Satu Lagi! Penelitian Vaksin COVID-19 yang Berbeda Cara Kerjanya!

(Business Lounge Journal – News and Insight)

COVID-19 telah membangkitkan semangat penelitian para peneliti di seluruh dunia. Berbagai negara berlomba-lomba membuat vaksin dan obat untuk COVID-19. Amerika adalah salah satu negara yang memiliki banyak penelitian dan penelitian yang satu ini sangat menarik!

Dimulai Maret 2020

Universitas Virginia di Amerika turut serta dalam penelitian pengobatan dan pembuatan vaksin COVID-19, terlebih ketika angka penderita COVID-19 semakin meningkat di Virgina. Dimulai pada Maret 2020, Wakil Ketua Penelitian Universitas Virginia, Dr. William Petri mengatakan “Anda memiliki masalah penting dan Anda ingin mengerjakannya dari berbagai sudut yang Anda bisa. Hasil akhir yang kita semua inginkan adalah mendapatkan vaksin yang melindungi orang.”

Kini di bulan Desember 2020, penelitian itu berbuah dengan menghasilkan 2 hal baru yaitu yang pertama vaksin yang telah terbukti 100% efektif pada tikus dan yang kedua adalah proyek pengobatan imunoterapi untuk pasien COVID-19. Virgia sendiri telah melakukan vaksinasi Pfizer di Norfolk Virginia sejak 15 Desember 2020 dan vaksin ini dipasarkan oleh Universitas Charlottesville.

Perbedaan dengan Vaksin Pfizer dan Moderna

Dr. William Petri dan tim dalam penelitian akademis ini berharap vaksin mereka bisa menjadi pelengkap vaksin lain, atau bahkan menjadi yang lebih baik. Lalu apa perbedaan vaksin yang mereka teliti dengan Vaksin Pfizer dan Moderna? Ada tiga perbedaan dari Vaksin Universitas Virginia ini.

1. Perbedaan Metode

Vaksin Pfizer dan Moderna sama-sama menggunakan m-RNA, suatu metode baru yang memicu sel membuat protein yang dapat menghasilkan respons imun terhadap virus corona serta tidak memasukkan virus yang dilemahkan ke dalam tubuh kita.

Sedangkan dr. William Petri dan tim menggunakan apa yang disebut adjuvan, yaitu memberikan orang protein secara langsung yang dapat merangsang respons imun yang kuat tanpa memicu sel untuk membuat sendiri protein seperti yang dilakukan oleh mRNA . Adjuvan vaksin berasal dari Institut Penelitian Penyakit Menular di Seattle. Adjuvan membantu mengaktifkan reseptor yang ada pada sel di seluruh tubuh kita. Mereka memberi tahu tubuh kita bahwa mereka diserang oleh mikroorganisme.

Pada tanggal 23 Desember 2020, dr. William Petri mengatakan bahwa ini adalah dua pendekatan yang berbeda dengan tujuan yang sama, yaitu membuat respons antibodi yang tinggi yang seharusnya mampu melindungi dari infeksi. Vaksin ini dirancang untuk memperoleh kekebalan yang sangat tahan lama, yang tentunya memerlukan waktu panjang untuk mengujinya.

2. Perbedaan suhu penyimpanan vaksin

Perbedaan lainnya adalah vaksin ini dapat disimpan pada suhu kamar, tidak seperti vaksin Pfizer, yang membutuhkan suhu sangat dingin. Keuntungannya adalah hal ini akan mempermudah proses pengangkutan dan pendistribusian vaksin. V yang mempersulit pengangkutan

3. Cara pemberian

Diberikan melalui hidung, tidak memerlukan jarum suntik.

Tahap Uji

Vaksin ini baru memasuki tahap pra-klinik ketika dr. William Petri dan tim telah menyelesaikan percobaan pada tikus dengan 10 ekor tikus diteteskan vaksin sedangkan ada 10 tikus lain yang tidak menerima vaksin lalu kedua kelompok tikus disuntiikan virus COVID-19. Hasilnya 100% efektif yaitu semua yang diberikan vaksin tidak ada yang sakit. Percobaan ini masih perlu diulang untuk verifikasi hasil lalu dilanjutkan dengan percobaan pada primata barulah diputuskan apakah dapat memasuki fase clinical trial pada manusia.

Penelitian ini membutuhkan ratusan ribu dolar. Dr. William Petri dan tim telah mengajukan permohonan untuk hibah federal dan menerima sejumlah dana dari yayasan lokal.

Penelitian demi penelitian telah membuktikan bahwa manusia tidak menyerah menghadapi pandemi. Inilah kehebatan manusia yang terus berusaha berpikir dan mencari solusi. Kita harapkan akan semakin berkembang pengobatan dan vaksin untuk COVID-19 dan dunia dapat terbebas dari pandemi.

VH/VMN/BLJ