Mercer: WFH Dapat Timbulkan Penghematan Gaji Hingga 14juta Rupiah per Bulan

(Business Lounge Journal – News and Inisght)

Mercer melakukan sebuah survei dan menemukan bahwa sebelum pandemi diyakini hanya 45% tenaga kerja dapat beradaptasi dengan dunia kerja yang menganut fleksibilitas. Tetapi setelah mulai terbiasa bekerja dari rumah sejak Covid-19 merebak, lebih dari 90% organisasi ternyata ingin menerapkan kebijakan kerja fleksibel mereka pada skala yang lebih besar daripada sebelum pandemi.

Mercer pun kemudian melakukan research apakah kompensasi untuk karyawan akan mengalami penyesuaian, bila Working from Home menjadi sebuah opsi dalam bekerja. Dalam riset tersebut, Mercer memperthitungkan bahwa kompensasi pada dasarnya dipengaruhi oleh harga dari seorang talent di market yang mempertimbangkan biaya tenaga kerja dan biaya hidup pada daerah tersebut. Namun dengan menerapkan Working from Home, maka biaya hidup otomatis akan mengalami penyesuaian. Sebab karyawan tidak akan mengeluarkan biaya untuk transportasi, parkir, atau beberapa hal yang terkait dengan pekerjaannya. Selain itu juga terdapat pengurangan dalam masalah waktu, sebab karyawan tidak perlu menyediakan waktu untuk perjalanan pergi dan pulang kantor. Tetapi di sisi lain, ada biaya yang juga bertambah seperti biaya internet, telepon, dan listrik yang juga harus dipertimbangkan.

Untuk hal ini, Mercer membuat sebuah research dengan metode yang mereka sebut “All Things Considered” – segala sesuatu diperhitungkan. Dalam research ini Mercer mencoba untuk mengkaji dampak bekerja dari rumah terhadap gaji bersih karyawan dengan membuat sebuah model yang mencerminkan potensi penghematan karyawan dalam kerangka kerja dari rumah di sepuluh kota besar di Amerika Serikat. Mercer berfokus pada penghematan per karyawan (bukan per keluarga) yang didorong oleh biaya yang dikeluarkan ketika karyawan bekerja di kantor, seperti perjalanan pulang pergi dan biaya makan. Berdasarkan analisis tersebut, maka ditemukan bahwa karyawan di kota-kota besar tersebut mengalami penghematan biaya antara $ 220 dan $ 1.000 per bulan (setara dengan 3 juta hingga 14juta rupiah) dalam setahun.

Berikut adalah sebuah skenario penghematan bervariasi dari beberapa kota di Amerika dengan mempertimbangkan beberapa variabel (tidak termasuk pajak utama) yang terkait dengan bekerja di lokasi kantor.

Beberapa pertimbangan dari model di atas:

  • Semua jumlah di atas merupakan total penghematan per bulan.
  • Semua pengeluaran untuk karyawan saja, yaitu angka hanya berlaku untuk pengeluaran individu karyawan untuk diri mereka sendiri.
  • Model dikembangkan berdasarkan profil pengeluaran rata-rata dari konsumen AS, bersumber dari data terbaru yang tersedia dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS.
  • Penyesuaian diterapkan untuk memilih barang dan jasa yang secara langsung dipengaruhi oleh status bekerja penuh dari rumah saja dan bukan oleh pandemi COVID-19.

Sehingga dapat kita perkirakan bagi seorang karyawan yang mengendarai mobil di New York dan memutuskan untuk bekerja dari rumah, dapat menghemat hingga US $999 (setara dengan lebih dari 14 juta rupiah).

Tidaklah mengherankan bahwa peluang penghematan tertinggi adalah bagi karyawan yang berkantor di New York City. Para karyawan ini selanjutnya dapat meningkatkan penghematan tersebut dengan pindah dari area New York City ke negara bagian yang lain. Dengan kata lain, angka penghematan ini hanyalah permulaan untuk memahami potensi penghematan biaya sepenuhnya dari Work from Home. Penghematan ini bisa berkisar tetapi signifikan, dengan kisaran mulai dari $ 2.700 (setara dengan 38 juta rupiah) hingga hampir $ 12.000 (setara dengan 169juta) per tahun. Ada beberapa negara bagian AS yang manfaat pajak ini lebih terlihat daripada yang lain, misalnya — Texas, Florida, Washington, South Dakota, Nevada, dan Wyoming adalah semua negara bagian yang telah memilih untuk tidak memungut pajak penghasilan perorangan.

RB/BLJ/VMN