Vaksin dan Terapi Plasma Konvalesen, Mana Lebih Baik?

(Business Lounge Journal – Medicine)

Pada Selasa, 12 Januari 2021 kasus positif terinfeksi Covid-19 bertambah sebanyak 10.047  kasus menjadi total 846.765 kasus positif akumulatif. Sedangkan pertambahan kasus meninggal, dari bertambah sebanyak 302 orang menjadi 24.645 orang. Tiga provinsi tertinggi pertambahannya adalah Jakarta 2.669 kasus, Jabar 1.540 kasus dan Jateng 1.323 kasus.

Ditengah naiknya angka COVID-19 di Indoesia, semakin ramainya pembicaraan mengenai vaksin sangat mendominasi pembicaraan di media sosial akhir-akhir ini. Beredar gambar-gambar bertuliskan “Saya siap divaksin” namun juga ada yang mengatakan menolak divaksin. Rabu, 13 Januari 2021 Indonesia memulai momentum vaksin dengan Presiden Jokowi menerima vaksin pertama, dilanjutkan dengan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Vaksin atau Terapi Plasma Konvalesen?

Muncul pertanyaan hari-hari ini adakah alternatif lain selain divaksin? Bagaimana dengan plasma konvalesen? Mari kita lihat kesamaan dan perbedaan keduanya. Kesamaan keduanya adalah sama-sama membangkitkan sistem imunitas tubuh manusia untuk bertahan dan menang terhadap paparan virus, bakteri, atau mikroba.

Imunisasi adalah proses proteksi atau perlindungan terhadap suatu penyakit. Imunisasi dibagi menjadi yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Perbedaan keduanya ada pada hal ini. Vaksin adalah imunisasi aktif. Vaksin bekerja dengan membuat tubuh aktif untuk membuat antibodi yang bersifat melindungi dan membangun resistensi untuk mencegah terjadinya infeksi dari bakteri, virus, atau mikroba penyebab sakit. Antibodi yang merupakan protein dalam darah akan mampu mengikat antigen dan menghancurkan virus, bakteri atau mikroba. Vaksin dapat melindungi dari terjadinya infeksi ulang atau reinfeksi untuk jangka waktu yang cukup panjang, tergantung dari masing-masing vaksin tentunya. Untuk vaksin COVID-19 masih diperlukan waktu yang panjang untuk menilai apakah booster diperlukan atau tidak nantinya.

Sedangkan plasma konvalesen sesungguhnya adalah imunisasi pasif. Artinya imunitas seseorang akan berkembang ketika diberikan antibodi dari orang lain melalui plasma darah orang yang sudah terinfeksi dan sembuh dari penyakit tersebut. Imunitas yang dihasilkan oleh plasma konvalesen tidak tahan lama. Bisa bertahan hanya dalam hitungan minggu hingga bulan. Tidak menjamin tubuh akan mampu melawan infeksi yang berulang. Hal ini membuat plasma konvalesen lebih cocok dijadikan terapi untuk orang yang telah terinfeksi agar tidak menjadi lebih berat dan menolong proses penyembuhannya.

Mana yang Lebih Baik?

Belum ada penelitian perbandingan yang valid antara keduanya. Dari sisi terapi jelas plasma konvalesen telah terbukti selama 100 tahun dalam melawan penyakit seperti Spanish Flu, pada 1918, flu babi, SARS dan MERS. Namun jelas fungsinya berbeda. Vaksin adalah untuk orang sehat yang belum terinfeksi dan plasma konvalesen saat ini adalah untuk terapi orang yang sudah terinfeksi COVID-19.

Pada terapi plasma konvalesen untuk COVID-19, menurut testimoni banyak dokter di seluruh dunia, mereka melihat pasien-pasien yang diberikan plasma konvalesen pada hari ketiga sakit membaik dengan sangat cepat dan pada orang-orang tua juga membuat penyakit mereka tidak bertambah memberat. Salah satunya adalah  Larry Dumont, Direktur Research dan Scientific Programs dari Badan Donasi Darah Vitalant, Colorado mengatakan, pasien-pasien yang menerima transfusi plasma konvalesen sebagai “Lazarus patients”. Ia melihat orang-orang sembuh dengan dramatis setelah menerima transfusi padahal datang dalam kondisi buruk. “Mereka datang dalam kondisi sangat buruk dan mereka diberikan transfusi lalu mereka berjalan meninggalkan rumah sakit dalam dua hari”, demikian Larry mengatakan. Walaupun ia juga mengakui bahwa pengalamannya bukanlah bukti sains.

dr. Vera Herlina,S.E.,M.M/VMN/BL/Editor in Chief, Coordinating Partner of Management & Technology Services, Vibiz Consulting