Part I : Hindari Hal-Hal Ini Saat Memulai Bisnis Startup

(Business Lounge Journal – Entrepreneurship)

Penting bagi sebuah startup mengetahui hal apa saja yang perlu dihindari saat ingin memulai sebuah bisnis agar tidak menghabiskan biaya, waktu, dan tenaga. Banyak startup akhirnya terhenti dan tidak berlanjut lagi karena tidak belajar dengan benar untuk memulai sebuah bisnis.

Yakin Diri : “Apa yang Diinginkan Pelanggan Jelas buat Saya”

Pertama adalah keyakinan teguh seorang founder bahwa dia memahami siapa pelanggan nantinya, apa yang mereka butuhkan, dan cara menjualnya kepada mereka. Hari pertama memulai sebuah bisnis, sebuah startup rata-rata tidak memiliki pelanggan, founder hanya dapat menebak pelanggan, masalahnya, dan model bisnisnya. Namun metodologi tradisional telah membuat para founder mengambil banyak model bisnis ini sebagai fakta dan mulai merancang produk dan mulai mengeluarkan uang untuk membangunnya sebelum berbicara dengan satu orang pelanggan.

On the First Day, a startup is a sense-based…”

Model pengenalan produk baru digambarkan dengan tahapan sederhana Concept, Development, Testing Launch. Produk baru bergerak dari pengembangan ke pengujian pelanggan dan menggunakan umpan balik dari pengujian awal ini, teknisi produk memperbaiki kesalahan teknis dalam produk hingga tanggal peluncuran produk dan pengiriman pelanggan pertama. Model pengenalan produk baru ini cocok untuk perusahaan yang sudah berjalan dengan pelanggan yang dikenal, fitur produk dapat ditentukan sebelumnya, pasar ditentukan dengan baik, dan dasar persaingan dipahami. Tapi untuk startup tidaklah bisa dilakukan karena belum memiliki pelanggan dan juga dapat membawa kerugian besar bila dilakukan.

“Agar berhasil, seorang founder perlu mengubah keyakinannya menjadi fakta dengan menanyakan pelanggan apakah dia benar, dan dengan cepat mengubahnya.”

“Yakin dengan Fitur Produk & Jasa yang akan Dihasilkan”

Asumsi kedua secara implisit didorong oleh yang pertama. Founder, dengan anggapan bahwa mereka mengenal pelanggan mereka, menganggap mereka mengetahui semua fitur yang dibutuhkan pelanggan. Kemudian menentukan, merancang, dan membuat produk berfitur lengkap menggunakan produk klasik. Metode pengembangan produk tanpa pernah melakukan penelitian kepada calon pelanggan. Tapi tunggu — bukankah itu yang harus dilakukan oleh para pemula? Tidak — itulah yang dilakukan perusahaan dengan pelanggan yang sudah ada.

… tidak diketahui apakah fitur tersebut menarik bagi pelanggan.

Tanpa kontak pelanggan langsung, tidak diketahui apakah fitur menarik bagi pelanggan dan biasanya kita perlu proses bertanya berulang kali untuk memastikan fitur yang kita siapkan ini menarik. Memperbaiki kesalahan karena salah untuk menentukan sebuah produk akan tak terhindarkan setelah membangun dan mengirimkan seluruh produk mahal dan memakan waktu, jika tidak mematikan.

Ini dapat membuat produk menjadi usang saat diluncurkan. Lebih buruk lagi, hal itu sering kali menyebabkan pemborosan yang besar, dengan ratusan jam kerja yang terabaikan, ketika pelanggan mengatakan bahwa fitur baru bukanlah yang mereka pedulikan. Ironisnya, para pemula sering kali terhambat oleh metodologi yang secara tradisional mereka gunakan untuk membuat produk baru.

Fokus pada Tanggal Peluncuran”

Model pengenalan produk tradisional berfokus pada teknik, penjualan, dan pemasaran pada tanggal peluncuran (launching date) yang sangat penting dan tak tergoyahkan. Pemasaran mencoba untuk memilih sebuah “acara” (pameran dagang, konferensi, blog, dll.) sebagai wadah di mana mereka dapat “meluncurkan” produk dan jasa.

Para eksekutif melihat tanggal dan kalender tersebut, bekerja mundur untuk berhasil pada hari produk diluncurkan. Baik manajemen maupun investor tidak mentolerir “kesalahan” yang mengakibatkan penundaan.

Untuk startup peluncuran produk dan tanggal pengiriman pelanggan pertama harusnya adalah tanggal ketika tim pengembangan produk menganggap rilis pertama produk sudah “selesai”, yaitu ketika perusahaan memahami pelanggannya atau bagaimana memasarkan atau menjual kepada mereka. Jadi sebelum hal itu terjadi tidak perlu memikirkan launching date, karena kebanyakan akan membentur dengan kegagalan produk dan jasa.

Sudah cukupkah tiga hal yang patut dihindari bagi perusahaan startup ketika hendak memulai sebuah bisnis? Bila hal ini dilakukan sudah menjadi permulaan yang baik dalam memulai bisnis. Namun saya akan hadir lagi dalam tulisan lanjutan, apa saja yang harus dihindari saat memulai bisnis startup.

Fadjar Ari Dewanto/Editor in Chief VMN/BL/Coordinating Partner of Business Advisory Services Division, Vibiz Consulting