Part II: Hindari Hal-Hal Ini Saat Memulai Bisnis Startup

(Business Lounge Journal – Entrepreneurship)

Paling penting eksekusi, bukan hipotesa, testing, learning dan mencoba berulang kali.

Budaya dalam bisnis startup adalah budaya yang cepat, “selesaikan dan selesaikan dengan cepat!” Namun harus dipahami startup adalah bisnis yang sedang mencari, menemukan bisnis baru yang menguntungkan dan sustainable. Sementara perusahaan mapan menjalankan model bisnis dengan pelanggan, masalah, dan fitur produk yang diperlukan semuanya sudah diketahui. Startup perlu beroperasi dalam mode “pencarian” saat mereka menguji dan membuktikan setiap hipotesis awal mereka. Mereka belajar dari hasil setiap pengujian, menyempurnakan hipotesis dan menguji lagi, semuanya mencari model bisnis yang sustainable, terukur, dan menguntungkan. Dalam praktiknya, startup dimulai dengan serangkaian hipotesis awal, yang sebagian besar akan berakhir dengan kesalahan. Oleh karena itu, fokus pada pelaksanaan dan pengiriman produk atau layanan berdasarkan hipotesis awal yang belum teruji tersebut berpotensi menimbulkan kerugian dan tidak sesuai dengan strategi bisnis startup.

Jadi dalam bisnis startup bukan eksekusi yang pertama dilakukan, tetapi hipotesa, testing, learning, dan mencoba berulang kali. Kemampuan untuk belajar dari kesalahan dalam melangkah akan membedakan startup yang sukses.

Penggunaan Business Plan tradisional yang tidak memasukan aspek trial dan error

Startup tujuannya berbeda dengan perusahaan yang sudah mapan, startup masih berusaha menemukan model bisnis yang sesuai dengan ide mereka dan bisa sustainable. Alasan inilah yang membuat bahwa rencana bisnis yang diterapkan oleh perusahaan yang sudah mapan tidak bisa diterapkan oleh startup.

Sebagian besar startup hanya meminjam jabatan pekerjaan dari perusahaan mapan. Tapi ingat, ini adalah pekerjaan di organisasi yang menjalankan model bisnis yang sudah dikenal. Jabatan Sales Team di perusahaan yang sudah ada mencerminkan tim yang berulang kali menjual produk yang dikenal ke sekelompok pelanggan yang dipahami dengan baik dengan presentasi, harga, syarat, dan ketentuan standar. Startup menurut definisi memiliki sedikit informasi dari elemen-elemen bisnis tersebut. Faktanya, mereka sedang mencari semua elemen bisnis ini!

Karena target pelanggan, spesifikasi produk, dan presentasi produk dapat berubah setiap hari, eksekutif startup tahap awal membutuhkan keterampilan yang sangat berbeda dari eksekutif yang bekerja di perusahaan mapan yang menjual produk atau ekstensi lini yang sudah mapan. Tuntutan penemuan pelanggan membutuhkan orang-orang yang merasa nyaman dengan perubahan, kekacauan, dan belajar dari kegagalan dan merasa nyaman bekerja dalam situasi yang berisiko dan tidak stabil tanpa peta jalan. Singkatnya, startup harus menyambut baik jabatan langka yang umumnya dikenal sebagai entrepreneur. Mereka terbuka untuk pembelajaran dan penemuan — sangat ingin tahu, dan kreatif. Mereka harus bersemangat untuk mencari model bisnis yang dapat dijalankan terus dan skalabel. Cukup gesit untuk menghadapi perubahan dan pengoperasian harian, “tanpa road map.” Siap memakai banyak topi jabatan, sering kali pada hari yang sama, dengan biasa merayakan kegagalan saat itu mengarah pada pembelajaran dan pengulangan.

Fadjar Ari Dewanto/Editor in Chief VMN/BL/Coordinating Partner of Business Advisory Services Division, Vibiz Consulting