitas Chicago terhadap 489 pasien menemukan hubungan antara kekurangan vitamin D dan risiko berkembangnya COVID-19. Ditemukan bahwa bahwa mereka yang memiliki vitamin D kurang dari 20 ng/ml darah 1,77 kali lebih mungkin positif COVID-19 dibandingkan mereka yang normal.

  2. Meta-analisis dari 40 studi penelitian tahun 2020 menemukan bahwa vitamin D dosis harian dalam jangka panjang tampaknya melindungi terhadap infeksi saluran pernapasan akut.

  3. Studi acak kecil Trusted Source dari University of Grenada di Spanyol menemukan bahwa dari 50 orang dengan COVID-19 yang diobati dengan kalsifediol, sejenis vitamin D, satu orang harus dirawat di ICU, sementara 13 dari 26 orang yang tidak diobati harus masuk ke ICU. secara signifikan mengurangi kebutuhan perawatan ICU pada pasien yang membutuhkan rawat inap karena terbukti COVID-19,” penulis penelitian menyimpulkan.

  4. Luigi Gennari, seorang profesor di departemen kedokteran, bedah, dan ilmu saraf di Universitas Siena di Italia, mempresentasikan data pada pertemuan American Society for Bone and Mineral Research yang menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara tingkat vitamin D yang rendah dan risiko infeksi COVID-19 yang lebih serius. Para peneliti Italia mengatakan bahwa orang yang dirawat di ICU di Rumah Sakit San Luca di Milan dengan gejala COVID-19 yang parah memiliki tingkat 25-hidroksivitamin D yang lebih rendah dan tingkat interleukin-6 yang lebih tinggi (protein yang diproduksi oleh tubuh yang terkait dengan peradangan). dibandingkan mereka yang dirawat di rumah sakit dengan gejala yang lebih ringan (non-ICU). Orang yang meninggal karena COVID-19 di rumah sakit juga lebih mungkin memiliki tingkat vitamin D yang lebih rendah daripada mereka yang selamat, studi tersebut menemukan.

Sedangkan pendapat yang kontra mengatakan bahwa penelitian mengenai keterkaitan vitamin D dengan COVID-19 masih kurang dan tidak dapat dijadikan acuan untuk pemberian bagi pasien COVID-19. Jurnal medis The Lancet Diabetes & Endocrinology mengangkat hasil temuan dari uji klinis secara random D-Health di Australia yang menunjukkan bahwa dosis bulanan Vitamin D tidak mengurangi risiko bertambah parahnya infeksi saluran napas akut. Uji klinis ini dilakukan terhadap lebih dari 20.000 orang dewasa Australia dari populasi umum. Penulis di MedRxiv, menulis tinjauan sistematis dan meta-analisis berdasarkan data agregat dari uji coba, termasuk data dari uji coba D-Health, menyimpulkan bahwa suplementasi vitamin D aman dan mengidentifikasi efek kecil sehubungan dengan perlindungan dari infeksi saluran napas akut. Dosis vitamin D yang diberikan 400-1000 IU per hari selama 12 bulan.

National Institute for Health and Care Excellence (NICE), bekerja sama dengan Kesehatan Masyarakat Inggris dan Komite Penasihat Ilmiah untuk Nutrisi, pada tanggal 17 Desember 2020, menerbitkan tinjauan studi terbaru tentang vitamin D dan COVID-19. Mereka merekomendasi setiap orang untuk mengonsumsi suplemen vitamin D untuk menjaga kesehatan tulang dan otot selama musim gugur dan musim dingin. Rekomendasi ini sejalan dengan panduan pemerintah Inggris, yang dirilis pada 22 Desember 2020. Inggris memberikan orang yang sangat rentan secara klinis untuk menerima pasokan suplemen vitamin D harian dengan cuma-cuma selama 4 bulan. Hal yang sama juga dilakukan pemerintah Skotlandia.

Namun rata-rata manusia di seluruh dunia, dengan atau tanpa COVID-19 memang kekurangan vitamin D, dibawah 20 ng/ml. Vitamin D sendiri memiliki banyak manfaat untuk tulang, otot dan jantung serta menghindarkan risiko terkena kanker. Dengan demikian menurut penulis tidak ada salahnya mengkonsumsi vitamin D bahkan hingga 5000 IU per hari. Khususnya bagi orang yang telah berusia di atas 50 tahun dapat lebih mengandalkan supplemen. Sedangkan bagi anak-anak muda dapat memanfaatkan sinar matahari pagi untuk memperoleh vitamin D. Vit D dalam darah sebaiknya berada di rentang 80-100ng/ml.

dr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BLJ Editor in Chief, Coordinating Partner of Management & Technology Services, Vibiz Consulting