Ct Value RT PCR, Pentingkah?

(Business Lounge Journal – Medicine)

Ct Value menjadi sesuatu yang pro dan kontra dalam dunia kedokteran untuk mempertimbangkan kondisi medis dan manajemen pasien COVID-19. Bagi pasien sendiri hal ini menjadi sesuatu yang membingungkan karena kurangnya penjelasan mengenai Ct Value.

Apakah itu Ct Value

Untuk memastikan apakah seseorang menderita COVID-19 maka pemeriksaan real time (RT) PCR harus dilakukan. Metode PCR yang dilakukan dengan cara usap (swab) hidung dan tenggorokan ini biasanya akan keluar dalam waktu 24 jam hingga 5 hari. Tergantung di tempat mana Anda memeriksakan diri dan harganya pun masih beragam walaupun pemerintah telah menetapkan harga tertinggi adalah sembilan ratus ribu rupiah.

Real time PCR assay yang positif terdeteksi melalui akumulasi dari sinyal fluoresens yang mencapai ambang tertentu. Biasanya pada hasil PCR akan tertulis gen/DNA dari virus SARS-COV2 beserta dengan nilai Cycle Threshold (Ct Value). Ct Value didefinisikan sebagai jumlah siklus yang dibutuhkan untuk sinyal fluoresens melintasi ambang. Singkatnya Ct Value adalah nilai batas ambang siklus. Nama lainnya dari Ct Value adalah:

  • Cp – crossing point

  • TOP – take-off point

  • Cq – quantification cycle

Ct Value adalah berbanding terbalik dengan jumlah target asam nukleat (DNA/RNA) dalam sampel yang diambil dari pasien. Berbanding terbalik disini artinya bila jumlah target asam nukleat virus yang terdeteksi tinggi maka semakin rendah Ct Value dan sebaliknya. Rata-rata standar siklus dari RT PCR adalah 40 siklus. Pada beberapa jenis pemeriksaan RT PCR nilainya bervariasi dari 33 hingga 40. Gen yang diperiksa adalah E gene (enveloprotein) yang bersifat umum, dapat ditemukan di semua Coronavirus dan RdRP (RNA Polimerase yang bergantung pada RNA) atau gen N atau ORF 1a/1b yang bersifat spesifik untuk SARS-COV2.

Melihat Nilai Ct

Sesuatu tidak akan ditulis bila tidak bermanfaat. Dengan perbandingan terbalik di atas maka Ct Value dapat menentukan bahwa sebenarnya seseorang yang terkena COVID-19 ini bagaimana penularannya terhadap orang lain dan juga bagaimana viral load di dalam tubuh orang tersebut. Viral load adalah jumlah virus yang ada di dalam tubuh. Semakin tinggi viral load, semakin tinggi penularannya dan semakin dapat menimbulkan gejala yang lebih berat karena jumlah virus yang lebih banyak. Walaupun untuk gejala tetap tergantung pada imunitas seseorang. Jadi Ct Value menunjukkan kondisi infeksi seseorang dan juga penularannya dalam lingkungan.

Sebagai contoh, seseorang yang memiliki Ct Value 11 misalnya akan sangat menularkan pada orang lain dibandingkan dengan yang Ct Valuenya 33. Dan mereka yang Ct Valuenya tinggi seringkali tidak memiliki gejala apapun yang terlihat. Untuk Ct Value dengan nilai siklus maksimum 40, patokan berikut ini dapat kita gunakan.

Ct Value < 29 adalah reaksi positif kuat

Ct Value antara 30-37 adalah reaksi positif sedang

Ct Value antara 38-40 adalah reaksi positif ringan

Manajemen Pasien dan Ct Value

Kontra dari Ct Value ini adalah bahwa banyak hal dapat mempengaruhi nilai Ct Value sehingga tidak dapat dijadikan standar acuan dalam menangani pasien COVID-19. Faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah:

  • Jenis perangkat pemeriksaan yang berbeda-beda

  • Teknik pengambilan sampel

  • Suhu dan durasi pengangkutan sampel

  • Lokasi pengambilan sampel yang berbeda bisa berbeda hasil

RT PCR sendiri tidak dapat memastikan apakah DNA/RNA virus yang ditemukan dalam pemeriksaan adalah virus hidup atau virus yang sudah mati.

Berbicara mengenai penelitian mengenai Ct Value, masih belum mendalam di dunia medis. Namun, bagi seorang klinisi, kondisi klinis pasien adalah jauh lebih penting untuk manajemen pasien daripada melihat Ct Value. Pada beberapa pasien yang saya temui, Ct value-nya sangat rendah tapi tidak memiliki gejala apapun dan sehat-sehat saja. Berapapun Ct Value Anda, tetap harus mengisolasi diri dan menjaga agar tidak menularkan orang lain. Jangan menganggap diri aman dan berkeliaran karena nilai Ct Value Anda tinggi.

Kondisi klinis seseorang dipengaruhi bukan hanya oleh viral load namun juga oleh respons penderita terhadap infeksi, faktor imunitasnya, adanya penyakit penyerta (komorbiditas). Itu sebabnya Ct Value tidak dapat dijadikan patokan dalam manajemen pasien dan dalam menentukan prognosis (prospek kesembuhan pasien).

dr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BLJ Editor in Chief, Coordinating Partner of Management & Technology Services, Vibiz Consulting